-->

Kualuh: Dari Perpecahan Asahan, Masa Keemasan, hingga Hilang dalam Revolusi Sosial

Kalau kamu berdiri hari ini di Tanjung Pasir, Kualuh Selatan, Labuhanbatu Utara, yang kamu lihat adalah 22 dusun, 10.224 jiwa petani sawit dan nelayan

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                Gambar : Ilustrasi Istana Kualuh dan Mesjid Raya Tanjung Pasir

                                                       Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Kalau kamu berdiri hari ini di Tanjung Pasir, Kualuh Selatan, Labuhanbatu Utara, yang kamu lihat adalah 22 dusun, 10.224 jiwa petani sawit dan nelayan, dan satu masjid besar di tepi sungai yang keruh. Tidak ada istana. Tidak ada sisa tiang.

Padahal 200 tahun lalu, dari sungai inilah satu kerajaan Melayu berdiri.

BAB I: PERPECAHAN DI ASAHAN (1808-1813)

Semua bermula bukan di Kualuh, tapi di Kesultanan Asahan.

Kesultanan Asahan adalah kerajaan Melayu besar keturunan Aceh (Sultan Iskandar Muda) dan Panai (Puteri Siti Ungu), berdiri tahun 1630 dengan Sultan I Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, putra Sultan Aceh dan Puteri Panai. 

Di bawah Sultan Muhammad Hussein Syah, Asahan sangat disegani antara Serdang dan Siak. Pada tahun 1808-1813, Sultan Asahan VII, Sultan Muhammad Ali Syah mangkat. Tahta kosong. Muncul dua penuntut yang sama-sama kuat:

Raja Hussein / Hoesin  anak kandung Sultan yang baru mangkat.

Raja Muhammad Ishak  anak saudara Sultan, keponakan dari garis tua.

Di adat Melayu, keduanya sah. Inilah yang dalam naskah-naskah disebut sebagai, terjadi perebutan kekuasaan di antara anaknya, Raja Hussein dengan pihak anak saudaranya Raja Muhammad Ishak. Istana pecah dua. Para pembesar takut perang saudara. Maka mereka ambil jalan tengah paling Melayu: jangan bagi darah, bagi wilayah.

Keputusannya dicatat sangat jelas dalam Dokumen Sejarah Asahan:

Sebagai penyelesaian, Raja Muhammad Ishak diangkat menjadi Yang Dipertuan Negeri Kualuh yang sebelum ini adalah sebagian dari wilayah Asahan. Raja Hussein sendiri diangkat menjadi Sultan Asahan dengan gelar Sultan Muhammad Hussein Syah.

Raja Hoesin naik jadi Sultan Asahan (1813-1854). Raja Ishak diberi negeri di hilir Sungai Kualuh.

BAB II: LAHIRNYA KUALUH (1829)

Raja Ishak tidak langsung jadi Sultan. Dia harus menaklukkan dulu Negeri Kualuh yang saat itu masih wilayah semi-otonom.

Dalam tradisi lisan Tanjung Pasir, ini disebut sebagai perselisihan dan silang sengketa di dalam Kerajaan Asahan yang mengakibatkan ditetapkannya keputusan untuk memperluas wilayah dengan menyerang dan merampas negeri Kualuh.

Setelah Kualuh terampas, Raja Hoesin pulang ke Asahan. Dan, Raja Ishak berkuasa di Negeri Kualuh dan diberi nama Gelar yang dipertuan Muda pada tahun 1829 sebagai Raja di Kerajaan Kualuh

Tahun inilah yang jadi tahun resmi Kesultanan Kualuh.

Kualuh jadi unik di antara 4 kerajaan di Labuhanbatu Raya. Kalau Kota Pinang, Bilah, dan Panai satu darah (Sultannya dari keturunan Raja Pagaruyung), maka Sultan Kualuh darah Pagaruyungnya berasal dari garis ibu Sultan Asahan I (Puteri Siti Ungu, Puteri dari Raja Panai) :

Kesultanan Kualuh merupakan pecahan dari Kesultanan Asahan ketika terjadi perselisihan di dalam tubuh Kesultanan Asahan pada abad ke-19

Pusat pertama didirikan bukan di Tanjung Pasir, tapi di *Kampung Djatuhan Dadih* — yang sekarang kita kenal sebagai Kampung Mesjid, Kualuh Hilir.

BAB III: KENAPA DINAMAKAN KAMPUNG MESJID? (1873)

Ini bab yang paling sering hilang dari buku sejarah.

Pada tahun 1870-an, Kualuh dipimpin Sultan Ni’mat Syah. Di Mekah, ada seorang ulama muda asal Rokan yang sedang mengaji: Syekh Abdul Wahab.

Di Mekah itu juga ada Sultan Kualuh yang sedang berhaji. Guru mereka sama: Syekh M. Yunus. Syekh M. Yunus lalu berbisik ke Sultan:

Kepindahannya ke daerah ini adalah atas permintaan Sultan Kualuh sewaktu Syekh Abdul Wahab mengaji di Mekah, gurunya Syekh M. Yunus menyarankan kepada Sultan Kualuh yang waktu itu mengerjakan ibadah haji supaya sekembalinya kelak ke Indonesia, mengangkat Syekh Abdul Wahab menjadi guru.

Sultan setuju.

Sekembalinya ke Sumatera, pada Tahun 1873 M (1292 H) Ia membuka kampung baru pula di daerah Kualuh ini, dinamakannya dengan "Kampung Mesjid"

Orang inilah yang memberi nama:

Dalam sejarah penamaannya, Kampung Mesjid Kecamatan Kualuh Hilir diberi nama oleh seorang ulama besar yaitu Syekh Abdul Wahab Babussalam / Basilam

Syekh Abdul Wahab tidak hanya membuka kampung. Ia juga membangun masjid:

Salah satu tokoh sentral dalam dakwah Islam pada masa itu adalah Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, yang membangun masjid di Kampung Masjid, Kualuh Hilir, atas dukungan dari Sultan Ni’mat Syah

Kenapa dinamakan Kampung Mesjid? Karena masjid itu adalah segalanya. Di rawa-rawa rendah yang dikelilingi perairan itu, masjid jadi pusat tarekat Naqsyabandiyah, pusat ngaji, sekaligus pusat bandar dagang. Letaknya sangat strategis — dikelilingi areal perkebunan dan berada di pesisir Selat Malaka, jadi pintu gerbang perahu-perahu kecil yang mengangkut hasil bumi ke Semenanjung Malaya dan Singapura, dan membawa masuk senjata untuk laskar pejuang.

Maka nama Djatuhan Dadih hilang, diganti Kampung Mesjid — kampung yang dibuka oleh seorang ulama besar Sumatera Timur asal Rokan.

BAB IV: MASA KEEMASAN DAN PINDAH KE TANJUNG PASIR (1920-1937)

Kualuh diperintah oleh 4 orang Sultan secara turun-temurun.

Dari Kampung Mesjid, pusat kemudian dipindahkan ke Desa Tanjung Pasir. Yang memindahkan adalah Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah, pada tahun 1920 — beliau membangun istana baru di Tanjung Pasir.

Di masa inilah Kualuh paling kaya. Sungai Kualuh adalah jalan tol perdagangan lada dan rotan ke Selat Malaka. Nama Labuhanbatu sendiri lahir tahun 1862 ketika Belanda membangun dermaga batu di Sei Rakyat  (Panai Tengah).

Puncak kejayaan simboliknya adalah masjid.

Putri Sultan Muhammad Syah menikah dengan pangeran dari Kesultanan Langkat. Sang putri yang jadi permaisuri mengusulkan agar di Tanjung Pasir dibangun masjid besar.

Ketika Sultan berkunjung ke Tanjung Pura, Langkat, ia takjub pada Masjid Azizi. Karena ingin bersemenda dengan pihak Kesultanan Langkat, sepulang Sultan Kualuh ia bertitah: buatkan saya yang seperti itu, di Kualuh.

Maka:

Pada tahun 1920, Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Kualuh ke Tanjung Pasir dan membangun istana. Putrinya menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Langkat... Ketika Sultan mengunjungi Kerajaan Langkat, ia sangat terkesan dengan kemegahan Masjid Azizi dan meminta agar masjid yang akan dibangun di Tanjung Pasir memiliki desain serupa

Hasilnya adalah Masjid Raya Al-Haji Muhammad Syah, atau Masjid Raya Tanjung Pasir, didirikan pada tahun 1937. Bangunannya 20x20 meter, berdiri tidak jauh dari Sungai Kualuh.

Inilah satu-satunya bangunan kerajaan yang masih ada sampai sekarang.

BAB V: MALAM 3 MARET 1946 — SEMUANYA HILANG

Revolusi Sosial pecah di Sumatera Timur.

Tragedi menimpa pada masa Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946, ketika banyak bangsawan dan raja-raja di Sumatera Timur menjadi korban kekerasan kelompok revolusioner. Kesultanan Kualuh tidak luput

Kisah Kualuh paling tragis:

Sultan Kualuh, Tuan Alhadji Muhammad Syah, ditangkap saat sedang melaksanakan sholat Tahajjud di kediamannya, kemudian dibawa ke kawasan pemakaman Tionghoa dan dibunuh bersama keluarganya serta bangsawan lainnya. Harta benda mereka turut dirampas.

Istana Tanjung Pasir yang baru berumur 26 tahun dibakar dan dihancurkan. 

Istana yang merupakan jejak peninggalan kesultanan Kualuh ini tak bertahan dan tak menyisakan satupun tiangnya, sebab istana ini dihancurkan pada tahun 1946 oleh para pengganas revolusi sosial

Keturunan Kualuh banyak yang pindah ke daerah lain. Struktur kerajaan hilang semalam.

Yang tersisa hari ini:

1. Masjid Raya Tanjung Pasir (1937) — bukti fisik terakhir.

2. Nama Kampung Mesjid — bukti bahwa Islam dan tarekat pernah berpusat di sana, dibuka oleh Syekh Abdul Wahab pada 1873.

3. Cerita lisan — bahwa Kualuh lahir bukan dari penaklukan, tapi dari kompromi dua sepupu yang tidak mau saling bunuh.

Dari pertengkaran di Asahan (1813), lahir Kualuh (1829), dibuka Kampung Mesjid oleh seorang ulama Mekah (1873), jaya di Tanjung Pasir (1920-1937), dan hilang dalam satu malam (1946).

Share:
Komentar

Berita Terkini