Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
• 1590 - GURU PATIMPUS SEMBIRING PELAWI*
Jawara Karo kekar dari Aji Jahe. Bukan bangsawan halus, tapi penakluk hutan berawa-rawa di pertemuan Sungai Deli dan Babura. Mental petualang dan kanuragan ini jadi DNA pertama Medan: berani buka lahan baru sendirian_
• 1872-1895 - PERANG SUNGGAL
Datuk Badiuzzaman Surbakti memimpin perang gerilya 23 tahun melawan kolonial Belanda. Gara-gara tanah ulayat dirampas sepihak untuk konsesi Tembakau Deli. Di sini terbentuk watak Medan: pantang tanahnya diinjak, peluru dilawan nyawa._
• 1945 - PERTEMPURAN MEDAN AREA
_Kolonel Bejo & Timur Pane (Pasukan Napindo Naga Terbang). Laskar pemuda, preman pasar, dan buruh perkebunan yang menghadang tank Sekutu di jalanan. Dari sini lahir julukan pemuda Medan paling nekat._
• 1965 - EFFENDI NASUTION (PENDI KELING)*
Era Pemuda Pancasila. Pendi Keling mengonsolidasikan kekuatan pemuda jalanan. Menguasai ruang publik, menduduki gedung. Di sini OKP jadi penguasa jalanan yang sah di Medan.
• 1969 OLO PANGGABEAN
Godfather Medan. Dari Gedung Putih di Jl. Sekip, ia membangun kerajaan dunia bawah tanah bisnis malam, penagihan, perjudian tapi juga dermawan lintas etnis. Simbol dualisme: keras tapi punya kode etik.
• 1980 - PSMS MEDAN AYAM KINANTAN
Aura keras itu dilegalkan di lapangan hijau. Gaya *Rap-Rap Ribak Sude Sikat Semua (Pressing Tinggi ala Medan)* — _semangat juang tinggi, tekel keras, ruh Ayam Kinantan yang pantang mundur. Bagi orang Medan, bola bukan sekedar kebanggaan, tapi harga diri.
Aura Kota Medan yang terkenal keras, lugas, tanpa kompromi, dan bernyali besar bukanlah kebetulan yang lahir kemarin sore. Dialeknya yang membentak, bahasanya yang lugas tanpa basa-basi, dan egonya yang tinggi adalah hasil tempaan sejarah 436 tahun yang penuh darah, perang melawan kolonial dan agresi, melenyapkan pengkhianatan, serta hukum jalanan.
Medan tidak dibentuk oleh birokrat yang santun di meja perundingan. Medan dibentuk oleh para petarung.
1. Fondasi Awal: Guru Patimpus, Sang Jawara Penakluk Hutan (1590)*
Aura itu dimulai dari pendirinya sendiri. Guru Patimpus Sembiring Pelawi* bukanlah bangsawan istana yang halus. Ia adalah jawara bertubuh kekar dari Desa Aji Jahe, dataran tinggi Karo seorang tabib sekaligus pendekar yang menguasai ilmu kanuragan dan spiritual.
Mentalitasnya adalah mentalitas penantang. Ia berani turun gunung, menantang adu kesaktian ulama besar *Datuk Kota Bangun* di tepi Sungai Deli, lalu membabat hutan belantara berawa yang penuh binatang buas dan malaria di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura untuk mendirikan *Kampung Medan Putri pada 1 Juli 1590*.
Karakter pendiri yang petualang, keras, dan tak gentar inilah yang menjadi DNA awal kota ini.
2. Perlawanan Agraria: 23 Tahun Perang Sunggal Melawan Belanda (1872-1895)*
Ketika Belanda datang dengan industri Tembakau Deli yang super menguntungkan, mereka menabrak tembok keras.
Sultan Deli memberikan konsesi tanah secara sepihak kepada perusahaan Belanda, padahal tanah itu adalah tanah ulayat milik Kedatukan Sunggal. Bagi masyarakat Karo, tanah bukan komoditas tanah adalah harga diri.
Meletuslah Perang Sunggal, dipimpin Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya Datuk Sulung Barat. Selama 23 tahun, rakyat Sunggal melancarkan perang gerilya hutan melawan pasukan kolonial yang dipersenjatai meriam. Mereka menyerang bangsal-bangsal tembakau dan mendapat suplai logistik rahasia dari jaringan kurir tradisional perlanja sira.
Pesan sejarahnya jelas: sejak dulu, orang Medan tidak bisa ditundukkan dengan merampas haknya. Jika harga diri diinjak, peluru akan dilawan dengan nyawa.
3. Era Revolusi: Kolonel Bejo dan Laskar Jagoan Jembatan (1945)
Memasuki Pertempuran Medan Area pasca-kemerdekaan, aura militansi itu naik level. Ketika Sekutu dan NICA Belanda datang, yang maju paling depan bukan tentara reguler, melainkan laskar pemuda, preman pasar, dan buruh perkebunan.
Tokoh ikoniknya adalah Kolonel Bejo, mantan mandor yang berdarah dingin dan menjadi pemimpin laskar pemuda. Bersama Timur Pane* dengan pasukan legendarisnya Napindo Naga Terbang, mereka mengorganisasi perang kota yang brutal di jalanan Medan.
Mereka tidak punya senjata modern, tapi mereka punya nyali. Mereka berhadapan langsung dengan tank dan bren gun Sekutu di tikungan-tikungan kota. Dari sinilah lahir stigma: pemuda Medan adalah petarung jalanan paling nekat di masa revolusi.
4. Gejolak 1965: Pendi Keling dan Lahirnya Dinasti OKP
Medan menjadi salah satu episentrum paling berdarah pasca-G30S 1965. Kekuatan sipil anti-komunis digerakkan secara masif oleh organisasi kepemudaan.
Di sinilah nama Effendi Nasution (Pendi Keling) dan Amran YS muncul sebagai komandan Pemuda Pancasila (PP). Dengan restu Angkatan Darat, mereka menguasai ruang publik, menduduki gedung-gedung strategis, dan melumpuhkan lawan politik dengan kekerasan fisik langsung.
Peristiwa 1965 mengukuhkan satu pakem di Medan yang bertahan hingga hari ini: untuk menguasai kota, kau harus menguasai jalanan. Dan yang menguasai jalanan adalah OKP.
5. Penguasa Dunia Bawah Tanah: Olo Panggabean dan "Gedung Putih"
Tidak lengkap bicara kerasnya Medan tanpa menyebut Sahara Oloan Panggabean (Olo Panggabean)*. Lahir dari kerasnya jalanan dan pernah menjadi bagian dari lingkaran Pendi Keling, Olo mendirikan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pada 1969.
Olo adalah Godfather-nya Medan. Dari markas legendarisnya di Jalan Sekip yang dikenal sebagai "Gedung Putih", tempat yang sangat dijaga ketat dan penuh aura mistis — ia menguasai ekosistem bisnis malam, penagihan utang, hingga kerajaan perjudian di Sumatera Timur.
Uniknya, di balik reputasi tak tersentuh hukum, Olo sangat dihormati lintas etnis karena kedermawanannya yang luar biasa kepada masyarakat miskin. Ia adalah simbol dualisme Medan: keras di luar, tapi punya kode etik sosial di dalam.
6. Identitas di Lapangan Hijau: PSMS Medan dan Filosofi Rap-Rap
Karakter "keras tapi jujur" itu mewujud total di sepak bola melalui PSMS Medan, Si Ayam Kinantan, ayam petarung yang pantang mundur sebelum lawan tumbang.
PSMS melahirkan filosofi legendaris Gaya Rap-Rap
Permainan bertempo sangat tinggi (*pressing tinggi ala Medan), mengandalkan fisik prima, tekel bersih tapi keras, dan prinsip Ribak Sude (Sikat Semua). Determinasi tanpa henti untuk merebut bola.
Bagi publik Medan, sepak bola bukan soal estetika tiki-taka. Sepak bola adalah medan pertempuran harga diri. Jika pemain tidak berdarah-darah di lapangan, ia dianggap tidak menghormati kostum hijau yang dipakainya. Di tahun 1975 kekuatan ini pernah mereka buktikan dengan menundukkan Ajax Amsterdam sang raksasa Eropa kala itu dengan skor meyakinkan 4-2.
Sejak Ayam Kinantan mulai meninggalkan ciri khasnya semangat juang tinggi pantang menyerah, dengan mendatangkan pelatih dan pemain dari luar yang tidak memiliki DNA ini, tak ayal PSMS pun tidak lagi bisa berbicara di tingkat Nasional apalagi Internasional seperti dahulu yang pernah dicapainya.
*Kesimpulan: Keras Itu Bukan Kriminal, Itu Cara Bertahan Hidup
Rentetan sejarah ini menjelaskan mengapa Medan seperti itu.
Dari Guru Patimpus yang membelah hutan, Datuk Sunggal yang melawan meriam Belanda dengan parang, Kolonel Bejo yang menghadang tank Sekutu, Pendi Keling yang menguasai 1965, Olo Panggabean yang membangun hukum sendiri di Gedung Putih, hingga PSMS yang mengajarkan Ribak Sude — semuanya mengajarkan satu hukum alam di Medan:
*Untuk bertahan hidup di kota ini, kau harus terlihat kuat. Kalau tidak, kau akan dimakan.*
Kerasnya Medan bukanlah kriminalitas kosong. Itu adalah kodifikasi mentalitas manusia-manusia tangguh yang menolak diintimidasi oleh keadaan.
