MEDAN – Setandan Pisang Kepok Keling (Musa sp.) berukuran jumbo menjadi salah satu daya tarik di Paviliun Pemerintah Kota Tebingtinggi pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50. Dipajang di pintu masuk paviliun, buah khas tersebut menarik perhatian pengunjung karena ukurannya yang besar dan kulitnya yang berwarna gelap.
Pisang Kepok Keling merupakan varietas lokal unggulan asal Kota Tebingtinggi. Selain memiliki ukuran lebih besar dibanding pisang kepok pada umumnya, varietas ini dikenal memiliki daging buah yang padat sehingga banyak diolah menjadi pisang goreng, kolak, rebusan, hingga keripik.
Penjaga stan, Rahmad, mengatakan komoditas tersebut tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar internasional melalui produk olahannya.
"Keripik pisang kepok keling sudah diekspor ke Malaysia. Pengiriman terakhir mencapai sembilan ton," ujar Rahmad di stan Pemerintah Kota Tebingtinggi, Minggu (12/7/2026).
Ekspor sebanyak sembilan ton keripik pisang kepok keling ke Malaysia sebelumnya dilepas Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso di Pasar Baru Tebingtinggi pada 27 Februari 2026. Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar Rp270 juta.
Dalam kesempatan itu, Surya menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tersebut menjadi bukti produk pertanian Sumatera Utara mampu bersaing di pasar internasional.
"Ekspor bukan hanya soal mengirim barang ke luar negeri, tetapi juga menjaga kualitas, kontinuitas produksi, standar mutu, dan kepercayaan mitra dagang," ujar Surya.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus mendorong hilirisasi sektor pertanian agar komoditas lokal memiliki nilai tambah melalui produk olahan yang berdaya saing.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut ekspor keripik pisang menjadi bagian dari program UMKM Bisa Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli melalui kegiatan business matching.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini lebih dari 1.200 pelaku UMKM telah mengikuti program tersebut dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$134,8 juta, dan hampir 70 persen di antaranya merupakan eksportir baru.
Wali Kota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih, menilai keberhasilan ekspor keripik pisang kepok keling menjadi bukti bahwa produk lokal memiliki daya saing di pasar global.
"Pelepasan ekspor ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol bahwa produk unggulan daerah mampu menembus pasar internasional. Kami akan terus meningkatkan kualitas produk serta memperluas akses pasar," katanya.
Selain dipamerkan sebagai komoditas unggulan, Pemerintah Kota Tebingtinggi juga memasarkan bibit Pisang Kepok Keling kepada masyarakat.
Rahmad menjelaskan, salah satu keunggulan varietas tersebut adalah masa panennya yang relatif lebih singkat, yakni sekitar sembilan bulan, lebih cepat dibandingkan jenis pisang lain yang umumnya baru dapat dipanen setelah 11 bulan.
"Bibitnya kami jual seharga Rp50 ribu per pohon. Selain lebih cepat panen, produktivitasnya juga lebih tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani," ujarnya.
Untuk menjaga keaslian varietasnya, Pisang Kepok Keling Tebingtinggi telah terdaftar sebagai varietas lokal dengan Nomor 697/PVL/2018 pada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Status tersebut menjadi bentuk perlindungan terhadap identitas komoditas khas Kota Tebingtinggi.
Selain Pisang Kepok Keling, Paviliun Pemerintah Kota Tebingtinggi juga menampilkan beragam produk unggulan lainnya, seperti produk UMKM, kerajinan ukir, dan kain tenun khas sebagai upaya memperluas akses pasar serta memperkenalkan potensi ekonomi daerah kepada masyarakat.
