-->

Cerita Bersambung Si Mardan Episode 6 : Simardan dan Lancang Hitam Rindu yang Membawa Pulang

Tanpa terasa, telah bertahun-tahun Simardan hidup berpetualang bersama komplotan lanun di perairan Selat Malaka. Sejak diculik ketika masih remaja, ia

Editor: PoskotaSumut.id author photo

 

                                                         Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Tanpa terasa, telah bertahun-tahun Simardan hidup berpetualang bersama komplotan lanun di perairan Selat Malaka. Sejak diculik ketika masih remaja, ia dibawa jauh dari kampung halamannya dan, mau tidak mau, terpaksa menjadi bagian dari komplotan bajak laut yang berkuasa di perairan tersebut.

Namun, di tengah kehidupan yang bermula dari sebuah penculikan itu, nasib Simardan perlahan berubah. Ia diasuh dengan baik oleh sang penculik, Raja Rompak, yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Sejak Simardan bergabung bersama mereka, kejayaan komplotan lanun itu seolah semakin terlihat.

Keberuntungan pun seperti selalu menyertai langkah mereka. Ketika Simardan telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, berani, dan berwibawa, Raja Rompak memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi panglima Lancang Hitam.

Di bawah kepemimpinannya, para anak buah lanun semakin disegani dan ditakuti oleh para pelaut yang melintasi Selat Malaka.

Lahirnya Lancang Hitam

Lancang Hitam merupakan sebuah kapal layar berukuran sedang dengan tiang layar utama yang kokoh dan tinggi di tengah lambung kapal. Kapal tersebut dibangun oleh Raja Rompak bersama komplotannya tidak lama setelah Simardan diculik dan menjadi bagian dari mereka.

Untuk membuat kapal yang tangguh, Raja Rompak mendatangkan para ahli pembuat kapal dari negeri Bugis di belahan Timur Nusantara.

Pada masa itu, orang-orang Bugis telah dikenal sebagai pelaut ulung sekaligus memiliki para pengrajin kapal yang terampil. Keahlian mereka dalam membuat kapal yang kuat dan mampu mengarungi lautan membuat nama mereka dikenal hingga ke berbagai negeri.

Kapal yang kemudian diberi nama Lancang Hitam itu dibuat dengan bentuk yang menyerupai kapal layar tradisional Nusantara. Berkat kapal tersebut, sepak terjang komplotan lanun Raja Rompak semakin tersohor ke berbagai negeri di sepanjang pesisir Selat Malaka.

Mereka bukan lagi sekadar sekelompok bajak laut kecil yang bersembunyi di pulau-pulau terpencil. Lancang Hitam telah menjelma menjadi kapal yang sangat ditakuti.

Simardan, Anak Angkat Pembawa Tuah

Dari hari ke hari, Raja Rompak semakin menyayangi putra angkatnya itu. Bagi Raja Rompak, Simardan bukan hanya seorang anak yang dahulu diculiknya dari sebuah teluk kecil di Aek Doras, tetapi juga dianggap membawa tuah bagi kehidupan mereka.

Teluk kecil itu berada di balik sebuah tanjung, tepat di kawasan pertemuan dua sungai besar. Sebelum kawasan tersebut berubah menjadi Pulau Simardan seperti yang dikenal kemudian, tempat itu masih berupa teluk.

Kini, remaja yang dahulu dilarikan dari kampung halamannya telah menjelma menjadi pemuda yang gagah dan pemberani. Ia ditakuti oleh lawan, tetapi disegani oleh kawan. Dalam asuhan Raja Rompak, Simardan sangat diperhatikan. Bahkan berbagai kesukaan dan kebiasaannya ketika masih kecil di kampung halaman tetap diingat oleh ayah angkatnya. Salah satunya adalah makanan kesukaannya.

Gulai masam ikan tetap menjadi menu favorit Simardan di atas Lancang Hitam.

Bedanya, ikan sungai yang dahulu biasa dimasakkan ibunya kini berganti dengan ikan laut seperti kakap, pari, mayung, badukang, maupun sembilang.

Ikan-ikan itu mereka peroleh dari hasil memancing ketika kapal sedang berlabuh di perairan yang agak tersembunyi, tidak jauh dari tepian pantai.

Seolah-olah rasa gulai itu mampu membawa Simardan kembali sejenak ke masa kecilnya.

Dari Bola Raga hingga Latihan Senjata

Di sela-sela kehidupan keras sebagai lanun, Simardan juga memiliki kebiasaan yang cukup berbeda. Ketika mereka sampai di pulau yang menjadi markas persembunyian, ia kerap bermain bola raga, permainan menggunakan bola yang terbuat dari anyaman rotan.

Ia bermain bersama anak buah kapal. Mereka tertawa, bersenda gurau, dan bertanding untuk menjaga kebugaran tubuh setelah berhari-hari berada di tengah laut. Namun, kesenangan itu tidak membuat Simardan melupakan kewajibannya. Ia tetap rajin berlatih ilmu bela diri.

Berbagai jenis senjata diasah penggunaannya. Gerakannya semakin cekatan, tubuhnya semakin kuat, dan kemampuannya dalam menghadapi pertarungan semakin matang.

Tidak mengherankan bila kemudian Raja Rompak mempercayakan kepemimpinan anak buah Lancang Hitam kepada pemuda tersebut.

Satu Keinginan yang Tak Pernah Terpenuhi

Namun, di balik segala kesenangan dan kedudukannya sebagai panglima, ada satu keinginan Simardan yang tidak pernah mampu dipenuhi oleh Raja Rompak. Simardan ingin pulang. Ia ingin kembali ke kampung tempat dirinya dibesarkan. Ia ingin menziarahi makam ibunya, mengenang masa kecil, sekaligus kembali melihat tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

Namun, keinginan itu selalu ditahan oleh Raja Rompak. Kepada Simardan, sang ayah angkat mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya karena sakit tua. Informasi tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa oleh kaki tangan Raja Rompak di kampung halaman Simardan. Sebab kenyataannya tidak demikian. 

Raja Rompak sengaja menutupi keadaan yang sebenarnya. Ia khawatir apabila Simardan pulang, pemuda itu tidak akan mau kembali ke Lancang Hitam. Lebih dari itu, Raja Rompak takut Simardan akan dikenali masyarakat sebagai panglima lanun yang selama ini ditakuti di lautan.

Pada masa itu, banyak orang maupun kelompok kerajaan yang memburu para lanun. Hadiah besar telah disiapkan bagi siapa saja yang berhasil menangkap mereka.Para kaki tangan kerajaan bahkan telah disebar ke berbagai wilayah.

Bisa saja mereka telah sampai ke kampung halaman Simardan. Raja Rompak tidak ingin mengambil risiko. Ia takut kepulangan Simardan akan menjadi awal kehancuran komplotan yang selama bertahun-tahun dibangunnya.

Firasat di Ujung Senja

Sampailah pada suatu hari ketika matahari mulai condong ke ufuk Barat. Langit perlahan berubah warna menjadi merah kejinggaan. Angin laut bertiup lembut menyapu permukaan kulit. Burung-burung camar dan burung laut lainnya terbang berkelompok menuju daratan. Mereka kembali ke sarang dan memenuhi pucuk-pucuk pohon yang berbaris rapat di sepanjang tepian pantai.

Sementara itu, di haluan Lancang Hitam, Simardan tampak duduk seorang diri. Kakinya dijuntai-juntaikan ke bawah haluan kapal. Layar kapal hanya dikembangkan sebagian. Lancang Hitam bergerak perlahan menuju arah Timur, meninggalkan pulau yang selama ini menjadi markas persembunyian mereka.

Entah mengapa, petang itu hati Simardan terasa begitu galau. Ada sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba wajah ibunya kembali hadir dalam ingatannya. Wajah perempuan yang dahulu mengandung, melahirkan, mengasuh, dan membesarkannya.

Bayangan sang ibu seolah bermain-main di pelupuk matanya. Ia teringat pelukan sang bunda. Teringat belaian tangan yang dahulu mengusap kepalanya. Teringat suara lembut yang memanggil namanya.

Kerinduan itu semakin lama semakin menyesakkan dada. Anehnya, setelah bertahun-tahun mendengar kabar bahwa ibunya telah meninggal, hati kecil Simardan masih belum sepenuhnya percaya. Ada firasat yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah ibunya masih hidup. Seolah-olah sang bunda masih menunggunya di suatu tempat yang jauh di Selatan Selat Malaka. Simardan terdiam cukup lama. Ia memandang garis cakrawala. Di sana hanya terlihat laut luas yang perlahan berubah gelap.

Langkah Diam-Diam

Setelah lama termenung, Simardan akhirnya bangkit. Ia meninggalkan haluan kapal dan berjalan menuju geladak.Langkahnya kemudian diarahkan ke bilik peristirahatan ayah angkatnya. Dari sebuah kisi-kisi lubang angin, Simardan mengintip ke dalam.

Raja Rompak ternyata sedang tertidur pulas. Suara dengkurannya terdengar teratur. Simardan memastikan sekali lagi. Ayah angkatnya benar-benar sedang lelap. Ia pun berbalik. Dengan langkah perlahan, tanpa menimbulkan suara, Simardan meninggalkan bilik tersebut.

Ia berjalan menuju ruang nakhoda. Entah apa yang hendak dilakukannya. Namun, satu hal pasti.

Kerinduan kepada sang ibu yang selama bertahun-tahun dipendamnya kini telah berubah menjadi tekad.

Dan malam itu, di atas Lancang Hitam yang sedang berlayar di tengah Selat Malaka, mungkin untuk pertama kalinya Simardan mulai berani memikirkan jalan untuk pulang. Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini