-->

Jembatan Bukit Lawang - Tangkahan Tak Kunjung Selesai, Warga Bulangta Ancam Demo ke Kantor PU

Kesabaran masyarakat di kawasan jalur Bukit Lawang–Tangkahan atau yang dikenal dengan jalur Bulangta, Desa Sei Musam, Kecamatan Batang Serangan, Kabup

Editor: PoskotaSumut.id author photo


LANGKAT
– Kesabaran masyarakat di kawasan jalur Bukit Lawang–Tangkahan atau yang dikenal dengan jalur Bulangta, Desa Sei Musam, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mulai menipis.

Kerusakan jalan yang semakin parah ditambah pembangunan jembatan yang tak kunjung rampung membuat warga mendesak pemerintah segera mengambil tindakan. Jika dalam waktu dekat tidak ada kejelasan, masyarakat bahkan berencana menggelar aksi ke kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum (PU) di Binjai.

Tokoh masyarakat Desa Sei Musam, Bob Haranta Perangin-angin, mengatakan warga sebenarnya tidak menginginkan aksi demonstrasi. Namun, kondisi jalan yang terus memburuk dan belum adanya kepastian pembangunan membuat masyarakat mulai kecewa.

“Kalau bulan ini tidak ada juga tindak lanjut, masyarakat sudah berencana melakukan aksi,” kata Bob saat ditemui, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Bob, persoalan infrastruktur di jalur Bulangta sebenarnya sudah beberapa kali dibahas bersama pihak terkait. Dalam salah satu pertemuan di Desa Sei Musam, masyarakat mendapat penjelasan bahwa perkuatan jalan lintas Bukit Lawang–Tangkahan direncanakan masuk program 2027.

Alasannya, anggaran untuk tahun 2026 disebut telah habis.

“Waktu pertemuan di Desa Sei Musam, Pak Bobi Nasution menyampaikan akan ada perkuatan untuk jalan lintas Bukit Lawang–Tangkahan pada tahun 2027, karena anggaran 2026 ini sudah habis,” ujarnya.

Namun, hingga kini warga mengaku belum melihat tindak lanjut nyata di lapangan.

Bob mengatakan, dalam pertemuan tersebut juga disebutkan rencana penanganan akan diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi, masyarakat masih menunggu realisasinya.

“Katanya akan disampaikan kepada gubernur, kepada Ibu Tiorita selaku Wakil Bupati Langkat saat itu. Tapi sampai sekarang tindak lanjutnya belum ada,” katanya.

Jalan Rusak, Badan Jalan Sampai Runtuh

Kondisi jalur Bulangta, menurut Bob, saat ini semakin memprihatinkan. Sejumlah titik mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan, badan jalan di depan rumahnya disebut sudah mengalami keruntuhan.

Ia juga menyebut sebuah kendaraan sempat terjatuh akibat kondisi jalan tersebut.

“Sekarang kondisi jalannya sangat rusak. Ada mobil yang jatuh di Desa Sei Musam. Di depan rumah saya sendiri, badan jalannya sudah runtuh,” ungkapnya.

Kerusakan itu bukan hanya membuat perjalanan warga menjadi sulit, tetapi juga menimbulkan persoalan keselamatan bagi pengguna jalan.

Kondisi tersebut semakin dirasakan oleh petani yang setiap hari menggunakan jalur tersebut untuk mengangkut hasil perkebunan.

“Mayoritas masyarakat di sini petani sawit. Kalau jalan rusak seperti ini, bagaimana kami mau mengeluarkan hasil panen?” ucap Bob.

Menurutnya, belum lama ini bahkan terdapat kendaraan pengangkut sawit yang terjatuh. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa kondisi jalan sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.

“Baru-baru ini ada mobil pengangkut sawit yang jatuh. Ini bukan lagi sekadar mengganggu, tetapi sudah membahayakan masyarakat,” katanya.

Jembatan Lama Dirusak, Jembatan Baru Tak Kunjung Selesai

Selain jalan rusak, persoalan yang paling dikeluhkan masyarakat adalah pembangunan jembatan di kawasan Simpang 2 yang hingga kini belum selesai.

Bob menyebut sebelumnya sudah ada jembatan lama yang menurut masyarakat masih cukup kuat digunakan. Namun, jembatan tersebut kemudian mengalami kerusakan setelah adanya pekerjaan pembangunan jembatan baru.

“Jembatan yang lama itu sebenarnya masih kuat. Tapi waktu pembangunan jembatan baru, jembatan lama itu dirusak oleh pihak provinsi, yakni oleh Dinas PU,” ujarnya.

Ironisnya, ketika jembatan lama sudah tidak dapat difungsikan secara maksimal, pembangunan jembatan baru justru belum juga rampung.

Akibatnya, masyarakat harus menghadapi persoalan akses yang semakin sulit.

Bob berharap pemerintah dapat memberikan solusi sementara apabila pembangunan jembatan baru memang belum dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

“Kalau memang provinsi belum mampu membangun yang baru, kami berharap jembatan lama itu bisa diperbaiki. Yang penting masyarakat punya akses untuk lewat,” katanya.

Sudah Berkali-kali Diukur, Warga Bertanya Kapan Dibangun?

Warga, kata Bob, sebenarnya sudah cukup lama menunggu. Bahkan, tim yang melakukan pengukuran lokasi jembatan disebut telah beberapa kali datang ke lapangan.

Namun, pengukuran tersebut belum terlihat berlanjut menjadi pekerjaan fisik.

“Tim ukur jembatan sudah berkali-kali datang. Diukur lagi, diukur lagi. Tapi kapan dibangunnya?” katanya.

Menurut Bob, masyarakat saat ini tidak lagi membutuhkan sekadar rencana maupun pengukuran. Warga menginginkan kepastian dan pekerjaan nyata.

“Yang kami tunggu itu bukan lagi pengukuran. Kami ingin ada pekerjaan nyata. Kalau memang mau dibangun, ya dibangun,” tegasnya.

Bukan Hanya Petani, Pariwisata Ikut Terdampak

Kerusakan jalur Bulangta juga dinilai berpotensi mengganggu sektor pariwisata Langkat.

Jalur tersebut merupakan akses yang menghubungkan kawasan wisata Bukit Lawang dan Tangkahan, dua destinasi wisata alam yang dikenal hingga mancanegara.

Bob menyebut kunjungan wisatawan biasanya meningkat pada sekitar Juli hingga November. Karena itu, kondisi jalan yang rusak dinilai sangat memprihatinkan.

“Ini kan jalur wisata menuju Bukit Lawang dan Tangkahan. Wisatawan mancanegara banyak datang, terutama sekitar Juli sampai November,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin apabila wisatawan yang datang justru harus melewati jalan dengan kondisi rusak.

“Terus terang kami malu. Wisatawan datang ke sini, tapi melihat kondisi jalan seperti ini. Ini bisa merusak citra pariwisata kita,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu melihat persoalan jalur Bulangta secara lebih luas. Sebab, jalan tersebut bukan hanya menjadi akses warga, tetapi juga memiliki kaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Warga Tak Ingin Berpihak

Bob juga menegaskan masyarakat tidak sedang membela pihak tertentu dalam persoalan tersebut.

Ia mengatakan warga hanya menyampaikan kondisi yang mereka rasakan sehari-hari.

“Kami tidak berpihak kepada Pak Bobi. Kami hanya menyampaikan kondisi yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut persoalan jalan tersebut telah disuarakan melalui media sosial miliknya hingga mendapat perhatian publik.

“Kalau kami berpihak, tidak mungkin kami mengangkat persoalan jalan ini sampai viral di TikTok. Kami tetap mempertanyakan setiap persoalan, mau suka atau tidak suka,” katanya.

Bob juga mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah menerima janji pembangunan secara pribadi dari Bobi Nasution.

“Kalau secara pribadi, Pak Bobi tidak pernah berjanji langsung kepada saya. Kami pernah bicara empat mata dan kami hanya mendesak supaya pekerjaan ini segera diselesaikan,” jelasnya.

Jika Tak Ada Tindak Lanjut, Warga Siap Bergerak

Masyarakat kini meminta pemerintah segera memberikan kepastian mengenai penanganan jalan dan pembangunan jembatan di jalur Bulangta.

Bob mengatakan warga sebenarnya tidak ingin melakukan demonstrasi. Namun, jika tidak ada tindak lanjut, aksi dinilai menjadi pilihan terakhir.

“Kami sebenarnya tidak ingin demo. Kami maunya jalan ini diperbaiki. Tapi kalau tidak ada tindak lanjut, masyarakat sudah sangat kesal. Jangan sampai masyarakat turun ke kantor PU di Binjai,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah tidak menunggu sampai masyarakat turun ke jalan.

Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya segera ditangani karena menyangkut kepentingan banyak pihak, mulai dari warga, petani, pelaku usaha hingga wisatawan yang melintasi jalur Bukit Lawang–Tangkahan.

“Kami hanya meminta pemerintah serius. Jangan hanya datang mengukur, setelah itu tidak ada pekerjaan. Masyarakat butuh jalan yang layak, petani butuh akses untuk mengeluarkan hasil panen, dan wisatawan juga butuh akses yang aman,” pungkas Bob.

Share:
Komentar

Berita Terkini