Keterangan Foto : Monumen Perjuangan 19 Raja di Kelurahan Aek Kota Batu, pusat Kecamatan Na IX-X, Labuhanbatu Utara. Monumen ini didirikan untuk mengenang persatuan "Kami yang Sembilan dan Sepuluh" dalam melawan kolonial Belanda tahun 1915._
Oleh: Harunsyah Arsyad
Ada nama-nama tempat yang sekadar menjadi penunjuk lokasi. Namun, ada pula nama yang menyimpan cerita panjang tentang manusia, tanah, adat, dan perjuangan.
Na IX-X adalah salah satunya.
Bagi masyarakat Labuhanbatu Utara (Labura), khususnya mereka yang mengenal sejarah kawasan ini, Na IX-X bukan sekadar nama kecamatan. Di balik dua angka Romawi itu tersimpan kisah tentang persatuan, tentang 19 pemimpin adat, tentang hulu dan hilir, serta tentang perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Na berarti kami. Sedangkan IX-X berarti sembilan dan sepuluh.
“Kami yang Sembilan dan Sepuluh.”
Sebuah nama yang sederhana, tetapi menyimpan pesan tentang persatuan.
Hari ini, nama itu melekat pada sebuah kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Utara. Namun, jauh sebelum kantor pemerintahan berdiri di Aek Kota Batu, kawasan ini telah memiliki sejarah panjang tentang kepemimpinan adat dan kehidupan masyarakat yang tumbuh dari wilayah pegunungan hingga pesisir.
Dari Hulu Pegunungan ke Tanah Melayu
Jauh sebelum mengenal batas-batas administratif seperti sekarang, kawasan yang kini dikenal sebagai Na IX-X merupakan wilayah yang dihuni sejumlah kelompok masyarakat dengan kepemimpinan adat masing-masing.
Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat, terdapat 19 wilayah kepemimpinan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh bergelar raja.
Raja dalam konteks ini bukanlah penguasa yang tinggal di istana dengan segala kemewahan kerajaan. Mereka lebih dekat dengan konsep raja ni huta, yakni pemimpin yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat, tanah, adat, dan kehidupan sosial di wilayahnya.
Ke-19 raja tersebut kemudian dikenal terbagi dalam dua kawasan besar.
Sembilan raja berada di wilayah hilir, kawasan yang berhubungan dengan dataran rendah dan aliran sungai menuju pesisir.
Sementara sepuluh raja lainnya berada di kawasan hulu, wilayah perbukitan hingga pegunungan Bukit Barisan.
Dari pembagian itulah kemudian dikenal sebutan:
Na IX-X — Kami yang Sembilan dan Sepuluh.
Kawasan tersebut juga menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang masyarakat. Dalam sejarah lisan yang berkembang, para pemimpin tersebut berasal dari sejumlah marga, di antaranya Munthe atau Dalimunthe, Pohan, Sipahutar, Simanjuntak, dan Ritonga.
Perjumpaan berbagai kelompok tersebut turut membentuk karakter budaya masyarakat yang kemudian berkembang di kawasan Labuhanbatu Utara.
Bahasa, adat, tradisi dan kebiasaan masyarakat pun mengalami proses percampuran. Pengaruh Batak Toba, Angkola-Mandailing, Melayu Asahan hingga Melayu Labuhanbatu bertemu dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Ketika Belanda Datang
Kisah Na IX-X kemudian memasuki babak berbeda ketika kekuasaan kolonial Belanda mulai semakin kuat di Sumatera Timur.
Sekitar awal abad ke-20, tekanan terhadap wilayah-wilayah yang masih memiliki pemerintahan adat semakin besar.
Dalam narasi sejarah masyarakat setempat, sekitar tahun 1915 Belanda mulai berupaya memperluas kendali, termasuk melalui penerapan belasting atau pajak kepala.
Bagi masyarakat yang selama ini hidup dengan tata pemerintahan adat sendiri, kebijakan tersebut bukan perkara sederhana.
Tekanan dari luar akhirnya mempertemukan kepentingan para pemimpin adat.
Mereka bermusyawarah.
Dan persatuan antara wilayah hulu dan hilir menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tekanan tersebut.
Sembilan raja di wilayah hilir berhadapan dengan kemungkinan masuknya kekuatan kolonial dari kawasan pesisir. Sementara sepuluh raja di wilayah hulu memiliki keuntungan geografis berupa perbukitan, hutan dan kawasan pegunungan yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung sekaligus basis perlawanan.
Hulu dan hilir menjadi dua sisi dari satu pertahanan.
Jika wilayah depan terdesak, perlawanan dapat bergerak menuju kawasan hulu.
Hutan dan perbukitan menjadi bagian dari strategi bertahan.
Dalam kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, persatuan inilah yang kemudian menguatkan identitas Na IX-X.
Bukan sekadar sembilan dan sepuluh.
Melainkan 19 kekuatan yang memilih berdiri bersama.
Monumen yang Menyimpan Ingatan
Sejarah yang panjang itu kemudian tidak hanya hidup dalam cerita lisan.
Di Aek Kota Batu, sebuah monumen perjuangan menjadi salah satu penanda ingatan terhadap sejarah perlawanan masyarakat di kawasan Na IX-X.
Monumen tersebut menjadi simbol bahwa wilayah ini pernah memiliki perjalanan sejarah yang panjang sebelum akhirnya berkembang menjadi bagian dari sistem pemerintahan modern.
Nama Na IX-X sendiri kemudian dipertahankan sebagai nama wilayah.
Menurut informasi yang berkembang di masyarakat, penyebutan tersebut juga tidak terlepas dari inisiatif Camat pertama, Bahari Ritonga, yang berasal dari Silangkitang, Labuhanbatu Selatan, bersama tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Dengan demikian, nama yang hari ini terlihat sederhana pada papan nama kantor kecamatan sesungguhnya menyimpan cerita panjang tentang identitas masyarakat.
Na IX-X Hari Ini
Waktu mengubah wajah Na IX-X.
Jika dahulu kawasan ini dikenal melalui wilayah hutan, perbukitan, sungai dan jalur-jalur tradisional, kini Na IX-X telah menjadi wilayah pemerintahan dengan aktivitas masyarakat yang jauh lebih kompleks.
Kecamatan ini memiliki luas sekitar 554 kilometer persegi.
Bentang alamnya pun tetap memperlihatkan karakter yang berbeda antara kawasan hulu dan hilir.
Di bagian barat dan utara, kawasan perbukitan masih menjadi ciri utama. Sungai-sungai mengalir dari wilayah yang lebih tinggi, membawa air menuju kawasan yang lebih rendah.
Sejumlah objek wisata alam juga tumbuh dari karakter tersebut.
Ada Aek Buru di Batu Tunggal, serta Teluk Tangga dan Teluk Salak di Silumajang.
Air yang jernih, bebatuan sungai, pepohonan dan bentang alam perbukitan menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara di bagian timur dan selatan, bentang alam lebih banyak berupa dataran rendah. Perkebunan sawit dan karet menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Na IX-X pun terus berkembang.
Penduduknya kini telah mencapai lebih dari 59 ribu jiwa, dengan masyarakat yang semakin beragam. Jika sejarah masa lalu memperlihatkan perjumpaan berbagai kelompok etnis dan marga, wajah Na IX-X hari ini menunjukkan keberagaman yang semakin luas.
Batak, Melayu, Jawa, Minang dan kelompok masyarakat lainnya hidup berdampingan.
Pasar mempertemukan mereka.
Kedai mempertemukan mereka.
Sekolah, tempat ibadah, jalan dan ruang-ruang publik menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang.
Keragaman itu menjadi bagian dari wajah Na IX-X modern.
Satu Kecamatan, 13 Wilayah Desa dan Kelurahan
Secara administratif, Kecamatan Na IX-X kini terdiri atas satu kelurahan dan 12 desa.
Kelurahan tersebut adalah Aek Kota Batu, yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan kecamatan.
Sedangkan 12 desa meliputi Bangun Rejo, Batu Tunggal, Hatapang, Kampung Pajak, Meranti Omas, Pasang Lela, Pematang, Perkebunan Berangir, Pulo Jantan, Silumajang, Simpang Marbau, dan Sungai Raja.
Jarak dan kondisi geografis membuat karakter masing-masing wilayah berbeda.
Desa Pematang, misalnya, disebut menjadi salah satu wilayah yang cukup jauh dari pusat pemerintahan kecamatan, dengan jarak sekitar 49 kilometer.
Namun sejauh apa pun jaraknya, semuanya tetap berada dalam satu identitas:
Na IX-X.
Nama yang Menjadi Ingatan
Kini tidak ada lagi raja yang memimpin dengan kekuasaan seperti pada masa lalu.
Tidak ada lagi batas wilayah adat yang menjadi garis pertahanan menghadapi pasukan kolonial.
Namun, sejarah tidak selalu harus hadir dalam bentuk kekuasaan.
Kadang ia tinggal dalam sebuah nama.
Na IX-X.
Dua angka Romawi yang menjadi pengingat bahwa pernah ada sembilan pemimpin di hilir dan sepuluh pemimpin di hulu yang, dalam kisah sejarah masyarakat setempat, memilih berdiri bersama menghadapi tekanan dari luar.
Di tengah perubahan zaman, nama itu tetap bertahan.
Dari tanah yang dahulu menjadi ruang kehidupan para raja adat, kini tumbuh desa-desa, perkebunan, pasar, sekolah, jalan dan pusat pemerintahan.
Dari hulu hingga hilir, kehidupan terus bergerak.
Tetapi ada satu hal yang tidak berubah: nama Na IX-X tetap membawa ingatan tentang persatuan.
Sebab sebuah nama terkadang bukan sekadar identitas.
Ia adalah cara sebuah masyarakat mengingat siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang ingin mereka wariskan kepada generasi berikutnya.
“Kami yang Sembilan dan Sepuluh.”
Sebuah nama yang hingga hari ini masih hidup di tanah Labuhanbatu Utara.
