-->

Cerbung Si Mardan Episode 2 : Simardan Tumbuh Remaja, Kerinduan Sang Emak pada Suaminya yang Telah Tiada

Hari berganti hari, tahun pun berganti tahun. Kini, Simardan kecil telah tumbuh menjadi seorang remaja. Wajahnya tampan dengan kulit sawo matang. Tida

Editor: PoskotaSumut.id author photo


       Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Hari berganti hari, tahun pun berganti tahun. Kini, Simardan kecil telah tumbuh menjadi seorang remaja. Wajahnya tampan dengan kulit sawo matang. Tidak putih, tetapi juga tidak terlalu hitam. Parasnya terlihat gagah, ditopang tubuh tinggi, kekar, dan berotot. Sejak kecil, tubuh Simardan memang telah ditempa oleh pekerjaan sehari-hari. Ia rajin membantu emaknya di gubuk maupun di ladang.

Sosok Simardan semakin elok dipandang mata.

Seiring usianya beranjak dewasa, Simardan pun semakin sering ditinggal sendiri di gubuk ketika sang ibu harus pergi ke pasar. Namun, jika emaknya hendak masuk hutan atau pergi ke ladang, Simardan selalu meminta untuk ikut. Ia ingin membantu pekerjaan sang ibu.

Setiap kali pulang dari pasar, sang emak tak pernah lupa membawakan sesuatu sebagai buah tangan untuk putera kesayangannya.

Sering kali, sang ibu membelikan mainan atau membawakan bola yang terbuat dari anyaman rotan, sejenis bola keranjang, terutama jika bola milik Simardan yang lama sudah rusak atau mulai usang.

Simardan sangat gemar bermain bola rotan.

Jika sedang tidak bekerja, ia bisa bermain seharian di hamparan tanah kosong di tepi ladang dan sungai. Ia juga kerap bermain di hamparan perladangan yang telah selesai dipanen.

Tak jarang Simardan bermain bersama teman-teman sebayanya di kawasan itu. Karena asyik bermain, mereka terkadang sampai lupa waktu.

Sang Emak Gelisah Menanti

Pernah suatu hari, sang emak di gubuk gelisah menanti kepulangan putera kesayangannya.

Hari mulai beranjak gelap, tetapi Simardan belum juga tampak batang hidungnya.

Hati sang ibu mulai diliputi kecemasan. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap anaknya di ladang.

Jangan-jangan Simardan menjadi mangsa binatang buas.

Atau mungkin saja ia dilarikan perompak yang belakangan sering bersembunyi di sekitar daerah tempat tinggal mereka.

Para perompak laut itu memang beberapa kali melarikan diri dan bersembunyi di kawasan tersebut setelah dikejar penduduk dari Kampung Tanjung yang letaknya tidak begitu jauh di sebelah utara gubuk mereka.

Kawanan lanun itu biasanya beraksi di laut. Mereka memangsa para pelayar yang membawa barang dagangan menggunakan perahu layar untuk diperdagangkan ke negeri lain.

Tak jarang pula mereka mengincar para saudagar dari Kampung Tanjung yang hendak berdagang ke negeri seberang, ataupun sebaliknya.

Kekhawatiran sang ibu semakin menjadi-jadi.

Bulan mulai menampakkan senyumnya. Langit yang semula berwarna kuning kemerahan perlahan berubah menjadi temaram.

Namun, dari kejauhan tiba-tiba terlihat sosok Simardan.

Remaja itu berlari-lari kecil. Sesekali ia melompat melewati berbagai rintangan sambil menenteng bola rotan di tangannya.

Ia akhirnya pulang menuju gubuk mereka.

Lega hati sang emak melihat puteranya kembali dengan selamat.

Gulai Asam Kesukaan Simardan

Setelah melihat Simardan tiba, sang ibu pun beranjak menuju dapur.

Ia menyiapkan makanan kesukaan puteranya, yakni masakan perpaduan antara gulai arsik, masakan khas dari kampung asal mereka di hulu, dengan gulai ikan yang biasa dimasak masyarakat setempat.

Gulai tersebut menggunakan berbagai bumbu, di antaranya asam potong, yakni buah glugur yang diiris tipis kemudian dikeringkan. Ditambahkan pula asam belimbing sunti yang banyak tumbuh di sekitar ladang Simardan.

Rasanya asam dan pedas, dengan aroma bunga kincung yang turut dicampurkan ke dalam gulai.

Bumbu tersebut menjadi pengganti buah andaliman yang sudah sulit ditemukan oleh ibu Simardan sejak mereka pindah ke daerah tersebut.

Simardan menyebut masakan gulai ikan buatan emaknya itu sebagai “gule asam”.

Kesukaan Simardan adalah ketika sang ibu memasak gule asam menggunakan ikan baung sebagai lauknya. Hidangan itu biasanya semakin lengkap dengan anyang pakis sebagai sayur.

Ikan baung cukup mudah diperoleh dari Sungai Aek Doras. Begitu pula pucuk-pucuk daun pakis yang banyak tumbuh di tepian sungai.

Senandung di Tepian Sungai

Sudah menjadi kebiasaan Simardan, sebelum naik ke gubuk mereka, ia terlebih dahulu mandi dan membersihkan badan di tepian sungai.

Tepian sungai itu tepat berada di halaman depan gubuk mereka.

Simardan mandi berendam, kemudian naik ke jamban sambil membasuh tubuhnya. Jamban tersebut berupa batang kelapa yang telah dipotong-potong dan dijadikan lantai, dengan tiang penyangga dari batang nibung.

Jamban itu tidak hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, tetapi juga menjadi tempat membuang hajat. Kotoran langsung jatuh ke sungai dan terbawa arus.

Sambil membersihkan badan, Simardan bersiul merdu dan sesekali bersenandung kecil.

Suaranya begitu enak didengar.

Tanpa sepengetahuan Simardan, suara itu sering membuat sang ibu meneteskan air mata. Dari dalam gubuk, ia diam-diam mendengarkan senandung puteranya.

Sang emak hanyut dalam lamunan.

Ia teringat kepada mendiang suaminya yang telah lama tiada.

Dahulu, suaminya juga memiliki kebiasaan yang sama. Ia senang bersenandung ketika mandi, dengan aksen dan logat khas daerah hulu.

Kini, kebiasaan itu seperti diwariskan kepada puteranya.

Simardan pun senang bersenandung ketika mandi, meskipun aksen logat hulunya kini telah bercampur dengan logat masyarakat pesisir.

Sang ibu hanya bisa terdiam.

Dalam suara senandung puteranya, seolah ia kembali mendengar suara suaminya yang telah lama pergi.

(Bersambung)


Share:
Komentar

Berita Terkini