![]() |
Oleh : Harusnyah Arsyad |
Komplotan gelap itu disusun dengan sangat rapi dan tersamar, sehingga keberadaannya nyaris tidak terpantau oleh Raja Rompak maupun Simardan.
Kaki tangan Badogol direkrut dari kalangan prajurit kapal lanun itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi oleh bujuk rayu, iming-iming kesenangan, kekayaan, kedudukan, serta kehidupan yang serba berkecukupan.
Janji Badogol sederhana. Siapa saja yang mau berada di pihaknya akan mendapatkan bagian dari hasil rompakan yang mereka gelapkan. Mereka juga dijanjikan kedudukan dan kehidupan yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan kehidupan sebagai prajurit biasa.
Para prajurit yang tidak teguh pendiriannya pun mulai tergoda. Sebagian dari mereka ingin cepat mengubah nasib. Mereka bermimpi menjadi orang kaya dan hidup penuh kesenangan, meskipun harus menempuh jalan yang tidak benar.
Mereka sadar bahwa apa yang dilakukan merupakan pengkhianatan terhadap pimpinan yang selama ini telah memberi mereka kehidupan. Namun, tipu daya Badogol membuat mereka lupa membalas jasa.
Padahal, kesenangan yang dijanjikan Badogol sebenarnya adalah milik mereka bersama. Perbedaannya hanya satu.
Raja Rompak lebih disiplin dalam mengatur pengeluaran demi kejayaan dan keberlangsungan kelompok mereka. Sementara Simardan justru lebih banyak menggunakan kekayaan yang mereka peroleh untuk membantu penduduk di negeri-negeri yang sedang mengalami kesusahan maupun ditimpa musibah.
Namun, bagi orang-orang yang telah dibutakan oleh keserakahan, semua itu tidak lagi berarti.Ternyata, manusia yang suka berkhianat dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri memang mudah ditemukan, bahkan di dunia hitam yang keras seperti kehidupan para lanun.
Tidak hanya merekrut prajurit kapal. Badogol juga membangun jaringan dari kalangan pelaut, bajingan-bajingan kampung di daratan, hingga orang-orang tertentu yang mudah dipengaruhinya.
Sebagian dari mereka ditempatkan di pos-pos rahasia di pantai maupun pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni. Di tempat-tempat terpencil itulah mereka menyembunyikan harta hasil penggelapan.
Jika pada masa itu dilakukan penghitungan kekayaan secara keseluruhan, bukan tidak mungkin harta milik Badogol telah jauh melampaui kekayaan Raja Rompak, yang notabene merupakan majikan sekaligus pemilik kapal lanun tersebut.
Namun, untuk mengelabui Raja Rompak, Simardan, sang panglima kapal, serta prajurit-prajurit yang masih setia, Badogol tetap tampil sederhana. Setiap hari ia berpura-pura menjadi pengabdi yang setia.
Tak seorang pun menyangka bahwa di balik kesederhanaannya itu, ia telah membangun kekuatan bawah tanah.
Sebagian besar harta yang berhasil digelapkan telah mereka larikan dan sembunyikan di pulau-pulau tertentu. Tempat-tempat tersebut dijaga oleh orang-orang Badogol sendiri agar tidak mudah diketahui.
Mereka mengatur dengan sangat rapi tempat penyimpanan, jalur pengiriman, hingga cara menggunakan harta tersebut. Semuanya dilakukan secara rahasia.
Setiap kali Raja Rompak memberikan waktu pelesiran kepada anak buahnya setelah mereka berhasil merompak kapal sasaran, Badogol justru mendapatkan kesempatan emas untuk memperkuat jaringannya.
Ketika sebagian besar anggota kapal lanun bersenang-senang di daratan, kelompok Badogol berpesta jauh lebih besar. Uang hasil penggelapan dibagikan kepada kaki tangannya.
Mereka bebas bersenang-senang dan berfoya-foya di tempat hiburan tanpa sepengetahuan Raja Rompak maupun panglima kapal.
Sebagian harta lainnya dikirim Badogol ke kampung asalnya, ke negeri Bandar Siapi-api, melalui jaringan gelap yang telah dibangunnya Tujuannya satu. Memperkaya keluarganya sendiri.
Namun, waktu pelesiran tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang. Di balik pesta dan hiruk-pikuk tempat hiburan, Badogol menjalankan rapat-rapat rahasianya. Biasanya setelah berhasil merompak sebuah kapal sasaran, Raja Rompak memberikan kesempatan kepada seluruh anak buahnya untuk turun ke daratan.
Pada saat itulah Badogol bersama pasukan khususnya mengumpulkan para kepala wilayah dari jaringan rahasia yang telah dibentuknya di negeri-negeri sekitar. Mereka bertemu di tempat yang telah ditentukan sebelumnya.
Di luar, mereka tampak seperti sekumpulan orang yang sedang berpesta. Namun, di balik suara musik, gelak tawa dan dentingan minuman, mereka membahas siasat.
Mereka membicarakan strategi memperluas jaringan, memperkuat pasukan, mengamankan harta rampasan, hingga mencari cara melindungi komplotan mereka dari pengawasan kerajaan.
Bahkan, Badogol mulai menjalin hubungan dengan orang-orang dalam kerajaan yang dapat disuap. Para pejabat atau petugas yang berhasil dipengaruhinya pun ikut larut dalam pesta. Mereka diberi kesenangan sebagai imbalan.
Namun sesungguhnya, mereka sedang dipancing untuk menjadi alat Badogol dalam mengamankan sepak terjang komplotannya. Untuk menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, Badogol tidak menggunakan cara biasa. I0a memanfaatkan mata-mata kepercayaan yang telah dibekali kemampuan menggunakan bahasa sandi.
Bahasa tersebut hanya dimengerti oleh anggota komplotan mereka. Para mata-mata itu bukan orang sembarangan. Mereka dibekali kemampuan bela diri dan mahir menggunakan berbagai senjata rahasia.
Kesetiaan mereka kepada Badogol begitu fanatik. Dalam keadaan terdesak, mereka bahkan rela membunuh rekannya sendiri demi menghilangkan jejak. Jika tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri, mereka bahkan sanggup mengakhiri hidupnya sendiri.
Mereka adalah pasukan yang bergerak dalam senyap. Tak banyak bicara. Tak banyak diketahui. Namun selalu siap menjalankan perintah.
Setiap kali kapal lanun melakukan operasi perompakan terhadap kapal sasaran, pasukan rahasia Badogol ikut dilibatkan. Mereka sengaja disisipkan di antara prajurit lain dan berpura-pura turut bertempur.
Namun, tugas mereka sebenarnya berbeda. Ketika para prajurit Raja Rompak sibuk menghadapi lawan dan menguasai kapal korban, orang-orang Badogol lebih dahulu menyatroni barang-barang berharga.
Mereka telah menyiapkan drum dan bungkusan khusus yang dapat mengapung di permukaan air. Barang-barang jarahan yang berhasil mereka ambil diam-diam dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Kemudian, ketika tidak ada yang memperhatikan, barang-barang itu dilemparkan ke laut.
Sementara itu, di pulau atau pantai terdekat, anggota komplotan lainnya telah menunggu dengan perahu. Mereka tinggal menunggu kode dari orang-orang Badogol yang berada di atas kapal.
Siasat berikutnya bahkan lebih licik.
Orang-orang Badogol yang berada di kapal akan berpura-pura terluka akibat serangan musuh. Mereka kemudian menjatuhkan diri ke laut. Namun, mereka sebenarnya telah mempersiapkan pelampung atau benda lain yang dapat membuat tubuh tetap mengapung.
Peralatan tersebut telah mereka ambil dari kapal sebelum terjun ke laut. Dari atas kapal, mereka seolah-olah terlihat sebagai korban yang jatuh dan tewas dalam pertempuran. Setelah keadaan dirasa aman, para pengkhianat yang terapung di permukaan laut itu memberikan tanda.
Mereka menyulut asap dari senjata rahasia yang telah dipersiapkan. Sinyal itu menjadi tanda bagi kelompok mereka yang menunggu di pantai atau pulau terdekat. Begitu melihat asap tersebut, orang-orang Badogol segera bergerak.
Mereka mengevakuasi para pengkhianat sekaligus mengambil barang-barang jarahan yang sebelumnya telah dibuang ke laut. Dengan cara itulah, sedikit demi sedikit kekayaan Raja Rompak digerogoti.
Tanpa disadarinya. Rupanya, selama ini Raja Rompak telah memelihara tikus-tikus yang diam-diam menggerogoti kapalnya sendiri. Sementara itu, Simardan sebenarnya telah lama mencurigai gerak-gerik Badogol.
Namun, ia belum memiliki bukti kuat untuk menyampaikannya kepada ayah angkatnya. masalahnya, gerak-gerik Simardan sendiri selalu diawasi mata-mata para pengkhianat di kapal. Sedikit saja ia bergerak, informasi tersebut akan sampai kepada Badogol.
Karena itu Simardan memilih menunggu. Ia tahu, untuk menjatuhkan orang seperti Badogol, kecurigaan saja tidak cukup. Harus ada bukti. Setiap pulau yang dijadikan Badogol sebagai tempat menyimpan harta gelapnya, di sana pula ia menyimpan perempuan-perempuan simpanannya.
Para perempuan tersebut bukan sekadar teman untuk bersenang-senang. Sebagian di antaranya juga dimanfaatkan sebagai mata-mata. Mereka bertugas mengamati keadaan di sekitar dan menyampaikan berbagai informasi kepada jaringan Badogol.
Bahkan, perempuan-perempuan cantik tersebut terkadang dijadikan umpan untuk menjerat para petugas kerajaan yang selama ini sulit ditundukkan. Dengan kecantikan, kemewahan dan kesenangan, para petugas itu perlahan dibuat lupa pada tugasnya.
Setelah terjerat, mereka pun dapat diperalat. Begitulah cara Badogol membangun kekuasaan. Ia tidak hanya menggunakan kekerasan. Ia menggunakan uang. Kesenangan.
Tipu daya.
Dan kelemahan manusia. Setiap kali teman-temannya turun ke daratan untuk berpesta menikmati bagian hasil rompakan dan pemberian tambahan dari Badogol, ia justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjalankan urusannya sendiri.
Badogol mendatangi pulau-pulau tempat harta gelapnya disimpan. Ia memeriksa persediaan kekayaan yang telah dikumpulkan. Ia memastikan para penjaga tetap setia. Setelah semuanya dianggap aman, barulah ia mendatangi perempuan-perempuan simpanannya.
Di pulau-pulau terpencil itu, pesta kembali digelar. Minuman keras mengalir. Tawa dan sorak-sorai terdengar hingga malam larut. Namun, di balik pesta pora tersebut, Badogol sebenarnya sedang menikmati hasil dari pengkhianatan yang telah direncanakannya bertahun-tahun.
Ia semakin kaya. Pasukannya semakin kuat. Jaringannya semakin luas. Dan tanpa disadari Raja Rompak, kekuasaan di atas kapal lanun itu perlahan-lahan mulai berpindah tangan. Badogol tinggal menunggu satu kesempatan lagi. Kesempatan untuk mengangkat dirinya dari seorang orang kepercayaan menjadi penguasa kapal lanun. (Bersambung)
