Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Pada suatu sore, di sebuah hamparan lahan perladangan yang baru beberapa hari selesai dipanen, Simardan tampak asyik bermain bola seorang diri.
Lahan itu merupakan sawah tadah hujan yang setelah selesai dipanen dibiarkan begitu saja hingga musim penghujan tiba. Pada masa itu, masyarakat di daerah Simardan memang lazim bercocok tanam padi dengan sistem tadah hujan. Masa panennya pun umumnya hanya sekali dalam setahun.
Di hamparan lahan kering seperti itulah Simardan bersama teman-teman sebayanya biasa bermain bola.
Terkadang ia bermain bersama kawan-kawannya. Namun, bila sedang sendirian, ia tetap bermain untuk mengasah kemampuan sekaligus mengisi waktu luang sambil menunggu sang emak pulang dari pasar.
Sore itu, Simardan kembali bermain seorang diri di tepian sungai.
Daratannya landai dan dipenuhi pasir, sebagaimana karakter tanah di kawasan hilir Aek Doras. Teman-teman sebaya Simardan sedang sibuk membantu orang tua mereka memanen padi di petak sawah masing-masing.
Sementara sawah milik Simardan dan emaknya telah selesai dipanen sehari sebelumnya. Mereka dibantu para ibu pemilik sawah di sekitar kawasan itu secara bergotong royong.
Kini, giliran ibu Simardan membantu memanen padi di sawah tetangga.
Bola Rotan yang Seolah Menyatu dengan Tubuh
Sendirian di tepian sungai yang berpasir, Simardan menunjukkan kepiawaiannya memainkan bola rotan.
Bola bundar itu dipindah-pindahkannya dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya.
Mulanya dari kaki, kemudian ke paha, dada, bahu, hingga kepala.
Gerakannya begitu lincah dan terampil. Bola rotan seakan telah menyatu dengan tubuhnya.
Simardan terus memainkan bola itu tanpa pernah kehilangan keseimbangan.
Jika dilihat dari kejauhan, kepiawaiannya seperti seorang pemain sirkus yang sedang mempertunjukkan atraksi mengolah bola di atas panggung.
Ia begitu menikmati permainan tersebut.
Namun, di tengah keasyikannya, Simardan tidak menyadari bahwa sejak tadi ada tiga pasang mata yang mengawasinya dari balik rimbunan semak belukar di tepian sungai.
Salah seorang di antara mereka adalah pria berbadan besar dengan wajah dipenuhi bulu atau brewok. Kepalanya plontos dan ditutup dengan sebuah bando berwarna merah.
Pria itu kemudian berbisik kepada dua orang rekannya.
Sepertinya mereka sedang menyusun sebuah rencana.
Dan rencana itu bukanlah sesuatu yang baik.
Mereka berniat menculik Simardan.
Anak itu hendak dijadikan tameng untuk membantu mereka meloloskan diri dari kawasan tersebut. Jika berhasil selamat dan ikut bersama mereka, Simardan bahkan direncanakan menjadi pembantu komplotan mereka.
Ternyata ketiga orang tersebut adalah bagian dari kawanan lanun yang baru saja gagal melakukan aksi kejahatan di laut.
Lanun yang Melarikan Diri
Sebelumnya, kawanan lanun itu beraksi di laut.
Namun aksi mereka diketahui para pelaut yang kemudian mengejar dan menghadang mereka secara beramai-ramai.
Awalnya para lanun melakukan perlawanan.
Mereka menantang para pelaut yang mengejar.
Pertempuran pun tak terhindarkan.
Akan tetapi, jumlah massa yang menyerang semakin banyak. Dalam pertempuran tersebut, sebagian besar anggota kawanan lanun tewas.
Kapal mereka kemudian dibakar oleh penduduk.
Sebagian lanun yang masih hidup memilih melarikan diri.
Mereka masuk ke aliran Aek Doras, kemudian bersembunyi di paluh-paluh dan menyusup ke kawasan hutan yang berada di sepanjang tepian sungai.
Di tempat persembunyian itulah mereka kemudian melihat Simardan yang sedang bermain seorang diri.
Kesempatan itu dianggap sebagai jalan keluar.
Mereka pun mulai merencanakan penculikan terhadap anak tersebut.
Sang Emak Pulang dari Pasar
Sementara itu, di tempat lain, ibu Simardan baru saja menambatkan perahu kecilnya.
Perahu tersebut diikat pada sebatang nibung yang sengaja dipancangkan di tepian sungai, tepat di depan gubuk mereka.
Sang ibu baru saja pulang dari pasar setelah sebelumnya membantu para tetangganya di perladangan.
Tubuhnya tampak lelah.
Saat perahu menyentuh tepian dan bergoyang, seekor udang gantung yang berada di balik tiang nibung tiba-tiba melompat.
Udang sungai itu terkejut akibat tiang tempatnya bersembunyi terguncang ketika sisi perahu ibu Simardan menyentuhnya.
Sang ibu tidak menghiraukannya.
Ia segera menambatkan perahunya, lalu tergesa-gesa menuju gubuk untuk mencari putera semata wayangnya.
Air Aek Doras—yang kini dikenal sebagai Sungai Asahan—pada masa itu digambarkan masih bersih dan bening kehijauan.
Ikan-ikan kecil berenang bergerombol di tepian sungai. Keindahan itu berpadu dengan rimbunan pepohonan besar yang tumbuh subur di sepanjang kawasan tersebut.
Namun, sore itu suasana hati ibu Simardan justru tidak nyaman.
Pikirannya terus tertuju kepada puteranya.
Di mana Simardan?
Sejak tiba di tepian sungai, ia tidak mendengar suara anaknya.
Padahal biasanya, Simardan selalu menunggu kepulangannya di depan pintu, tepat di atas tangga gubuk mereka.
Sang ibu mulai diliputi rasa waswas.
Tak biasanya puteranya meninggalkan gubuk atau bermain terlalu lama ketika dirinya pergi ke pasar.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan sigap, sang ibu melompat dari perahu ke daratan.
Ia kemudian bergegas menuju gubuk.
Langkahnya semakin cepat.
Di dalam hatinya berkecamuk berbagai kekhawatiran.
“Pastilah ada sesuatu yang terjadi pada Simardan, putra tunggalku,” begitu suara hatinya.
Simardan Digelandang Para Lanun
Sementara itu, di tempat lain, kekhawatiran sang ibu ternyata bukan tanpa alasan.
Simardan sudah berada dalam cengkeraman para penjahat.
Tangan dan kakinya telah diikat.
Anak itu tidak berdaya.
Ia kemudian digelandang menuju sebuah perahu milik penduduk yang sebelumnya telah dicuri oleh para lanun.
Perahu tersebut mereka sembunyikan di sela-sela rimbunan semak belukar, di sebuah paluh kecil yang letaknya tidak jauh dari tempat Simardan bermain.
Tanpa diketahui sang ibu, putera semata wayangnya kini sedang dibawa pergi oleh para lanun. (Bersambung)
