Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Dengan mengendap-endap, Simardan membuka pintu ruang nakhoda. Ia melakukannya perlahan agar engsel pintu tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Raja Rompak yang sedang terlelap di biliknya. Bilik sang raja berada tepat di sebelah ruang nakhoda.
Namun, suara gesekan pintu tetap terdengar.
Nakhoda kapal yang sedang memegang kemudi tersentak. Ia segera melirik ke arah pintu dengan penuh kewaspadaan. Perlahan pintu terbuka. Dalam keremangan cahaya malam, tampak seseorang menyelinap masuk.
Nakhoda sempat curiga. Tangannya tetap erat menggenggam kemudi, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun, ketegangannya segera berubah menjadi kelegaan setelah mengetahui siapa yang datang.
Ternyata, Panglima Kapal, Simardan.
Sang nakhoda menyambutnya dengan senyuman. Ia menundukkan kepala setengah sebagai tanda hormat, tanpa melepaskan tangannya dari kemudi.
Simardan mendekat. Ia menepuk-nepuk bahu sang nakhoda dengan lembut. Tanpa mengeluarkan suara, ia kemudian memberikan isyarat dengan jarinya.
Putar haluan ke Barat.
Menuju kuala Aek Doras.
Nakhoda sempat terdiam. Perintah tersebut jelas berbeda dengan rencana perjalanan mereka malam itu.
Simardan kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.
“Cari pelayar dari Aek Doras. Malam ini kita harus bertemu dengan mereka. Usahakan sebelum Raja Rompak terbangun.”
Sang nakhoda mengangguk.
Simardan lalu menjelaskan ciri-ciri khusus kapal atau perahu layar yang berasal dari Aek Doras. Menurutnya, bentuk kapal mereka sedikit berbeda dibandingkan kapal-kapal dari negeri lain.
Haluan kapal dari Aek Doras tidak terlalu tinggi, sedangkan bagian buritannya cenderung melebar, hampir menyerupai bentuk tongkang.
“Perhatikan baik-baik bentuk haluannya,” bisik Simardan. “Jangan sampai keliru.”
Setelah bertemu dengan pelaut yang mereka cari, Simardan memerintahkan agar Lancang Hitam kembali mengubah haluan ke Timur. Mereka harus kembali menjalankan rencana semula, yakni menyergap sasaran yang selama ini telah lama mereka intai.
Sasaran itu merupakan bagian dari perintah Raja Rompak.
Malam itu, target mereka adalah sebuah kapal dagang besar milik seorang saudagar muda.
Saudagar tersebut belum lama menikahi putri seorang saudagar kaya dari negeri Malaka. Dalam pelayarannya kali ini, sang saudagar muda membawa serta istrinya yang terkenal cantik rupawan.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju Negeri Siak di pesisir timur Pulau Andalas, wilayah yang kini dikenal sebagai Riau.
Menurut informasi yang diterima Raja Rompak dari mata-matanya beberapa hari sebelumnya, kapal saudagar muda tersebut diperkirakan telah meninggalkan wilayah perairan yang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Malaka.
Jika tidak ada perubahan rencana, atau jika kapal tersebut tidak singgah untuk berlabuh dan menunda perjalanan hingga pagi, malam itu kapal dagang tersebut seharusnya telah memasuki kawasan perairan bebas.
Itulah saat yang ditunggu-tunggu komplotan lanun.
Raja Rompak memang dikenal memiliki jaringan mata-mata yang tersebar di berbagai negeri pesisir di sepanjang Selat Malaka. Mereka ditugaskan mengumpulkan informasi mengenai calon mangsa.
Ada yang menyamar sebagai pedagang, nelayan, maupun rakyat biasa.
Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada Raja Rompak melalui kurir-kurir yang juga melakukan penyamaran.
Dengan jaringan mata-mata yang luas itu, pergerakan kapal-kapal dagang dapat mereka pantau dari jauh.
Menurut laporan yang telah diterima, saudagar muda yang juga merupakan menantu saudagar kaya dari negeri Malaka tersebut membawa banyak barang dagangan bernilai tinggi.
Tujuan pelayarannya adalah Negeri Siak. Dari Malaka di Tanah Semenanjung, kapal itu membawa berbagai barang dagangan untuk diperdagangkan di sana.
Namun, bukan hanya barang dagangan yang menjadi perhatian Raja Rompak.
Sang saudagar muda juga membawa istrinya yang cantik dalam perjalanan tersebut. Mereka bermaksud menikmati perjalanan sekaligus berbulan madu di Negeri Siak.
Dalam hikayat yang berkembang, kapal itulah yang kemudian dikenal sebagai kapal Sikantan, milik seorang saudagar muda kaya raya yang berasal dari negeri di kuala Sungai Barumun, kawasan yang kini dikenal sebagai Labuhan Bilik atau Panai.
Kapal Sikantan telah lama menjadi incaran Raja Rompak.
Jauh sebelum malam itu, orang-orang Raja Rompak telah disebar untuk mencari informasi mengenai perjalanan sang saudagar muda. Sebagian melakukan penyamaran di negeri Malaka dan Siak.
Sebagian lainnya berada di perairan sekitar kedua negeri tersebut dengan menyamar sebagai nelayan.
Setiap gerak-gerik kapal Sikantan diamati.
Kini, waktunya semakin dekat.
Namun, sebelum mengejar sasaran tersebut, Simardan memiliki urusan lain yang dianggapnya jauh lebih penting.
Atas tekanan sang Panglima Lanun, nakhoda Lancang Hitam terpaksa memutar haluan ke Barat.
Simardan mengingatkan sang nakhoda agar tidak melayarkan kapal terlalu cepat.
“Pelan saja. Jangan sampai raja terbangun,” pesannya.
Ia bahkan meminta agar layar yang dikembangkan hanya separuh dari seluruh jumlah layar yang tersedia.
Permintaan itu bukan tanpa alasan.
Lancang Hitam merupakan kapal yang terkenal memiliki kecepatan tinggi.
Kapal tersebut dilengkapi enam layar utama dan dua belas anak layar. Jika seluruh layar dikembangkan, Lancang Hitam mampu melaju dengan sangat cepat, membelah gelombang Selat Malaka.
Dalam keadaan darurat, kecepatannya masih dapat ditambah dengan bantuan para pendayung.
Terdapat sepuluh pendayung di sisi kanan dan sepuluh lainnya di sisi kiri kapal. Mereka berada di palka bagian bawah lambung kapal.
Ruang pendayung tersebut biasanya digunakan dalam keadaan sangat mendesak, misalnya ketika Lancang Hitam mengejar kapal yang berusaha melarikan diri.
Sebaliknya, para pendayung juga dapat dikerahkan ketika kapal itu harus meloloskan diri dari kejaran armada laut kerajaan-kerajaan yang memburunya di sepanjang Selat Malaka.
Lancang Hitam bukan kapal sembarangan.
Kapal layar itu dibuat dengan bentuk yang aerodinamis oleh para ahli pembuat kapal dari negeri Bugis. Lambungnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan dirancang untuk membelah ombak dengan cepat.
Di bawah kendali nakhoda yang berpengalaman, kapal tersebut mampu melaju dengan gagah di tengah gelombang Selat Malaka.
Malam itu, bagaimanapun, kecepatannya sengaja ditahan.
Hanya sebagian layar yang dikembangkan.
Lancang Hitam perlahan berbalik arah menuju Barat.
Tak lama kemudian, mereka mulai mendekati kuala Aek Doras.
Simardan mengetahui posisi tersebut dengan baik.
Dalam perjalanan sebelumnya, ketika mereka meninggalkan pulau yang menjadi markas persembunyian komplotan lanun—yang dalam kisah ini berada di sekitar Pulau Berhala—Simardan telah memperhatikan perjalanan mereka dengan saksama.
Kapal Lancang Hitam sebelumnya telah melewati kuala Aek Doras ketika menyusuri Selat Malaka menuju Timur untuk mencari dan mengintai mangsa.
Kini mereka kembali ke tempat yang sama.
Namun, tujuan Simardan bukan untuk sekadar singgah.
Ada seseorang yang sedang dicarinya.
Seseorang dari Aek Doras yang diyakininya dapat mengubah jalan cerita malam itu.
Sementara Raja Rompak masih terlelap di biliknya, Lancang Hitam terus bergerak perlahan menuju kuala.
Simardan berdiri di ruang kemudi, matanya menatap gelapnya perairan.
Ia menunggu.
Dan ia tahu, sebelum fajar menyingsing, sesuatu harus sudah ditemukan.
Bersambung...
