-->

Dr. Dedi Sahputra, S.Sos., MA : UKW Media Siber Harus Uji Kemampuan Wartawan Memahami SEO dan Algoritma

Uji kompetensi wartawan (UKW) khusus media siber dinilai perlu menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi digital, termasuk kemampuan wartawan

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN – Uji kompetensi wartawan (UKW) khusus media siber dinilai perlu menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi digital, termasuk kemampuan wartawan memahami Search Engine Optimization (SEO), struktur berita, penggunaan kata kunci, hingga cara kerja algoritma mesin pencari.

Hal itu disampaikan Dr. Dedi Sahputra, S.Sos., MA dalam workshop pengembangan model UKW media siber di Hotel Sakura Medan.

Menurut Dedi, kemampuan menulis berita untuk media siber tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan unsur jurnalistik, tetapi juga bagaimana sebuah berita disusun agar mudah dipahami pembaca sekaligus dapat ditemukan melalui mesin pencari.

Ia menekankan pentingnya struktur kalimat yang ringkas dan jelas. Subjek dalam sebuah kalimat harus tegas agar tidak menimbulkan ambiguitas bagi pembaca.

"Struktur itu jangan sampai mengacaukan pembaca. Jangan sampai pembaca mengalami ambiguitas dalam memahami sebuah teks. Karena itu, kalimat tidak boleh terlalu panjang," ujarnya.

5W1H Tetap Menjadi Dasar

Meski menekankan SEO, Dedi mengingatkan bahwa prinsip dasar jurnalistik tetap menjadi fondasi utama.

Menurutnya, berita tetap harus memenuhi unsur 5W1H, dengan sekurang-kurangnya empat unsur utama sudah terjawab dalam berita.

Selain itu, akurasi, kejelasan informasi, etika, dan hukum pers tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk jurnalistik media siber.

Dalam tubuh berita, kata dia, wartawan juga perlu menggunakan subjudul yang jelas dan menempatkan keyword atau kata kunci secara natural.

Kata kunci tidak cukup hanya ditempatkan pada judul, tetapi juga perlu muncul secara alami di dalam tubuh berita sesuai konteks pemberitaan.

"Penekanannya pada keyword yang ada di beberapa bagian berita. Tetapi jangan sampai pengulangan kata justru mengganggu etika, estetika, dan makna berita," jelasnya.

Meta Description hingga 160 Karakter

Dedi juga menjelaskan pentingnya meta description dalam pemberitaan media siber.

Menurutnya, meta description merupakan ringkasan singkat yang memberikan gambaran kepada pengguna mengenai isi halaman ketika muncul dalam hasil pencarian.

Ia menyarankan meta description dibuat ringkas dan menarik, sekitar 150–160 karakter, sehingga mampu mendorong pembaca untuk membuka berita.

"Meta description itu menjadi bagian yang menentukan ketika orang melakukan pencarian. Deskripsi tersebut membantu mengarahkan pembaca kepada berita kita," katanya.

Selain itu, artikel perlu dipecah dalam struktur yang mudah dibaca. Kalimat yang terlalu panjang harus dihindari agar pembaca dapat memahami informasi dengan cepat.

Hyperlink Harus Relevan dan Aman

Aspek lain yang perlu diperhatikan wartawan media siber adalah penggunaan internal linking dan external linking.

Internal linking dapat mengarahkan pembaca kepada berita lain yang relevan dalam media yang sama. Hal ini sekaligus membangun jaringan konten di dalam sebuah situs.

Sementara tautan eksternal dapat mengarahkan pembaca kepada sumber resmi yang berkaitan dengan informasi dalam berita.

Namun, Dedi mengingatkan agar wartawan tidak sembarangan memasukkan tautan.

"Secara etika kita tidak boleh memberikan tautan kepada sumber yang hoaks atau melanggar etika," tegasnya.

Menurutnya, hyperlink harus benar-benar relevan dengan isi berita dan tidak digunakan untuk menyesatkan pembaca.

Originalitas Menjadi Faktor Penting

Dedi juga menekankan pentingnya originalitas dalam produk jurnalistik media siber.

Menurutnya, wartawan tidak cukup hanya menerima informasi dari sumber lain kemudian mempublikasikannya kembali. Informasi tersebut perlu diverifikasi dan dikembangkan dengan melakukan diversifikasi informasi sehingga menghasilkan karya jurnalistik yang memiliki nilai tambah.

"Originalitas itu penting. Kalau kita menerima informasi dari teman atau sumber lain, sebaiknya dilakukan diversifikasi, ditambahkan informasi sebelumnya, sehingga produk yang kita hasilkan memiliki originalitas," katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya penggunaan gambar yang relevan serta aspek aksesibilitas, termasuk bagi pembaca penyandang tunanetra.

Internal linking, menurutnya, juga perlu dibangun secara relevan agar pembaca dapat menemukan informasi lain yang berkaitan tanpa merasa diarahkan secara menyesatkan.

Materi UKW Perlu Disesuaikan dengan Perkembangan Digital

Dedi kemudian memaparkan sejumlah materi yang selama ini terdapat dalam kompetensi wartawan media siber.

Di antaranya kemampuan menjelaskan perbedaan media siber dengan media generasi sebelumnya, melakukan verifikasi berita yang bersumber dari media sosial, serta memahami konsep berita digital.

Namun, menurutnya, materi tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan teknis mengenai bagaimana produk jurnalistik dihasilkan agar sesuai dengan kebutuhan SEO.

"Yang kami lakukan ini dalam lingkup UKW adalah melihat bagaimana modul UKW itu relevan dengan kebutuhan saat ini," jelasnya.

Menurut Dedi, kompetensi wartawan media siber ke depan harus lebih spesifik dan tidak berhenti pada pemahaman konseptual.

Wartawan perlu mampu menerapkan prinsip SEO dalam praktik produksi berita, termasuk memahami struktur berita, keyword, metadata, hyperlink, originalitas, hingga distribusi konten melalui berbagai platform digital.

Redaktur Juga Harus Memahami Perubahan Algoritma

Dedi menilai perubahan algoritma juga menjadi pengetahuan penting bagi redaktur.

Pasalnya, perubahan algoritma dapat memengaruhi bagaimana berita ditemukan, dibaca, dan didistribusikan kepada masyarakat.

Karena itu, menurutnya, pengelola media, khususnya redaktur, perlu memahami perkembangan tersebut agar strategi pemberitaan dapat terus disesuaikan.

"Apalagi kita menyadari bahwa algoritma itu dinamis. Beberapa kali mengalami perubahan. Bagaimana penyesuaiannya? Apakah wartawan memahami hal ini? Terutama kalau media itu memiliki redaktur, apakah redakturnya memahami perubahan algoritma yang terjadi?" katanya.

Ia menilai pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dimasukkan dalam pengembangan materi UKW media siber.

Dengan demikian, kompetensi wartawan tidak hanya diuji dari kemampuan menulis berita secara jurnalistik, tetapi juga dari kemampuan memahami ekosistem digital yang menentukan bagaimana sebuah berita diproduksi, ditemukan, dikonsumsi, dan didistribusikan.

Dedi berharap model UKW media siber yang sedang dikembangkan dapat menghasilkan standar kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan industri media digital tanpa menghilangkan prinsip dasar jurnalistik, etika, dan hukum pers.

Share:
Komentar

Berita Terkini