Pemekaran wilayah tahun 2008 bukan sekadar kebijakan administratif di atas kertas. Ia adalah peristiwa "pulang kampung" sejarah. Ketika Kabupaten Labuhanbatu Induk, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan resmi berdiri mandiri, garis batas baru itu secara alamiah mengikuti denyut nadi kebudayaan lama.
Sejak berabad-abad, lanskap Pesisir Timur Sumatera Utara telah dibelah oleh 3 sungai besar: Kualuh, Bilah, dan Barumun. Sungai-sungai inilah yang membentuk identitas, rute migrasi, hingga silsilah kerajaan di setiap wilayah.
Berikut kisah bagaimana alam dan adat membentuk wajah ketiga kabupaten "bersaudara" ini.
1. Labuhanbatu Utara : Tanah Kualuh, Juriah Asahan
Dikendalikan Sungai Kualuh dari Hulu ke Hilir, Labura adalah wilayah yang diikat oleh Sungai Kualuh. Airnya turun dari perbukitan NA IX-X dan Aek Natas di hulu, membelah dataran rendah, hingga bermuara di Selat Malaka.
Karakter yang terbentuk:
1. Pengaruh Hulu ke Hilir: Di hulu yang berbukit, masyarakat hidup agraris, dekat dengan hutan dan ladang adalah masyarakat Utara (Toba).
Di hilir, corak berubah menjadi masyarakat pesisir Melayu yang dinamis dan egaliter. Sungai Kualuh menjadi urat nadi yang menyatukan dua kultur berbeda ini dalam satu identitas: Orang Kualuh.
2. Juriah Kerajaan Kualuh dari Asahan: Karakter adat Labura tidak bisa dilepas dari Kesultanan Kualuh yang berpusat di Tanjung Pasir. Pendirinya, Tengku Muhammad Ishak bergelar Yang Dipertuan Muda Kualuh, adalah putra dari Sultan Ahmad Shah, Sultan Asahan.
Karena hubungan darah inilah, adat, pakaian, gelar, hingga dialek Melayu Labura memiliki kemiripan sangat pekat dengan Asahan. Labura adalah perpanjangan budaya Asahan di tanah Kualuh.
Singkatnya: Labura adalah wajah Labuhanbatu yang paling "hulu". Kuat adat Utaranya, kental Melayu Kualuh-Asahannya.
2. Labuhanbatu Selatan : Tanah Barumun, Darah Mandailing & Pagaruyung
Dibentuk Sungai Barumun dan Anak-anaknya. Berbeda dengan utara, Labusel lahir dari kebudayaan Sungai Barumun dan anak sungainya seperti Sungai Kanan. Wilayah ini adalah titik temu paling unik di Labuhanbatu Raya.
Karakter yang terbentuk:
1. Pengaruh Sungai Barumun dan Mandailing: Sungai Barumun mengalir dari dataran tinggi Padang Lawas. Aliran inilah yang menjadi jalan migrasi besar masyarakat Mandailing berkebudayaan patrilineal menuju dataran subur Kesultanan Kota Pinang.
Terjadilah asimilasi harmonis. Di hilir tumbuh adat Melayu Pesisir. Di hulu kuat adat Mandailing. Hasilnya: marga-marga Mandailing seperti Hasibuan, Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Daulay, dll hidup berdampingan dalam tatanan Melayu Kotapinang.
2. Garis Keturunan Pagaruyung di Kesultanan Pinang Awan: Fondasi politik Labusel diletakkan oleh Kesultanan Kota Pinang, awalnya bernama Kesultanan Pinang Awan. Perintisnya, Sultan Batara Sinomba atau Sultan Jondang, adalah bangsawan berdarah Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau.
Warisan Pagaruyung ini masih hidup. Tercermin dalam tata krama, falsafah kepemimpinan, dan motto Labusel saat ini: "Santun Berkata, Bijak Berkarya".
Singkatnya: Labusel adalah wajah Labuhanbatu yang paling "selatan". Pertemuan Melayu Pesisir, Mandailing, Riau, dan Minang.
3. Labuhanbatu Induk : Bandar Transit, Kuali Peleburan
Dipengaruhi Dua Kesultanan dan Arus Imigrasi di Sungai Bilah, Di tengah ada Labuhanbatu Induk. Jika Labura dan Labusel punya 1 sungai dominan, maka Labuhanbatu punya 2 poros: Sungai Bilah dan Sungai Barumun.
Karakter yang terbentuk:
1. Dua Kesultanan di Hilir: Kawasan hilir dijaga oleh dua otoritas Melayu berdaulat. Kesultanan Bilah berpusat di Negeri Lama dan Kesultanan Panai berkedudukan di Labuhan Bilik. Keduanya membentuk jangkar budaya Melayu bahari yang kuat, kaya sastra dan kuliner.
2. Arus Imigrasi dari Hulu dan Tetangga: Karakter kosmopolitan Labuhanbatu memuncak di Rantauprapat. Kota ini tumbuh di hulu Sungai Bilah sebagai simpul dagang. Gelombang migrasi datang dari hulu didominasi Mandailing dan Angkola.
Sebagai kabupaten induk yang berada di tengah, Rantauprapat juga menjadi melting pot. Warga dari eks-wilayah Kualuh di utara dan eks-wilayah Barumun di selatan datang merantau dan menetap di sini.
Singkatnya: Labuhanbatu Induk adalah wajah Labuhanbatu yang paling "tengah". Majemuk, dinamis, dan tempat semua aliran bertemu.
Begitu pula marga-marga dari Utara (Tapanuli Utara) dan dari Selatan (Angkola dan Mandailing) bertemu disini.
Kesimpulan : Tiga Sungai, Satu Rumpun
Peta Labuhanbatu Raya hari ini adalah cerminan bentang alam yang adil. Pemekaran 2008 tidak memutus tali persaudaraan, melainkan mempertegas jati diri masing-masing.
*Labuhanbatu Utara* Sungai Kualuh Juriah Kesultanan Asahan Melayu Kualuh - Asahan
*Labuhanbatu Selatan* Sungai Barumun Mandailing & Titisan Pagaruyung Melayu Barumun - Mandailing
*Labuhanbatu Induk* Sungai Bilah & Sungai Barumun Hilir, Kesultanan Bilah & Panai + Pembauran Imigran Kosmopolitan Multi-etnis.
Dengan memahami relasi ini, kita sadar: pembagian wilayah di Labuhanbatu Raya pada dasarnya menghormati kehendak alam. Sungai yang memisahkan secara geografis, tapi adat dan perdagangan yang menyatukan dalam sejarah.
