Oleh : Harunsyah Arsyad
Segala persiapan untuk ritual jamuan mistis telah siap dikemasi sang nenek untuk dibawa ke sebuah tepian Aek Doras. Kini sungai berair deras itu diberi nama Sungai Asahan (pada lanjutan kisah ini di ujung episode akan diceritakan sedikit sejarahnya).
Tepian yang dituju si nenek terletak pada sebuah teluk kecil di Selatan Kampung Tanjung (sekarang letaknya kira kira antara sekitar pangkal jembatan Tabayang sampai ke tepian Sungai Selat Lancang, yaitu antara belakang Rumah Dinas Walikota dengan belakang RSU dr. Mansyur Tanjungbalai).
Sudah lewat tengah malam namun hujan belum berhenti masih turun dengan derasnya ditingkahi suara petir yang menggelegar sambung menyambung. Kilat sambar menyambar dengan cahaya menyilaukan seluruh kawasan itu saat gelombang listrik di angkasa itu beradu bagai angkara murka.
Pucuk-pucuk pepohonan menari-nari diterpa hembusan angin kencang seakan mengikuti gerak tubuh sang nenek yang sudah kerasukan makhluk halus yang menurut istilah masyarakat pesisir disana sedang naek puako.
Tubuh bongsor sang lelaki yang masih tak sadarkan diri di dalam gubuk itu enak saja di geserkannya ke depan pintu. Ini sesuai dengan perintah gaib dari para sahabat tak kasat matanya. Kemudian Simardong dan Simerdeng mereka berjalan mengikutinya bersama.
Si nenek menjunjung bungkusan kain putih di atas tampah dari anyaman bambu. Lalu mereka bertiga mulai menuruni tangga menuju tepian sungai. Dalam bungkusan kain putih yang dijunjungnya itu ada satu wadah yang berisi bubur pulut hitam, satu wadah lagi berisi bubur pulut putih.
Kemudian ada lagi wadah berisi bunga tujuh rupa (bunga rampai), dan satu wadah lagi berisi beras bertih. Turut pula dibawa sang nenek satu mangkok dari wadah batok kelapa yang berisikan darah ayam jantan hitam dan satu mangkok lagi berisi darah ayam betina putih berikut bangkai sepasang ayam itu yang masih utuh lengkap dengan bulu bulunya.
Setelah turun dari gubuk mereka berlari kecil di bawah rimbunan pepohonan untuk mengelakkan air hujan yang turun deras menggenangi tanah sehingga menjadi licin. Sesampainya di tepian sungai di bawah sebatang pohon jabi jabi si nenek lalu membuka bungkusan yang dibawanya.
Ia masih kesurupan, matanya mendelik melotot ke kanan ke kiri sesekali ke atas dan ke bawah bagaikan mata seorang wanita menarikan tari Barong Bali. Tiba tiba dia sudah mulai besinandong dengan suaranya yang agak berat yg menggetarkan seluruh tubuhnya sampai gigi geliginya saling beradu mulutnya komat kamit mendesah desah.
Lalu kembali tenang kemudian terdengarlah senandongnya dengan syair yang pilu menyayat hati siapa siapa yang mendengarnya disana. Lirik katanya penuh nuansa magis yang membuat bulu kuduk menjadi merinding.
Simardongpun melolong panjang. Kemudian si nenek membuka wadah berisi beras bertih lalu ditaburkannya ke permukaan air sungai besar yang saat itu airnya bagai tak berarus tapi berombak ombak kecil yang beradu adu diterpa angin kencang yang membawa air hujan ke permukaannya.
Sesekali cahaya kilat menyilaukan mata menerangi permukaan air kala petir menggelegar di langit yang pekat. Suasana malam itu sangatlah mencekam jiwa. Sambil menari nari karena kerasukan si nenek kemudian mengambil wadah yang berisikan kembang rampai tujuh rupa lalu ditaburkannya kembali ke permukaan sungai dengan terus bersinandong.
Sekujur badannya sudah basah kuyup diterpa hujan lebat. Kemudian ia mengambil sebuah bungkusan putih yang sebagian sudah terbuka pada bagian atasnya pada nampan bambu. Dua wadah berisikan sepasang bubur hitam dan putih dari beras ketan dua warna bersama bangkai sepasang ayam tersebut dihanyutkannya ke Aek Doras.
Terakhir kali diambilnya pula wadah yg berisikan darah sepasang ayam itu lalu dilarungkannya setengah dari isi wadah yang berisikan darah segar dari sepasang ayam itu ke permukaan air sungai. Separuhnya lagi dari masing masing wadah darah ayam tersebut ia tinggalkan dan dibungkus kembali dalam kain putih membaluti kedua wadah itu.
Setelah selesai prosesi jamuan sungainya dengan tiba tiba terdengar pulalah suara keras menggelegar dari arah gubuk bersamaan kilatan cahaya petir bercampur suara-suara aneh darisana. Sayup sayup diantara ributnya suara air hujan dan suara dedaunan yang bergesekan diterpa angin dari arah dalam gubuk terdengar pula ramai suara riuh rendah.
Tiba tiba terdengarlah suara seakan tertawa lantang, namun mengerikan. Simardong yang berada di dekat si nenek kembali melolong panjang. Dengan rahang yang terbuka kepalanya menengadah ke langit gelap. Sementara itu Simerdeng sudah lari ketakutan bersembunyi ke pohon di dekatnya ke atas pohon rambai.
Sehabis itu hujan pun mulai mereda, angin kembali tenang. Si nenek pun sudah kembali sadar dari kerasukannya lalu memanggil Simardong dan Simerdeng yang lagi bersembunyi karena ketakutan untuk bersama kembali ke gubuk. (Bersambung)
