Penjelasan Diorama: Scene 1 - Desa Aji Jahe Tigapanah, Karo: Guru Patimpus muda sebagai tabib, meracik obat tradisional dari dedaunan. Latar rumah panggung Karo dan perbukitan. Di sini gelar "Guru" bermakna orang berilmu dan tabib sakti penganut Pemena.
Scene 2 - Duel Mistis di tepi Sungai Deli: Adu kesaktian dengan Datuk Kota Bangun (ulama besar). Keduanya mengeluarkan aura mistis biru. Duel ini berakhir dengan kekalahan Guru Patimpus dan ia pun bersyahadat memeluk Islam.
*Scene 3 - Pernikahan Strategis : Pernikahan dengan putri Datuk Hamparan Perak, disaksikan para pemangku adat. Pernikahan ini yang mengangkat posisinya menjadi bagian dari Datuk Empat Suku Kesultanan Deli.
Scene 4 - Pembukaan Kampung Medan Putri 1 Juli 1590:
Scene utama di bawah. Pembukaan hutan berawa di pertemuan Sungai Deli & Sungai Babura. Terlihat warga membangun rumah panggung, menanam kebun lada (emas hitam saat itu), dan perahu-perahu di sungai sebagai urat nadi perdagangan._
Plakat bawah: Guru Patimpus 1590 - Pendiri Kota Medan, 1 Juli 1590, Kampung Medan Putri - Pertemuan Sungai Deli & Sungai Babura
Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah sosok legendaris pendiri Kota Medan. Ia hidup pada abad ke-16, diperkirakan lahir sekitar tahun 1540. Bertubuh kekar, berwibawa, berjiwa patriotik, ia dikenal sebagai tabib, pengembara, ahli pengobatan tradisional, dan pemilik ilmu spiritual yang sangat tinggi.
1. Asal-Usul: Putra Karo dari Aji Jahe
Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi Tanah Karo. Ia lahir di Desa Aji Jahe, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo*, dan menyandang marga Sembiring Pelawi.
Gelar "Guru" dalam budaya Karo bukan berarti guru sekolah. Gelar itu disematkan kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas, kebijaksanaan, kekuatan spiritual, dan keahlian mengobati.
Pada awalnya ia penganut Pemena, kepercayaan tradisional asli Karo. Baru setelah turun merantau ke pesisir, ia memeluk Islam setelah berguru kepada ulama besar di Deli.
2. Pengembaraan dan Misi Kemanusiaan
Berjiwa petualang, Guru Patimpus turun dari pegunungan Karo menuju dataran rendah pesisir timur, Tanah Deli. Sepanjang perjalanan, ia menjalankan misi kemanusiaan: menyembuhkan orang sakit di setiap daerah yang ia singgahi.
Karena reputasinya sebagai tabib itulah, setiap kali ia singgah ia membuka lahan baru. Pemukiman-pemukiman itu kelak berkembang menjadi. Urung Sepuluh Dua Kuta Negeri Dua Belas Kampung di bawah naungan Kesultanan Deli. Di antaranya: Benara, Kuluhu, Batu, Salahan, Parira, Liang Taneh, Perbaji, Durin Kerajaan, hingga *Kuta Madan / Kampung Medan Putri sebagai kampung ke-12.
3. Titik Balik Spiritual: Duel Mistis dengan Datuk Kota Bangun
Kisah paling terkenal dalam perjalanannya adalah pertemuannya dengan *Datuk Kota Bangun (Syekh Syahid Muhammad Ibnu Attahir Al-Jufri)*, ulama karismatik yang bermukim di tepi Sungai Lau Patani (Sungai Deli).
Merasa tertantang dengan kesaktiannya, Guru Patimpus datang mengadu ilmu. Dibuat perjanjian sakral: jika Datuk Kota Bangun kalah, ia harus ikut kepercayaan Karo. Jika Guru Patimpus kalah, ia harus masuk Islam.
Dalam duel mistis itu, Guru Patimpus kalah mutlak. Ia kemudian bersyahadat, menetap selama 3 tahun belajar Al-Qur'an kepada Datuk Kota Bangun. Dari sinilah visi kosmopolitannya terbentuk. Ia kemudian mengirim putra-putranya, Si Kolok dan Si Kecik, untuk memperdalam Islam hingga ke Kesultanan Aceh.
Makam keramat Datuk Kota Bangun hingga kini masih terawat di Medan Deli, menjadi saksi pertemuan dua tokoh besar itu.
4. Pernikahan Strategis dan Lahirnya Medan Putri
Dalam pengembaraannya di wilayah hilir, ia tiba di *Pulo Brayan dan Sunggal*. Kesaktiannya menarik perhatian penguasa setempat. Ia kemudian menikah dengan putri Datuk Hamparan Perak, salah satu dari empat penguasa Kedatukan Deli.
Setelah menikah, bersama istrinya ia membuka hutan berawa di titik pertemuan dua sungai: Sungai Deli dan Sungai Babura. Di sanalah ia mendirikan perkampungan baru yang diberi nama Kampung Medan Putri.
Peristiwa pembukaan lahan itu terjadi pada *1 Juli 1590*. Tanggal inilah yang hingga kini disepakati dan dirayakan sebagai *Hari Jadi Kota Medan*.
Asal-usul nama Medan pun berasal dari sana. Menurut naskah kuno _Riwayat Hamparan Perak_ yang ditulis dengan aksara Karo di bilah bambu, kata *"Medan"* berasal dari bahasa Karo Madan / Madaan yang artinya "Sembuh" atau "menjadi lebih sehat" — merujuk pada reputasi kampung itu sebagai pusat pengobatan Guru Patimpus.
Letaknya sangat strategis, sehingga cepat berubah dari kampung lada menjadi bandar transit. Catatan penjelajah Inggris John Anderson dalam bukunya _Mission to the East Coast of Sumatra in 1823_ memvalidasi hal ini. Anderson melihat langsung Kampung Medan di pertemuan Sungai Deli dan Babura, dengan sisa benteng tanah bundar berlapis dua dan perahu-perahu pengangkut lada hilir mudik ke Selat Malaka.
5. Kedudukan Politik Urung Sepuluh Dua Kuta di Kesultanan Deli
Kedatukan yang didirikan Guru Patimpus ini memiliki posisi yang sangat tinggi. Hubungannya dengan Kesultanan Deli bukan atasan-bawahan mutlak, melainkan konfederasi adat.
Penguasa Awal yang Lebih Dahulu Ada: Urung Sepuluh Dua Kuta bersama Urung Sunggal, Sukapiring, dan Senembah sudah berdaulat pasca-runtuhnya Kerajaan Haru, jauh sebelum Kesultanan Deli berdiri. Ketika Gocah Pahlawan utusan Aceh datang tahun 1632, ia harus menikahi putri Raja Urung agar diakui.
- *Menjadi Datuk Empat Suku: Kepalanya bergelar Datuk Hamparan Perak atau Datuk Setia Raja. Bersama tiga datuk lainnya, mereka membentuk dewan *Datuk Empat Suku (Wazir Kesultanan)*. Wilayahnya otonom penuh atas tanah ulayat.
Pemegang Hak Melantik Sultan: Seorang putra mahkota tidak sah menjadi Sultan Deli jika tidak disumpah dan dilantik oleh keempat Datuk Urung. Dalam adat, Sultan adalah Anak Beru (menantu), sedangkan Datuk Karo adalah _Kalimbubu_ (pemberi istri yang dihormati).
Pemilik Sah Tanah Ulayat: Seluruh tanah Hamparan Perak hingga Medan utara adalah tanah ulayat Sepuluh Dua Kuta. Sultan tidak berhak menjualnya ke pihak asing tanpa izin Datuk.
Pelanggaran atas prinsip inilah yang memicu Perang Sunggal (1872-1895) atau Perang Tanduk Benua. Ketika Sultan Deli sepihak memberikan konsesi tanah ulayat Sunggal kepada perusahaan tembakau Belanda, Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya Datuk Sulung Barat mengangkat senjata dengan taktik gerilya hutan. Perang berlangsung 23 tahun hingga akhirnya Belanda menangkap Datuk Badiuzzaman lewat diplomasi palsu dan mengasingkannya ke Cianjur.
6. Akhir Hayat dan Warisan Abadi
Setelah berhasil membangun Kampung Medan Putri menjadi pusat perdagangan lada yang strategis, Guru Patimpus menghabiskan sisa hidupnya di Deli.
Ia meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan *Hamparan Perak, Deli Serdang. Makamnya hingga kini dirawat dan kerap diziarahi masyarakat, sejarawan, dan pejabat Kota Medan.
Untuk mengabadikan jasanya, Pemerintah Kota Medan mendirikan Monumen Guru Patimpus di pusat kota dan menyematkan namanya sebagai nama jalan protokol.
Dari seorang tabib pengembara dari Aji Jahe, ia meletakkan fondasi sebuah kota multietnis yang kini menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia. Dari kata "Madan" yang berarti sembuh, lahirlah sebuah kota bernama Medan.
