-->

Melayu Tanjungbalai Asahan : Dari "Melayu-Kolon" Ptolemy Hingga Cahaya Ulama Nusantara

Nama "Melayu" bukan nama baru. Ia sudah berumur lebih dari 2000 tahun dan penyebarannya melekat erat di tanah Tanjungbalai Asahan hingga hari ini.

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Menelusuri jejak peradaban di tanah yang dikelilingi air



                                                       Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Nama "Melayu" bukan nama baru. Ia sudah berumur lebih dari 2000 tahun dan penyebarannya melekat erat di tanah Tanjungbalai Asahan hingga hari ini.

BAB 1: JEJAK AWAL NAMA "MELAYU" DI DUNIA

Kata "Melayu" pertama kali muncul dalam catatan dunia:

1.  100 - 150 M: Ahli geografi Yunani, Claudius Ptolemy, dalam bukunya Geographike Sintaxis menyebut wilayah "Maleu-Kolon" di pesisir timur Sumatera. Diduga kuat ini adalah cikal bakal kata "Melayu".

2.  Abad ke-5 M: Kitab suci Hindu Purana zaman Gautama Buddha menyebut "Malaya Dvipa" = Tanah yang dikelilingi air. Sangat cocok menggambarkan wilayah pesisir Sumatera Timur.

Jadi, jauh sebelum Islam datang, tanah kita sudah dikenal dunia sebagai "tanah Melayu".

BAB 2: DARI KERAJAAN HINDU-BUDHA KE KERAJAAN ISLAM

Abad ke-7: Muncul Kerajaan Melayu Tua di Sumatera. Pusatnya berpindah-pindah: Jambi, Sriwijaya, Perlak, Dharmasraya. Catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292 menyebut wilayah ini masih kuat Hindu-Budha.

Abad ke-11: Puncak kejayaan Sriwijaya diruntuhkan serangan Raja Chola dari India. 

Abad ke-13: Titik balik. Islam masuk lewat Kesultanan Samudera Pasai, Aceh. Perlahan kerajaan-kerajaan Melayu tua berganti wajah.

Abad ke-17: Lahir era Kerajaan Melayu Islam. Di Sumatera Timur muncul 5 pilar besar yang saling terkait karena darah, perkawinan, dan politik:

1.  Kesultanan Deli - Berpusat di Medan

2.  Kesultanan Langkat 

3.  Kesultanan Serdang

4.  Kesultanan Asahan - Berpusat di Tanjungbalai

5.  Kedatuan Batubara

Ditambah Kesultanan Kota Pinang, Panai, Bilah, Pagaruyung, dan Siak. Inilah yang membentuk identitas "Melayu Pesisir Timur Sumatera" yang kita kenal sekarang.

BAB 3: TANJUNGBALAI ASAHAN - KOTA SANTRI DAN CAHAYA ILMU

Di tengah 5 kesultanan itu, Kesultanan Asahan dengan pusat pemerintahannya Tanjungbalai tumbuh jadi pusat ilmu. 

Mengapa? Karena para sultan Asahan sangat memuliakan ulama. Hasilnya: lahirlah "pabrik ulama" yang namanya harum sampai ke Mekah, Mesir, dan seluruh Nusantara.

Deretan Ulama Besar Melayu Pesisir Timur:

1.  Syeikh Hasanuddin bin Ma'shum - Mufti Besar Kesultanan Deli

2.  Syeikh Muhammad Isa - Mufti Kesultanan Asahan di Tanjungbalai 

3.  Syeikh Abdul Wahab Rokan - Pendiri Tarekat Naqsabandiyah di Rokan

4.  Syeikh Muhammad Zain Nuruddin Al-Khalidi - Dari Batubara

5.  Mufti Haji Muhammad Nur Langkat & Kadi Haji Muhammad Nur bin Ismail - Dari Langkat

BAB 4: TOKOH KUNCI: SYEIKH ABDUL HAMID BIN MAHMUD ASAHAN 1880-1951

Dari rahim Tanjungbalai lahir seorang ulama besar: Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud.

Data Diri:

- Lahir: Tanjungbalai Asahan, 1298 H / 1880 M

- Wafat: Kamis, 10 Rabiul Akhir 1370 H / 18 Februari 1951 M

- Asal Keluarga: Ayah dan kakeknya dari Talu, Minangkabau. Menetap dan mengabdi di Asahan.

Riwayat Belajar:

1.  Belajar dasar pada iparnya, Haji Zainuddin, Kadi Kesultanan Asahan

2.  Mendalami ilmu pada Syeikh Hasyim Tua

3.  Berguru puncak pada Syeikh Muhammad Isa, Mufti Asahan. Melihat potensi muridnya, Syeikh Muhammad Isa menganjurkannya ke Mekah.

Jejak Karya 1930-an:

Syeikh Abdul Hamid produktif menulis. 8 karyanya pernah dicetak di Mekah, antara lain:

1.  Ad-Durusul Khulashiyah - Dicetak di Mekah

2.  Al-Mathalibul Jamaliyah - Dicetak di Mekah  

3.  Al-Mamlakul 'Arabiyah

4.  Nujumul Ihtiba

5.  Tamyizut Taqlidi minal Ittiba

Beliau juga menerbitkan Majallah 'Ulumil Islamiyah tahun 1939 M. Hanya 2 edisi, tapi isinya tulisan dari Syeikh Mustafa al-Maraghi, Syeikhul Azhar Mesir.

Madrasah Ulumil Arabiyah 1923-1924:  

Beliau mendirikan madrasah ini di Tanjungbalai. Dari sinilah lahir ulama generasi berikutnya seperti Zainal Arifin Abbas, Al-Ustaz Abdul Halim Hasan, dan Abdul Rahim Haitami - semua seangkatan Syeikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis.

BAB 5: AL JAMI'YATUL WASHLIYAH & PERTARUNGAN PEMIKIRAN "KAUM TUA vs KAUM MUDA"

Para ulama Sumatera Timur ini lalu menggagas Al Jam'iyatul Washliyah, didirikan 30 November 1930 di Medan. 

Ciri: Ahlus Sunnah wal Jamaah, Fiqih Mazhab Syafi'i.

Alwasliyah punya "saudara kembar" di Minangkabau: PERTI - Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Para pendirinya seperguruan di Mekah.

Tapi tahun 1920-1930an muncul gelombang baru: Kaum Muda / Tajdid. Mereka membawa pemikiran tidak bermazhab dari Ibnu Taimiyah.

Puncaknya: Polemik Syeikh Hasan Ma'shum vs Dr. H. Abdul Karim Amrullah - ayah Buya Hamka. 

Yang menarik: Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, guru besar mereka di Mekah, membenarkan hujah Syeikh Hasan Ma'shum. Beliau menulis bahwa kedua muridnya itu hebat, tapi pemahaman Ibnu Taimiyah banyak ditolak ulama Syafi'iyah karena ada kelemahan.

Inilah warna khas Melayu: berdebat ilmu, tapi tetap satu guru.

PENUTUP: WARISAN MELAYU TANJUNGBALAI ASAHAN

Jadi, Melayu Tanjungbalai Asahan itu bukan hanya pantun, zapin, dan baju kurung. 

Ia adalah:

1.  Sejarah: Disebut Ptolemy 2000 tahun lalu

2.  Kerajaan: Salah satu dari 5 Kesultanan besar pesisir timur 

3.  Intelektual: Melahirkan ulama yang kitabnya dicetak di Mekah dan muridnya mengisi pesantren se-Nusantara

Tanah yang "dikelilingi air" ini memang ditakdirkan jadi persimpangan ilmu, dagang, dan dakwah.

Referensi: Catatan Ptolemy 150M, Marco Polo 1292, Arsip Kesultanan Asahan, Biografi Syeikh Abdul Hamid Asahan, Sejarah Alwasliyah 1930

Share:
Komentar

Berita Terkini