Kita tinggalkan dahulu Simardan yang sedang berjuang menyelamatkan perahu dan seluruh penumpangnya dari amukan badai.
Begitu pula dengan Raja Rompak yang tercebur ke laut setelah dijatuhkan Badogol. Di tengah gelapnya malam, ia masih berjuang menyelamatkan diri dari ganasnya gelombang Selat Besar atau Selat Malaka.
Keduanya berada di perairan yang berbeda, meski masih dalam hamparan Selat Besar yang malam itu sedang mengamuk.
Untuk sementara, mari kita tinggalkan laut yang bergelora itu dan kembali ke daratan.
Jauh di sebelah selatan dari posisi Simardan, di sebuah teluk di tepian Aek Doras, selatan Kampung Tanjung, berdiri sebuah gubuk tua yang nyaris tak pernah didatangi orang.
Di dalam gubuk sederhana itu, seorang perempuan tua berambut panjang yang telah memutih tampak sibuk menyiapkan ramuan rebusan untuk mengobati seorang lelaki paruh baya.
Lelaki itu terbaring di atas lantai bambu, beralaskan tikar tua anyaman daun pandan. Sesekali terdengar erangan kesakitan dari mulutnya.
Bagian perutnya tampak terluka dan telah dibalut menggunakan daun lebar memanjang berwarna kemerahan, sejenis daun bakung yang dipercaya sang perempuan tua dapat membantu mengobati luka.
Perempuan tua itu tak lain adalah emak Simardan.
Meski usianya telah lanjut, gerakannya masih cekatan. Ia mondar-mandir di dalam gubuk kecil tersebut, menyiapkan ramuan, mengambil air, kemudian kembali memeriksa kondisi lelaki yang sedang dirawatnya.
Sejak ditinggalkan putra semata wayangnya, emak Simardan memang hidup menyepi di tempat itu.
Namun, kesunyian yang tampak dari luar ternyata tidak pernah benar-benar dirasakannya.
Di dalam gubuk tua itu, ia ditemani dua ekor hewan yang telah dianggapnya seperti anak sendiri: seekor kera putih dan seekor anjing hitam.
Kera putih itu bernama Si Merdeng, sedangkan anjing hitam bernama Si Mardong.
Si Merdeng tampak tidak pernah bisa diam. Ia melompat dari satu tempat ke tempat lainnya, sesekali bertengger di dekat tingkap kecil gubuk sambil memperhatikan gerak-gerik emak Simardan.
Sementara Si Mardong lebih tenang. Anjing hitam dengan bulu mengilap tanpa belang itu sedang tidur menggulungkan tubuhnya di ambang pintu depan gubuk yang terbuka.
Si Merdeng dan Si Mardong
Si Merdeng bukanlah kera biasa.
Semasa masih bayi, ia ditemukan emak Simardan di sekitar kebunnya. Anak kera itu ditinggalkan induknya karena memiliki warna bulu yang berbeda dari anak-anak kera lainnya.
Secara biologis, warna putih pada hewan dapat berkaitan dengan gangguan pigmentasi, seperti albino, atau kondisi tertentu yang menyebabkan hilangnya pigmen pada kulit dan bulu.
Namun, bagi emak Simardan, semua itu bukanlah persoalan.
Ia menemukan bayi kera tersebut dalam keadaan lemah seorang diri. Dengan penuh kasih sayang, bayi kera itu dipungut, dibawa pulang, kemudian dipelihara seperti anaknya sendiri.
Diberinya nama Si Merdeng.
Tak lama kemudian, emak Simardan juga menemukan seekor anak anjing liar yang terpisah dari induknya. Anak anjing itu tersesat hingga masuk ke kawasan perladangan milik emak Simardan ketika perempuan tua tersebut sedang bekerja seorang diri.
Anjing kecil itu berwarna hitam pekat dengan bulu mengilap.
Ia pun dipelihara dan diberi nama Si Mardong.
Kedua hewan itu kemudian tumbuh besar bersama emak Simardan.
Sejak kecil mereka diberi makan, dimanja, bahkan tidur bersama di atas ranjang tua yang berada di dalam gubuk.
Lama-kelamaan, hubungan ketiganya menjadi begitu dekat.
Mereka memang berbeda jenis dan tidak memiliki bahasa yang sama. Namun, kasih sayang membuat mereka seolah mampu memahami satu sama lain.
Gerakan tubuh, suara, tatapan mata, bahkan perubahan suasana hati emak Simardan dapat dipahami oleh Si Merdeng dan Si Mardong.
Keduanya sangat patuh dan setia kepada perempuan tua yang telah menjadi induk bagi mereka.
Mencari Makanan Bersama
Kehidupan mereka berlangsung sederhana.
Si Merdeng dan Si Mardong bahkan kerap membantu emak Simardan mencari bahan makanan.
Di tepian sungai, mereka mencari udang-udang kecil dan anak-anak ikan yang mudah ditemukan di antara air dan bebatuan.
Untuk sayuran, mereka mengambil dari kebun sendiri atau sesekali mencari bahan dari hutan di sekitar tempat tinggal mereka.
Buah-buahan, umbi-umbian, daun-daunan hingga berbagai bumbu juga mereka dapatkan dari lingkungan sekitar.
Setelah itu, emak Simardan mengolah semuanya menjadi makanan untuk mereka bertiga.
Begitulah kehidupan mereka dari hari ke hari.
Meski sederhana, gubuk tua itu terasa ramai bagi emak Simardan.
Ia telah kehilangan Simardan, anak semata wayang yang sejak lama tidak pernah kembali. Namun, kehadiran Si Merdeng dan Si Mardong sedikit banyak mengisi kekosongan di dalam hatinya.
Lelaki yang Ditemukan di Belakang Gubuk
Lantas, siapakah lelaki paruh baya yang sedang dirawat emak Simardan malam itu?
Ternyata lelaki tersebut bukanlah bagian dari keluarga mereka.
Ia ditemukan dalam keadaan terluka ketika emak Simardan, Si Merdeng, dan Si Mardong baru saja kembali dari ladang.
Saat itu Si Mardong tiba-tiba menyalak berkali-kali.
Indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing.
Emak Simardan mengikuti arah suara anjing tersebut hingga ke bagian belakang halaman gubuk.
Di pojok belakang, mereka menemukan seorang lelaki paruh baya tergeletak dalam keadaan terluka.
Dari lukanya terlihat seperti terkena tusukan benda tajam pada bagian perut.
Dengan susah payah, mereka menarik dan menyeret lelaki itu ke dalam gubuk.
Emak Simardan kemudian merawatnya dengan ramuan tradisional seadanya.
Belakangan diketahui, lelaki tersebut sebenarnya seorang penjahat yang sedang melarikan diri dari kejaran orang-orang Kampung Tanjung.
Warga sedang mengejarnya karena marah atas perbuatan yang telah dilakukannya.
Dalam pelariannya, ia terluka hingga akhirnya terdampar di belakang gubuk emak Simardan.
Tanpa mengetahui siapa sebenarnya lelaki tersebut, emak Simardan tetap menolongnya.
Gubuk yang Mulai Dianggap Angker
Sejak kepergian Simardan, emak Simardan memang memilih hidup jauh dari keramaian.
Namun, tempat tinggalnya perlahan memiliki cerita lain.
Di sekitar gubuk tua itu, warga mulai merasakan suasana yang berbeda.
Konon, emak Simardan tidak hanya ditemani Si Merdeng dan Si Mardong.
Ada pula makhluk-makhluk tak kasatmata yang dipercaya tinggal dan berkeliaran di sekitar kawasan tersebut.
Karena itulah, kawasan gubuk dan kebun emak Simardan perlahan dianggap angker.
Tidak banyak orang yang berani mendekatinya.
Anak-anak maupun penduduk yang tinggal agak jauh dari gubuk tersebut juga mulai enggan mengambil buah-buahan ataupun hasil kebun milik emak Simardan.
Padahal, kebunnya cukup luas dan dipenuhi berbagai jenis tanaman.
Ada rambai, rukam, jambu air, jambu susu, jambu bertih, jambu bol, nangka, cempedak, langsat, manggis, durian, glugur, sentul, namnam, mangga, bacang, mempelam dan berbagai tanaman buah lainnya.
Di sana juga tumbuh berbagai jenis palem, seperti aren, rumbia, kelapa, pinang, hingga asam kelubi.
Namun, suatu hari beberapa anak yang sedang berada dalam usia kenakalan mencoba melanggar pantangan itu.
Pesta Buah di Kebun Emak Simardan
Saat itu musim buah sedang tiba. Pohon-pohon di kebun emak Simardan berbuah lebat.Seorang anak yang terkenal agak lasak dan bandel, lepas dari pengawasan orang tuanya, mengajak teman-temannya untuk mengambil buah dari kebun tersebut.
Mereka datang ketika emak Simardan sedang bekerja di ladang yang letaknya agak jauh dari gubuk.Begitu tiba di kebun, anak-anak itu langsung memanjat pohon-pohon yang sedang berbuah.
Sebagian memetik buah lalu memakannya langsung di atas pohon.Sebagian lainnya menjatuhkan buah ke tanah untuk dipungut setelah turun. Mereka makan sepuas-puasnya.
Hari semakin sore. Setelah merasa cukup, mereka sepakat meninggalkan kebun dan pulang ke rumah masing-masing. Namun, seorang anak ternyata tidak mengikuti kesepakatan itu.
Diam-diam, ketika teman-temannya sudah berjalan cukup jauh, ia berbalik dan kembali ke kebun emak Simardan. Ia mengumpulkan buah-buahan yang sebelumnya telah dijatuhkan dari pohon.
Tidak hanya buah yang matang. Buah yang masih muda dan belum waktunya dipanen pun ikut dirontokkannya.Dengan penuh keserakahan, ia terus mengumpulkan buah.
Tanpa disadarinya, hari mulai beranjak senja.
Teman-temannya sudah lama meninggalkan tempat itu.
Anak tersebut kemudian membungkus buah-buah hasil curiannya menggunakan daun pisang dan mengikatnya menjadi beberapa buntilan.
Salah satu buntilan besar dipanggul di pundaknya yang kecil.
Ia lalu beranjak pulang.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
Ia tidak menemukan jalan keluar dari kebun.
Ia berjalan ke satu arah, lalu kembali ke tempat yang sama.
Berjalan lagi ke arah lain, tetapi kembali berputar di tempat semula.
Kebun yang siang tadi begitu dikenalnya tiba-tiba terasa asing.
Hari semakin gelap.
Malam pun perlahan turun.
Anak itu mulai ketakutan.
Ia tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya telah berada dalam lingkaran yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Konon, makhluk-makhluk gaib yang selama ini dipercaya menjaga kawasan gubuk dan kebun emak Simardan telah mempermainkan arah pandangnya.
Anak itu pun akhirnya hilang dari pandangan.
Ia seperti disembunyikan oleh makhluk tak kasatmata yang selama ini dipercaya menjadi penjaga kawasan tersebut.
Konon, makhluk-makhluk itu telah lama hidup berdampingan dengan emak Simardan.
Perempuan tua itu dipercaya kerap menyediakan sajian sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni alam tak kasatmata yang diyakininya ada di sekitar tempat tinggalnya.
Sejak dahulu, sebelum mengenal ajaran agama, emak Simardan memang masih memegang kepercayaan lama dan hidup sangat dekat dengan alam serta segala sesuatu yang diyakininya menghuni alam tersebut.
Karena itulah, gubuk tua di tepian Aek Doras tersebut semakin lama semakin dikenal sebagai tempat yang penuh misteri.
Namun, malam itu ada satu hal yang belum diketahui siapa pun.
Lelaki terluka yang sedang terbaring di dalam gubuk emak Simardan ternyata membawa sebuah rahasia besar.
Dan rahasia itulah yang kelak akan menyeret kehidupan emak Simardan, Si Merdeng, dan Si Mardong ke dalam peristiwa yang jauh lebih besar.
(Bersambung)
