![]() |
Oleh: Harunsyah Arsyad |
Bertahun-tahun sudah Simardan meninggalkan ibunya hidup seorang diri di tepian teluk kecil itu, tanpa kabar berita. Sang emak kini terlihat semakin tua. Rambutnya telah memutih, dibiarkan menggarabang tanpa terurus.
Kulitnya kering dan penuh keriput. Tubuhnya pun semakin kurus hingga terlihat kecil dan ringkih. Sejak kehilangan putera tercintanya, jiwa sang ibu terguncang hebat. Pikirannya perlahan terganggu, seolah tak mampu menerima kenyataan bahwa Simardan telah lama pergi meninggalkannya.
Ketika malam tiba dan hari mulai gelap, sepanjang malam ia habiskan seorang diri dengan bersenandung lagu-lagu pilu di tengah kesunyian. Ratapannya terdengar sedih dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya dari tepian sungai.
Jika kesedihannya telah mencapai puncak, tingkahnya berubah. Ia seperti memasuki alam lain, seolah dirasuki sesuatu yang tidak kasatmata. Halusinasi mulai menguasai pikirannya.
Dalam keadaan seperti itu, ia turun dari bawah gubuknya, kemudian berlari menuju tepian sungai.
Di sana, ia memukul-mukul tiang pancang yang terbuat dari batang nibung. Tiang itu dipukulnya seperti gendang sembari memanggil-manggil nama anaknya.
“Simardan... Simardan...”
Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama pukulan. Semakin kencang tiang nibung itu dipukul, semakin liar pula gerakan tubuhnya. Luapan kesedihan dan kerinduan yang selama ini tertahan di dalam kalbu seolah tumpah seluruhnya dalam gerakan tersebut.
Semakin larut malam, semakin larut pula alam pikirannya. Jiwa yang kosong membuat kesadarannya seakan terbang jauh meninggalkan dunia nyata. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, saat-saat seperti itulah berbagai makhluk halus yang mendiami kawasan tersebut dipercaya mendekati dan memasuki raganya yang sedang lemah.
Pada siang hari, ketika matahari memancarkan sinarnya, barulah emak Simardan dapat tertidur pulas di atas ranjang tuanya.
Namun, jika siang hari ia tidak juga bisa tidur, ia akan mendatangi sebuah ladang kosong, tempat Simardan dahulu biasa bermain-main.
Seolah tidak ada lagi siang dan malam baginya tanpa kenangan tentang Simardan. Hanya ketika tertidur, pikirannya sejenak terbebas dari bayang-bayang anaknya.
Sesekali, ketika rasa rindu terhadap masa-masa kebersamaan mereka kembali datang, ia memasak makanan kesukaan Simardan semasa kecil.
Gulai masam ikan baung lengkap dengan sayur anyang pakis yang ditaburi serundeng kelapa.
Setelah makanan itu selesai dimasak, ia membawanya ke tepian sungai. Di sana, hidangan tersebut dihanyutkannya ke air sembari kembali bersenandung lagu-lagu pilu.
Pemandangan itu tampak seperti sebuah prosesi ritual. Seolah-olah sang emak sedang memberikan jamuan kepada makhluk-makhluk lain yang dipercaya mendiami tepian sungai tersebut.
Kebiasaan itu terus dilakukannya dari hari ke hari. Lama-kelamaan, menurut kepercayaan masyarakat setempat, sang ibu tua seakan mampu berkomunikasi secara gaib dengan para jembalang dan jin yang dipercaya menjadi penunggu wilayah tersebut.
Hubungan aneh itu pun seolah berubah menjadi sebuah persahabatan yang tidak lazim. Sang nenek dipercaya telah bersahabat dengan berbagai makhluk halus, mulai dari jembalang tanah, jembalang sungai, jembalang batu, jembalang pohon, hingga makhluk-makhluk gaib lainnya yang dipercaya menghuni kawasan tersebut.
Sejak saat itu, penduduk sekitar dan orang-orang di Kampung Tanjung, di sebelah utara gubuknya, mulai menyebut sang nenek telah “bapuako”. (Bersambung)
