-->

Cerita Bersambung Simardan Episode 8 : Simardan Memburu Jejak Sang Ibu di Dikuala Aek Doras

Malam semakin pekat ketika Lancang Hitam perlahan memasuki perairan Kuala Aek Doras. Kala itu, sungai besar tersebut belum dikenal dengan nama Sungai

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Oleh : Harunsyah Arsyad

Ditulis berdasarkan kisah/narasi Simardan

Malam semakin pekat ketika Lancang Hitam perlahan memasuki perairan Kuala Aek Doras. Kala itu, sungai besar tersebut belum dikenal dengan nama Sungai Asahan seperti sekarang.

Angin malam bertiup lembut. Permukaan air tenang, hanya sesekali beriak diterpa hembusan angin dari laut.

Di haluan kapal, Simardan, sang panglima, berdiri dengan pandangan tajam mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Tak lama kemudian, ia memberi perintah kepada nakhoda agar seluruh layar yang terkembang segera diturunkan.

“Turunkan semua layar. Kita berhenti di sini.”

Perintah itu segera diteruskan kepada para kelasi.

Namun malam itu Simardan tidak ingin suaranya terdengar jauh. Ia dan sang nakhoda lebih banyak menggunakan bahasa isyarat. Para kelasi pun bergerak dengan hati-hati, menurunkan layar tanpa menimbulkan banyak suara.

Setelah layar terkembang dilipat dan diamankan, Simardan kembali memberi perintah.

“Padamkan semua pelita.”

Satu demi satu pelita di lorong dan bilik-bilik kapal dipadamkan.

Pelita-pelita itu sebenarnya cukup beragam. Ada yang wadahnya terbuat dari perak, kuningan, tembaga hingga besi tuangan. Ada pula yang menggunakan batu pualam berukuran besar dan sedang.

Sementara pelita-pelita kecil yang ditempatkan di dinding kapal umumnya menggunakan wadah dari tembikar.

Bahan bakarnya berasal dari lemak hewani yang telah disimpan sebagai persediaan perjalanan. Lemak tersebut tersusun rapi dalam beberapa drum kayu di dalam palka kapal.

Kini hampir seluruh Lancang Hitam tenggelam dalam kegelapan.

Hanya satu pelita yang tetap dibiarkan menyala.

Pelita di bilik sang juragan.

Simardan sengaja tidak memerintahkan lampu di bilik itu dipadamkan. Ia tidak ingin ayah angkatnya, Raja Rompak, terbangun dari tidurnya.

Setelah jangkar diturunkan, Lancang Hitam pun berhenti di kuala.

Dalam kesunyian malam itu, para awak kapal menunggu dengan waspada.

Tak seorang pun mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikiran Simardan.

Namun jauh di dalam hatinya, pemuda itu hanya memiliki satu tujuan.

Ia ingin menemukan ibunya.

Bayangan Layar di Tengah Gelap

Tidak lama setelah mereka berlabuh, dari kejauhan tampak sebuah bayangan putih bergerak perlahan di atas permukaan air.

Sebuah layar.

Bayangan itu semakin lama semakin mendekat.

Simardan yang sejak tadi mengawasi sungai segera memberi perhatian lebih.

Sebuah perahu layar sedang bergerak dari arah hulu menuju muara. Ukurannya tidak besar, tetapi terlihat sarat dengan muatan barang dagangan.

Ketika jaraknya semakin dekat, tiga orang yang berada di atas perahu mulai melihat sesuatu yang membuat mereka terkejut.

Di hadapan mereka, dalam kegelapan, tampak sebuah kapal besar yang sedang berlabuh.

Mereka mengenalinya.

Lancang Hitam.

Kapal yang namanya telah menjadi momok bagi para pelaut dan saudagar yang melintasi perairan tersebut.

Nakhoda perahu kecil itu sontak panik.

Ia berusaha mengubah arah haluan dan kembali memasuki sungai.

Namun semuanya sudah terlambat.

Lancang Hitam segera bergerak mengejar.

Dengan ukuran yang jauh lebih besar, kapal lanun itu dengan cepat mendekati perahu kecil tersebut.

Para penumpangnya semakin ketakutan.

Mereka tahu, jika tertangkap, keselamatan mereka berada di ujung tanduk.

Lancang Hitam akhirnya merapat di sisi kanan perahu dagang itu.

Dalam sekejap, Simardan melompat dari kapal besar ke perahu kecil.

Gerakannya begitu cepat.

Tiga orang yang berada di atas perahu tak sempat melakukan perlawanan berarti.

Dengan beberapa gerakan, Simardan berhasil melumpuhkan mereka.

Ketiganya terkapar di geladak.

Simardan kemudian berdiri tegak dan memandang mereka satu per satu.

Suaranya terdengar tenang, tetapi penuh tekanan.

“Siapa pemilik perahu ini?”

Seorang lelaki paruh baya yang terjatuh tertelungkup di bagian buritan perlahan mengangkat kepalanya.

Dengan suara gemetar ia menjawab,

“Saya... saya pemiliknya.”

Simardan mendekatinya.

Ia tidak langsung bertanya mengenai barang dagangan yang dibawa.

Tidak pula menanyakan dari mana mereka berasal.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting baginya.

Pertanyaan tentang Perempuan Tua

“Dengarkan baik-baik,” kata Simardan.

“Aku hanya ingin bertanya. Jawablah dengan jujur.”

Lelaki itu terdiam.

Simardan kemudian menyebutkan ciri-ciri seseorang yang selama bertahun-tahun menghantui pikirannya.

“Apakah kau mengetahui seorang perempuan tua yang tinggal di sebuah gubuk bambu beratapkan nipah?”

Lelaki itu menatap Simardan dengan wajah kebingungan.

“Perempuan itu tinggal di tepian sebuah teluk kecil,” lanjut Simardan.

“Letaknya di balik Kampung Tanjung.”

Mendengar pertanyaan tersebut, ketiga orang itu saling berpandangan.

Simardan menangkap perubahan raut wajah mereka.

Jantungnya berdegup lebih kencang.

Apakah mereka mengetahui sesuatu?

Apakah perempuan yang dimaksudnya masih tinggal di sana?

Ataukah selama ini cerita tentang kematian ibunya yang disampaikan Raja Rompak kepadanya hanyalah sebuah kebohongan?

Simardan berusaha menahan gejolak hatinya.

Ia kembali berkata dengan suara tenang.

“Ceritakan semua yang kau ketahui tentang perempuan itu.”

Ia kemudian memberikan sebuah janji.

“Jika kau berkata jujur dan memberikan informasi yang benar, aku akan melepaskan kalian.”

Simardan menunjuk perahu dan muatan barang dagangan mereka.

“Perahu ini juga akan kukembalikan. Begitu pula seluruh barang dagangan kalian.”

Lelaki paruh baya itu semakin gelisah.

Tetapi Simardan belum selesai.

Tatapannya berubah tajam.

“Tetapi jika kau berbohong...”

Ia berhenti sejenak.

Suasana di atas perahu mendadak senyap.

“...jangan berharap kalian akan melihat matahari esok pagi.”

Ancaman itu meluncur datar dari mulut Simardan.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada amarah.

Justru ketenangan itulah yang membuat ketiga orang tersebut semakin ketakutan.

Malam semakin larut.

Di kejauhan, suara air Sungai Aek Doras terdengar perlahan menghantam lambung perahu.

Sementara di atas perahu kecil itu, seorang pemuda yang selama bertahun-tahun hidup sebagai panglima lanun kini sedang menunggu satu jawaban.

Jawaban tentang ibunya.

Dan tanpa ia sadari, pertanyaan sederhana itu akan membuka kembali rahasia besar yang selama bertahun-tahun disembunyikan oleh ayah angkatnya, Raja Rompak.

Bersambung.

Share:
Komentar

Berita Terkini