-->

Cerita Bersambung Si Mardan : Simardan Mengetahui Ibunya Masih Hidup, Amarahnya Meledak

Sosok lelaki muda yang gagah perkasa di hadapannya tampak begitu jauh berbeda dengan gambaran tentang seorang nenek tua yang disebut-sebut sudah gila.

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                                Oleh : Harunsyah Arsyad

Pemilik perahu layar itu masih ragu dengan janji yang diucapkan Simardan. Namun, seluruh tubuhnya telah dibasahi keringat dingin. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar. Dengkul dan seluruh persendian tulangnya terasa lemas, seakan hendak terlepas karena ketakutan.

Ia sangat takut nyawanya akan dihabisi jika tidak menceritakan apa yang diminta Simardan, terlebih jika sampai ketahuan berbohong.

Sejenak, ia belum mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Di dalam hati, berbagai pertanyaan berkecamuk.

Siapakah gerangan pemuda tampan dan gagah perkasa yang berdiri di hadapannya ini? Mengapa ia begitu ingin mengetahui keadaan orang tua aneh yang menurut cerita penduduk telah berpuako itu?

Orang tua aneh yang tinggal di tepian teluk kecil, tempat yang sepi dan terkenal angker.

Jangan-jangan pemuda ini adalah putra yang selama ini hilang itu? tanyanya dalam hati.

Namun, ia masih belum yakin.

Bagaimana mungkin?


Sosok lelaki muda yang gagah perkasa di hadapannya tampak begitu jauh berbeda dengan gambaran tentang seorang nenek tua yang disebut-sebut sudah gila.

Akhirnya, dikumpulkannya keberanian untuk menghilangkan rasa takut. Dengan suara terbata-bata, ia memberanikan diri bertanya.

“Apakah yang Tuan maksudkan itu seorang ibu tua yang tinggal di sebuah gubuk di tepian teluk kecil, di sisi Aek Doras, di sebelah selatan selat ini, di balik Kampung Tanjung?”

Simardan mengangguk.

Ia kemudian meminta saudagar kecil itu meneruskan ceritanya dan menyampaikan seluruh kabar yang diketahuinya.

Tampak jelas Simardan sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.

Mimik wajahnya berubah serius. Rasa penasaran begitu kuat. Ia ingin memastikan apakah benar firasat yang selama ini tersimpan di dalam hatinya: ibunya ternyata masih hidup.

Dengan sekujur tubuh yang masih gemetaran dan mulut yang terasa berat untuk berbicara, saudagar kecil itu kembali melanjutkan ceritanya.

“Karena saya sering berlayar ke seberang, sudah lama saya tidak mengetahui lagi keberadaan perempuan tua itu. Sepengetahuan saya, sejak kepergian anaknya yang menghilang karena diculik orang, sang ibu sudah tidak tahu lagi ke mana rimbanya anak tersebut.”

“Sejak saat itu pula, daerah di sekitar gubuknya menjadi terkenal angker.”

Menurut cerita yang beredar di kalangan penduduk sekitar Kampung Tanjung, tidak banyak orang yang berani mendekati kawasan tersebut, apalagi mendatangi gubuk tua tempat perempuan itu tinggal.

Banyak cerita beredar tentang anak-anak yang hilang dan tidak pernah ditemukan kembali setelah memasuki kawasan tersebut.

Pada malam hari, masyarakat bahkan kerap mendengar suara-suara aneh dari arah gubuk tua itu. Di tengah kesunyian malam, suara tersebut terkadang diselingi suara seorang nenek yang sedang bersinandong, melantunkan ratapan pilu yang terdengar menyayat hati.

Menurut penuturan orang-orang di sana, perempuan tua itu kini telah menjadi gila.

Jiwanya terguncang karena setiap hari hanya memikirkan nasib anaknya yang hilang, dibawa orang entah ke mana.

Mendengar penuturan saudagar kecil itu, Simardan bagaikan disambar geledek.

Ia terhenyak.

Wajahnya yang semula tenang dan berwibawa mendadak memerah. Dahinya berkerut. Dadanya turun naik dengan napas yang tak beraturan.

Sekonyong-konyong, tanpa mampu lagi menahan gejolak di dalam dadanya, Simardan berteriak lantang.


Ia memaki-maki ayah angkatnya, Raja Rompak, dengan kata-kata penuh kemarahan.

Simardan bagaikan kehilangan kendali setelah mengetahui kenyataan bahwa selama ini Raja Rompak telah membohonginya.

Beruntung, teriakannya tidak sampai terdengar oleh Raja Rompak yang sedang tertidur pulas di atas kapal, di dalam bilik yang tertutup rapat.

Barangkali sang raja sedang terbuai dalam mimpi indahnya, tanpa mengetahui bahwa kebohongannya mulai terbongkar.

Sementara itu, ketiga penumpang perahu layar tersebut justru semakin ketakutan.

Tubuh mereka menggigil.

Wajah mereka pucat pasi. Pandangan mereka kosong, seakan-akan sudah tidak memiliki harapan untuk menyelamatkan diri.

Mereka bertiga tidak mampu lagi membayangkan apa yang akan terjadi setelah itu.

Belati yang masih terselip di pinggang Simardan seolah-olah siap tercabut dan menghunjam ke dada mereka sewaktu-waktu.

Salah seorang di antara mereka bahkan sudah tidak sanggup menahan rasa takut. Tubuhnya tiba-tiba lunglai dan jatuh pingsan.

Ia tidak sadarkan diri.

Melihat keadaan itu, Simardan tersadar.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan amarah dan menenangkan pikirannya.

Matanya yang mulai memerah kembali menatap tajam ke arah kedua mata sang pemilik perahu layar. Tatapannya kemudian berpindah kepada seorang lainnya.

Dengan mengacungkan jari telunjuk, Simardan memberikan peringatan keras.

“Rahasiakan semua berita ini!”

Mereka hanya bisa diam mendengarkan.

“Jangan sekali-kali kalian menceritakan apa yang kalian dengar hari ini kepada siapa pun. Jika sampai berita ini tersebar, nyawa kalian akan melayang. Ke mana pun kalian bersembunyi, akan kucari!”

Ancaman itu membuat kedua lelaki tersebut semakin pucat.

Setelah suasana sedikit mereda, Simardan menghela napas panjang.

Ia kemudian meminta ketiganya melepaskan baju masing-masing.

Pakaian mereka telah kotor dan ternoda oleh percikan darah yang keluar dari mulut ketika mereka dilumpuhkan Simardan sebelumnya.

“Lepaskan baju kalian. Ganti dengan pakaian lain yang kalian bawa.”

Mereka segera menuruti perintah tersebut.

Pakaian yang telah berlumuran darah kemudian diambil Simardan.

Setelah itu, Simardan melepaskan ikat kepalanya yang unik dan khas. Ikat kepala tersebut selama ini setia menutupi dahi serta bagian atas rambut hitamnya yang bergelombang dan terurai hingga sebahu.

Simardan lalu memandang ketiga orang tersebut.

“Jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku hendak naik sebentar ke kapalku untuk suatu urusan. Setelah itu aku akan segera kembali ke perahu kalian.”

Tanpa banyak bicara lagi, Simardan bersiap meninggalkan mereka.

Namun, di balik langkahnya yang tampak tenang, pikirannya kini dipenuhi satu hal:

Ibunya masih hidup.

Setelah sekian lama meyakini bahwa perempuan yang melahirkannya telah tiada, kini sebuah kabar membuka kembali harapan yang selama ini terkubur.

Dan jika benar perempuan tua di tepian Aek Doras itu adalah ibunya, maka Simardan tidak akan berhenti sebelum menemukan kebenaran tentang masa lalunya. Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini