-->

Dishub Sumut Siapkan Bus Perintis untuk 5 Daerah, Diluncurkan Pekan Depan

Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sumatera Utara menyiapkan program bus perintis untuk membantu masyarakat, khususnya pelajar di daerah yang masih m

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sumatera Utara menyiapkan program bus perintis untuk membantu masyarakat, khususnya pelajar di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses transportasi.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan konektivitas di daerah yang berdasarkan hasil kajian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut masih tergolong tertinggal.

Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Yuda Pratwi Setiawan, mengatakan berdasarkan hasil kajian terdapat 18 kabupaten yang masuk dalam kategori daerah yang membutuhkan perhatian dari sisi konektivitas transportasi.

Namun, untuk tahap awal pada 2026, Dishub Sumut memilih lima kaupaten sebagai lokasi pelaksanaan program bus perintis.

“Dari 18 ini kami pilih lima dulu, lima yang memang kondisinya cukup lumayan butuh perhatian. Karena ada juga daerah yang viral, seperti di Samosir, di Nias Utara,” ujar Yuda saat memberikan paparan di Lobby Dekranasda Provinsi Sumut, Jumat (25/9/2026).

Kelima daerah tersebut yakni Samosir, Padang Lawas Utara, Nias Utara, Asahan dan Batubara.

Yuda memastikan program tersebut belum beroperasi saat ini. Namun, setelah kajian selesai dilakukan, pihaknya menargetkan peluncuran paling cepat pada pekan depan.

“Ini kami akan launching paling cepat mungkin minggu depan. Kami perlu kajian juga, sehingga kami sudah selesai kajian, tinggal di-launching oleh Bapak Gubernur Sumatera Utara,” katanya.

Menurut Yuda, peluncuran program tersebut kemungkinan dilakukan di Kabupaten Asahan.

Nias Utara Dapat Sembilan Unit

Jumlah dan jenis kendaraan yang digunakan dalam program bus perintis disesuaikan dengan kondisi transportasi di masing-masing daerah.

Untuk Samosir, Padang Lawas Utara, Asahan dan Batubara, masing-masing mendapatkan enam unit kendaraan. Sementara Nias Utara mendapat sembilan unit.

Khusus Nias Utara, jumlah armada ditambah karena daerah tersebut dinilai belum memiliki angkutan transportasi yang memadai.

“Di Nias Utara, karena dia tidak punya angkutan transportasi existing, makanya menggunakan mobil carry. Tapi yang lainnya enam jumlahnya. Untuk Nias Utara akhirnya mendapatkan sembilan mobil,” jelas Yuda.

Ia menegaskan, penambahan armada tersebut tidak berarti anggaran untuk Nias Utara lebih besar dibandingkan daerah lainnya.

Menurutnya, seluruh daerah mendapat pagu anggaran yang sama. Namun, karena jenis kendaraan yang digunakan Nias Utara memiliki kapasitas berbeda, jumlah unitnya disesuaikan agar pelayanan tetap dapat diberikan.

“Dengan pagu yang sama. Kita kan nggak mungkin gara-gara mobil dia carry, yang lainnya mobilnya lebih bagus. Jadi kita tambahkan sembilan unitnya,” ujarnya.

Anggaran Sekitar Rp600 Juta per Kabupaten

Untuk menjalankan program tersebut, Dishub Sumut menyiapkan anggaran sekitar Rp600 juta untuk masing-masing kabupaten.

Anggaran tersebut tidak digunakan untuk membeli kendaraan maupun menyewa kendaraan secara langsung. Pemerintah menggunakan skema pembelian pelayanan dari operator.

“Anggarannya itu satu daerah, satu kabupaten itu sebanyak kurang lebih Rp600 juta,” kata Yuda.

Ketika ditanya apakah anggaran tersebut termasuk biaya operasional, Yuda menjelaskan bahwa mekanismenya menggunakan pola pelayanan sebagaimana sistem yang diterapkan pada BRT.

“Kita tidak sewa, kita tidak beli mobil, tapi kita beli pelayanannya,” jelasnya.

Dalam skema tersebut, setiap kendaraan mendapatkan standar pelayanan hingga 60 kilometer per hari. Pemerintah kemudian membayar berdasarkan pelayanan yang diberikan operator.

“Satu hari pelayanannya diberikan 60 kilometer. Jadi kita membayar itu 60 kilometer,” ujar Yuda.

Dishub Sumut juga akan bekerja sama dengan operator daerah dalam menjalankan program tersebut.

Bertahap hingga 18 Kabupaten

Program bus perintis ini tidak hanya berhenti di lima kabupaten pada 2026. Pemerintah Sumut menargetkan perluasan secara bertahap hingga seluruh 18 kabupaten yang masuk dalam hasil kajian.

Tahap berikutnya ditargetkan menjangkau 10 kabupaten pada 2027, kemudian 15 kabupaten pada 2028. Selanjutnya, pada 2029 hingga 2030, program tersebut ditargetkan mencakup seluruh 18 kabupaten.

Yuda mengatakan program tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan transportasi masyarakat di daerah, terutama anak-anak sekolah yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh atau bahkan menggunakan moda transportasi yang terbatas untuk mencapai sekolah.

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah pelajar di Samosir yang harus menyeberang untuk menuju sekolah. Dalam kondisi tertentu, pelajar dapat tertinggal kapal sehingga mengganggu aktivitas sekolah.

Dengan adanya bus perintis, Dishub Sumut berharap akses transportasi bagi pelajar di wilayah sasaran menjadi lebih mudah dan aman.

“Semua kabupaten itu pasti akan dapat giliran,” pungkas Yuda.

Share:
Komentar

Berita Terkini