Oleh : Harunsyah Arsyad
Di sebuah kantor polisi sektor di Panai Labuhanbatu, suasana yang tadinya tegang berubah jadi bikin satu ruangan pusing bareng.
Siang itu Atan, warga asli pesisir Panai, dipanggil buat BAP. Menghadap polisi muda yang baru selesai pendidikan mutasi dari Jawa. Kebetulan polisi dan petugas di kantor sektor itu orang pendatang dari luar daerah Labuhan Batu, kebanyakan dari Medan dan Pematang Siantar.
Juru tulis dah siap di depan mesin tik. Pak Polisi duduk tegak, pasang muka paling sangar.
Pak Polisi: "Baik, kita mulai. Siapa nama Saudara?"
Atan dengan polos khas orang Panai:
"Oh, saudagha awak banyak, Pak. Ada bah Udin, atak Nina, si Jenal, sama si Siti nan kociknya."
Pak Polisi ngerenyit. Pulpen di tangan langsung berhenti.
"Bukan! Maksud saya, nama Saudara kamu siapa?!"
Atan manggut-manggut, merasa paham dikiranya menanyakan nama saudara bukan kandung.
"Ooo... nama saudagha awak nan laen? Ada layi Pak, tapi udah maghanto ia ka Malaysia. Namanya si Angkot, sanak bunde awak..."
Pak Polisi ngetok meja. "STOP! Maksud saya NAMA DIRI KAMU! Siapa namamu?!"
Atan senyum kecut, baru ngeh:
"O bagen ja, sobutlah daghi tain Pak. Nama awak... Atan."
Pak Polisi hela napas lega. Juru tulis ngetik: A-T-A-N.
Pak Polisi: "Lalu, Atan apa?"
Maksudnya nanya nama belakang/nama sambungan.
Atan geleng kepala. Namanya memang pendek. Jawabnya pakai logat Panai kental:
"Atan sajo ja, Pak."
Pak Polisi diam. Miringkan kepala. Karena bukan orang sini, kupingnya nangkap lain.
"Atan... Sajoja?" tanyanya, ngulang.
Atan polos bener: "Iyo Pak. Atan sajo ja."
Pak Polisi langsung kagum.
"Wah, unik juga ya namamu. Mirip-mirip nama orang Amerika Latin gitu. Sajoja..."
Noleh ke juru tulis: "Tulis! Nama tersangka: ATAN SAJOJA."
Cletak-cletuk-ting!!!
Di berkas resmi keluarlah nama kapital semua: ATAN SAJOJA
Pak Polisi: "Tempat tanggal lahir, Atan Sajoja?"
Atan dah mulai curiga tapi takut: "Pane, Pak. Lahigh pas musim ikan taghubok."
BAP selesai. Kertas disodorin.
Pak Polisi: "Nih, tanda tangan di sini, Atan Sajoja."
Atan melotot liat kertas.
"Aimak Pak, mangapa nama awak ka jadi panjang bonagh macam ughang luagh bagika?"
Pak Polisi gertak: "Lah kan tadi kamu sendiri yang bilang Atan Sajoja! Dah, jangan banyak protes. Tanda tangan!"
Takut dikurung, Atan pun tanda tangan terpaksa.
Sejak hari itu namanya berubah.
Satu kantor manggil dia:
"Oi, Atan Sajoja! Ngopi dulu!"
"Atan Sajoja, kurunganmu dikurangi?"
"Atan Sajoja, lewat!"
Atan cuma bisa senyum kecut. Dalam hati berbisik:
Ya Allah... gagha-gagha cakap "sajo ja" jadi macam oghang campughan pulak awak ka. Kalo tau daghi tain, dari rumah udah awak sobutkan: Nama awak Atan. Titik.
