-->

Hilangnya Kerajaan Aru (Deli Tua)

Yang kita sebut Deli Tua hari ini sebenarnya adalah Kerajaan Aru atau Haru. Kerajaan tertua di Sumatera Utara, berdiri sejak abad ke-13.

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                       Disusun oleh : Harunsyah Arsyad

BABAK 1: SIAPA ITU DELI TUA ATAU KERAJAAN ARU?

Yang kita sebut Deli Tua hari ini sebenarnya adalah Kerajaan Aru atau Haru. Kerajaan tertua di Sumatera Utara, berdiri sejak abad ke-13.

Orang Karo menyebutnya Haru, dari kata Haru. Pendirinya adalah marga Kembaren, yang menurut cerita berasal dari Pagaruyung Minangkabau. Ibukota kerajaan ini bukan di pantai seperti lazimnya Kerajaan-Kerajaan Sumatera Timur, tapi di pedalaman — di Sungai Panetican yang diyakini arkeolog Ery Soedewo sebagai Sungai Petani di Deli Tua sekarang, di hulu Sungai Deli. Mereka menguasai seluruh pantai timur, mulai dari Tamiang (perbatasan Langkat-Aceh) sampai Rokan (perbatasan Labusel-Riau), karena Selat Malaka adalah jalur dagang paling sibuk dan makmur di dunia saat itu.

Aru adalah kerajaan maritim yang kuat. Saking kuatnya, pada awal abad ke-16 Aru pernah menyerang Pasai (Aceh) dan membantai penduduknya. Inilah awal dendam panjang Aceh terhadap Aru.

BABAK 2: PERANG 100 TAHUN ACEH vs ARU (1539 - 1613)

Aceh tidak terima. Setelah Aceh menguat di bawah Sultan Alauddin al-Kahar, mereka membalas.

Perang Aru I - 1539: Aceh mengirim armada raksasa yang dicatat penjelajah Portugis Fernão Mendes Pinto — 103 kapal perang, 15 kapal angkut, 20.000 tentara di bawah panglima Heredin Mahomet. Mereka mengepung benteng Aru di Deli Tua berbulan-bulan, menggali terowongan dan meledakkan benteng. Raja Aru gugur ditembak tentara Turki Utsmani dengan senapan Arquebus. Aru jatuh.

Tapi Aru tidak mati. Janda Raja Aru lari ke Johor, meminta bantuan.

Perang Aru II - 1540: Koalisi Aru-Johor merebut kembali Deli Tua dari garnisun Aceh (gabungan tentera Aceh, Gujarat, Turki, dan Arab).

Sejak itu perebutan terus terjadi. Pinto mencatat Aceh menguasainya lagi 1564. Historiografi Indonesia mencatat babak terakhir 1574. Tapi Aru selalu bangkit.

Puncaknya terjadi di era Sultan Aceh terbesar, Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam Bustan al-Salatin, dicatat tahun 1612 (1021 H), Deli ditaklukkan setelah pengepungan kurang dari 6 minggu dengan 100 ekor gajah dan meriam besar. Beliau yang datang tahun 1620 menyebut Deli sudah dikuasai Aceh. Aru menyerah selambat-lambatnya awal 1613 dan disebutkan dalam surat Iskandar Muda kepada Inggris Thomas Best sebagai wilayah taklukannya.

Inilah kejatuhan definitif Kerajaan Aru (Deli Tua). Setelah 300 tahun berdaulat, kerajaan itu hancur sebagai kekuatan mandiri.

BABAK 3: ACEH BUTUH PENGUASA BARU - LAHIRNYA GOCAH PAHLAWAN

Setelah menghancurkan Aru, Aceh punya masalah baru: bagaimana menjaga wilayah seluas pantai timur Sumatera itu agar tidak memberontak lagi? Aceh tidak bisa memerintah langsung dari Banda Aceh yang jauh.

Maka Aceh memakai pola khasnya: menempatkan panglima kepercayaannya sebagai Wali Negeri atau Wakil Sultan di bekas wilayah Aru.

Tokoh yang dipilih adalah Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan.

Siapa dia? Ada dua versi silsilah:

- Versi Deli: Nama aslinya Muhammad Delikhan atau Muhammad Dalik, keturunan bangsawan Delhi, India — anak dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan yang menikah dengan Putri Chandra Dewi dari Samudera Pasai. Bergelar Laksamana Khuja Bintan.

- Versi Serdang: Bernama Yazid, berasal dari Pagaruyung, keturunan raja-raja Bukit Siguntang Mahameru. 

Ada juga hipotesis sejarawan bahwa dia identik dengan Laksamana Malem Dagang, laksamana besar Aceh yang ikut menaklukkan Pahang dan Johor. Tapi ini masih hipotesis, belum ada dokumen sezaman yang mengkonfirmasi.

Yang pasti, Gocah adalah pahlawan perang Aceh. Jasanya besar dalam ekspedisi ke Bengkulu, Johor, Pahang, dan Deli. Karena itu ia diangkat menjadi panglima dan dikirim ke Tanah Deli sekitar 1612-1630 untuk dua tugas: menumpas sisa pengaruh Portugis dan menjalin hubungan dengan elite lokal.

Setiba di Labuhan, Gocah tidak bertindak sebagai penjajah. Ia bertindak cerdas. Ia membangun persekutuan dengan Empat Urung atau Raja Berempat di pedalaman Karo — Urung Sunggal, Hamparan Perak, Sukapiring, dan Deli Tua. Untuk memperkuat persekutuan, ia menikahi putri dari penguasa Sunggal.

Dari sinilah lahir Kesultanan Deli pada 1632. Deli bukan lagi wilayah pendudukan tentara Aceh, tapi pemerintahan lokal yang punya legitimasi ganda: dari Sultan Aceh dan dari Datuk-datuk Melayu-Karo di Tanah Deli.

Gocah memerintah hingga wafat 1653, lalu digantikan putranya Tuanku Panglima Perunggit. Pada 1669, Perunggit menyatakan otonomi penuh dari Aceh, namun tetap dalam kompromi: Deli otonom, tetap kirim Bunga Mas tahunan ke Aceh, dan Aceh wajib membantu jika Deli diserang.

Aru jatuh karena perang 100 tahun melawan Aceh, kekosongan kekuasaan diisi oleh panglima kepercayaan Aceh, dan dari tangan panglima itulah Deli lahir kembali — bukan sebagai Aru yang lama, tapi sebagai Kesultanan Deli yang baru.

Deli Tua adalah ibu kandungnya, Aru adalah nama awalnya, dan Deli adalah nama barunya yang Islami setelah Gocah Pahlawan (Aceh).

Share:
Komentar

Berita Terkini