Jejak Kepercayaan Leluhur, Jalur Perdagangan dan Munculnya Sang Panglima Lancang Hitam
Oleh: Harunsyah Arsyad
Sebelum kita memasuki kisah kehidupan Simardan, ada satu hal penting yang perlu diketahui bersama: agama Islam maupun agama-agama besar lainnya belum dikenal oleh masyarakat tempat orang tua Simardan bermukim ketika masih berada di kawasan hulu.
Pada masa itu, masyarakat masih menganut kepercayaan leluhur atau yang dalam tradisi setempat dikenal sebagai pelbegu.
Kepercayaan tersebut diwariskan turun-temurun dari nenek moyang. Mereka meyakini adanya kekuatan yang bersemayam pada alam dan berbagai makhluk, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak kasatmata.
Gunung, sungai, laut, pepohonan, batu-batuan, bahkan berbagai benda dan makhluk hidup lainnya diyakini memiliki kekuatan tertentu yang dapat memberikan pertolongan maupun perlindungan.
Arwah para leluhur pun mendapat tempat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat ketika itu.
Mereka memuja dan menghormati leluhur sebagai bagian dari keyakinan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari kawasan hulu itulah, dalam kisah yang berkembang, orang tua Simardan kemudian melakukan migrasi hingga akhirnya bermukim di kawasan hilir Aek Doras, wilayah pesisir timur Pulau Andalas.
Perpindahan dari hulu menuju hilir bukan hanya mengubah tempat tinggal.
Ia juga mempertemukan mereka dengan dunia yang jauh lebih luas.
Ketika Islam Mulai Menyusuri Pesisir
Pada masa yang sama, negeri-negeri di kawasan pesisir telah lebih dahulu berhubungan dengan dunia luar melalui jalur perdagangan.
Para saudagar dari berbagai negeri datang membawa barang dagangan sekaligus membawa kebudayaan, pengetahuan dan keyakinan yang mereka anut.
Islam mulai dikenal di sejumlah kawasan pesisir melalui hubungan perdagangan dan pergaulan antarmasyarakat.
Pada tahap awal, ajaran tersebut lebih banyak dikenal di lingkungan bangsawan dan pusat-pusat kekuasaan. Para bangsawan memiliki hubungan yang lebih luas dengan saudagar asing maupun penguasa dari negeri-negeri sahabat yang telah lebih dahulu menerima Islam.
Dari lingkungan istana dan pusat perdagangan, ajaran tersebut kemudian perlahan menyebar ke masyarakat.
Para saudagar dari jazirah Arab sendiri telah lama mengenal Pulau Andalas melalui jalur perdagangan.
Pada masa lampau, pulau ini dikenal dengan berbagai nama. Di antaranya Swarnadwipa atau Swarnabhumi, yang berkaitan dengan sebutan “pulau emas” atau “tanah emas”.
Pulau ini juga dikenal dengan nama Percha dalam sejumlah sumber lama.
Dalam catatan dunia kuno, Pulau Andalas bahkan memiliki nama lain.
Seorang pelaut Yunani yang melakukan perjalanan hingga kawasan ini menyebutnya Taprobana, yang dikaitkan dengan istilah Sanskerta Tamrapani.
Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa Pulau Andalas sejak berabad-abad silam telah berada dalam jaringan pergaulan dunia.
Barus dan Jejak Saudagar dari Barat
Jauh sebelum Islam berkembang luas di Nusantara, kawasan pantai barat Pulau Andalas telah menjadi salah satu simpul perdagangan penting.
Salah satunya adalah Barus.
Negeri ini dikenal karena menghasilkan kapur barus, komoditas bernilai tinggi yang menjadi salah satu daya tarik perdagangan dunia pada masa lampau.
Kapur barus digunakan antara lain sebagai bahan pengawet dan wewangian.
Komoditas tersebut membuat Barus memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai kawasan jauh di luar Pulau Andalas.
Dalam perkembangan berikutnya, jejak masyarakat Arab juga ditemukan di kawasan Barus. Hal itu menjadi salah satu gambaran mengenai berlangsungnya hubungan antara dunia Islam dengan wilayah Nusantara sejak masa awal perkembangan Islam.
Namun, perkembangan agama dan kebudayaan di pesisir timur Pulau Andalas berjalan dengan dinamika yang berbeda.
Pada periode awal perkembangan Islam, kawasan tersebut masih kuat dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha yang diwariskan dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya.
Warisan Hindu-Buddha di Pesisir Timur
Kawasan pesisir timur Pulau Andalas sejak lama berada dalam pengaruh kerajaan-kerajaan besar.
Sriwijaya merupakan salah satu kekuatan besar yang pernah menguasai dan memengaruhi kawasan Nusantara.
Setelah kekuatan Sriwijaya melemah, muncul kerajaan-kerajaan lain yang melanjutkan pengaruh politik dan kebudayaan di kawasan Melayu.
Salah satunya adalah Kerajaan Dharmasraya, yang memiliki pengaruh besar di kawasan Melayu pada masanya.
Tradisi Hindu dan Buddha kemudian berbaur dengan kebudayaan lokal.
Dalam kehidupan masyarakat, berbagai bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur dan kekuatan gaib dapat bertahan sebagai tradisi, bahkan setelah agama-agama baru mulai berkembang.
Karena itu, ketika Islam kemudian berkembang semakin luas, proses perubahan keyakinan tidak selalu berlangsung secara tiba-tiba.
Tradisi lama dan keyakinan baru dapat hidup berdampingan dalam suatu masa transisi yang panjang.
Jejak masa lalu tersebut terkadang masih terlihat dalam berbagai kebiasaan masyarakat.
Namun, untuk sementara, biarlah kita tinggalkan terlebih dahulu dinamika kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Pulau Andalas.
Karena kisah kita akan membawa perjalanan menuju lautan.
Menuju Selat Malaka.
Menuju sebuah kapal yang namanya telah lama dibisikkan dengan rasa takut oleh para pelaut.
Lancang Hitam di Tengah Selat Malaka
Jauh di tengah laut, di sebuah pulau karang kecil, bersemayamlah seorang raja lanun.
Namanya Raja Rompak.
Ia tengah bermalas-malasan di atas singgasananya, bersandar pada bantal-bantal empuk di dalam kapal layar yang menjadi markas sekaligus kediamannya.
Kapal itu bernama Lancang Hitam.
Lancang berukuran sedang tersebut memiliki tiang layar dan panji berwarna hitam. Pada panjinya tergambar tengkorak putih bersilang.
Bagi para pelaut dan saudagar yang melintasi Selat Malaka, pemandangan kapal itu bukan sesuatu yang ingin mereka temui.
Lancang Hitam adalah ancaman.
Ketika malam tiba, banyak pelaut memilih menepi dan menjatuhkan jangkar hingga pagi.
Mereka yang terpaksa melanjutkan perjalanan berusaha menghindari jalur yang mungkin menjadi tempat pengintaian kapal lanun tersebut.
Lampu kapal dipadamkan.
Jalur pelayaran diubah.
Semua dilakukan demi satu tujuan:
jangan sampai bertemu Lancang Hitam.
Di dalam kapal itu terdapat lebih dari 25 anak buah Raja Rompak.
Tubuh mereka kekar dan terlatih. Mereka mahir menggunakan berbagai senjata tajam dan memiliki kemampuan bertempur, baik di laut maupun di darat.
Meski jumlahnya tidak besar, kelompok ini terkenal tangguh.
Mereka bahkan pernah menghadapi serangan pasukan kerajaan yang jumlahnya jauh lebih besar.
Lebih dari seratus prajurit pernah mengepung mereka.
Namun, serangan itu berakhir dengan kegagalan.
Pasukan kerajaan justru dipukul mundur.
Raja-Raja Selat Malaka Mulai Gelisah
Kerajaan-kerajaan besar di sepanjang Selat Malaka sebenarnya memiliki tanggung jawab menjaga keamanan jalur pelayaran.
Kerajaan-kerajaan kecil di kawasan tersebut membayar upeti sebagai bagian dari sistem perlindungan dan keamanan wilayah.
Namun keberadaan Lancang Hitam membuat para penguasa tersebut menghadapi masalah besar.
Para lanun itu tidak hanya mengganggu para saudagar.
Mereka juga menguji kewibawaan kerajaan-kerajaan yang selama ini mengklaim mampu menjaga keamanan Selat Malaka.
Berbagai strategi mulai disusun.
Armada diperkuat.
Pasukan ditambah.
Tetapi Lancang Hitam masih tetap menjadi momok.
Di balik kekuatan kelompok lanun tersebut terdapat seorang panglima muda yang berbeda dari anak buah lainnya.
Ia masih muda.
Perawakannya gagah.
Wajahnya tampan.
Pembawaannya tenang dan berwibawa.
Ia tidak banyak bicara, tetapi disegani oleh seluruh anak buah Lancang Hitam.
Matanya tajam seperti mata elang.
Alisnya hitam dan tebal.
Setiap gerakannya penuh perhitungan.
Dialah Simardan.
Simardan, Putra dari Selatan Kampung Tanjung
Simardan dikenal sebagai putra dari Selatan Kampung Tanjung, sebuah kampung yang berada di kawasan tanjung, di pertemuan dua sungai besar.
Di tempat itulah perjalanan hidupnya bermula.
Namun, kehidupan membawanya jauh dari kampung halaman.
Sejak masih remaja, Simardan telah diasuh oleh Raja Rompak.
Ia tumbuh di atas kapal Lancang Hitam.
Di sanalah ia belajar mengenal laut.
Belajar membaca arah angin.
Belajar memahami gelombang.
Belajar menggunakan senjata.
Dan yang paling penting, belajar bertahan hidup di tengah kerasnya dunia para lanun.
Tahun demi tahun berlalu.
Remaja itu tumbuh menjadi seorang pemuda.
Pemuda yang gagah.
Tenang.
Pemberani.
Dan memiliki kemampuan memimpin.
Bagi Raja Rompak, Simardan bukan lagi sekadar anak angkat.
Ia telah menjadi orang kepercayaan.
Sementara bagi para anak buah Lancang Hitam, Simardan adalah panglima muda yang mereka hormati.
Namun, di balik sosok gagah sang panglima, tersimpan sebuah kisah panjang tentang asal-usul, keluarga, tanah kelahiran, perjalanan hidup, dan takdir yang kelak akan membawanya kembali berhadapan dengan masa lalunya sendiri.
Siapakah sebenarnya Simardan?
Bagaimana perjalanan seorang pemuda dari kawasan sungai itu hingga menjadi panglima yang ditakuti di Selat Malaka?
Dan bagaimana pula kisahnya berakhir?
Bersambung.





