-->

Cerita Bersambung Simardan : Menyusuri Laut, Badogol Menunggu Saatnya Berkuasa

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Kita tinggalkan dahulu kapal lanun itu dengan permasalahannya dimana seluruh anggotanya sedang sibuk kesana kemari mencari keberadaan Simardan mengitari perairan sekitar menggunakan perahu perahu kecil. 

Mereka melakukan penyamaran sebagai nelayan. Sejak pagi buta sampai menjelang senja mereka menyisir setiap sisi perairan disitu namun yg dicari tak diketemukan juga.  Mari kiita kembali ke perahu yg ditumpangi Simardan. 

Malam ini perahu itu telah memasuki malam kedua dalam mengharungi laut lepas menuju  Utara ke negeri seberang.  Angin Tenggara di malam ini berhembus sedikit kencang menambah laju perahu menjadi semakin kencang saja.  


Tak lama kemudian terjadi perubahan, gelombang laut mulai terasa mengayun-ayunkan perahu ke kiri dan ke kanan. Perahu layar kecil itu bagaikan sebongkah sabut kelapa tua yang sedang dipermain mainkan ombak di tengah lautan tak bertepi sedangkan hari mulai menggelap. 

Bintang kejora di ufuk Utara sebagai pedoman pelaut kerlap-kerlip cahayanya sesekali ditutupi awan mendung yang berarak pelan di angkasa bersama kelamnya malam tanpa cahaya rembulan yang masih sabit.  

Karena arah angin datangnya dari Tenggara sementara tujuan mereka menuju Utara maka layar haruslah diikatkan ke sisi sebelah kanan perahu agar layar dapat menghempang datangnya angin dari Tenggara sehingga perahu dapat terus melaju ke Utara. 

Kemudi tiada lepas dikendalikan tekong yg dipegang secara bergantian diantara mereka bertiga supaya haluan tak kehilangan arah tetap menuju Utara.  Udara dingin di malam itu belum juga mampu membuka komunikasi diantara mereka. 

Masing-masing masih sungkan dan menjaga diri walau terasa sudah mulai ada rasa kebersamaan diantara mereka. Ini muncul sejak mereka makan bersama tadi pagi.  Sampai akhirnya sang juragan mulai memberanikan diri bertanya kepada Simardan hendak kemana gerangan agar mereka dapat menghantarkannya ke tempat tujuan.  

Sebelum menjawabnya tampak Simardan menarik nafas panjang, kelihatan ia mulai tenang. Lalu ia menjawab pertanyaan sang juragan bahwa ia minta diikutkan sampai kemana negeri tujuan mereka saja dan meminta jangan menceritakan apa-apa yang terjadi terutama menyangkut dirinya, baik di negeri tujuan maupun sesudah kembali ke negeri mereka semula. 

Bila tidak, Simardan akan mencari mereka kemanapun dan tak akan sungkan untuk membunuh mereka semua bila berjumpa. Sang juragan dan teman temannya yg lain memaklumi dan berjanji bahwa mereka akan tetap menyimpan semua rahasia diantara mereka ini dimanapun itu dan sampai kapanpun. 

"Biarlah pecah di perut, asal jangan pecah di mulut" sumpah mereka di hadapan Simardan. Hari mulai larut malam sang juragan dan seorang lagi yang sedang tak bertugas sebagai juru mudi nampak tenang dan mulai dapat memejamkan mata tak berapa lama mereka sudah tertidur lelap mungkin karena kelelahan dan kurang istirahat semalaman.   

Mereka mulai menyadari bahwa Simardan itu adalah sosok yg baik dan dapat dipercaya.  Lain pula halnya dengan Simardan, ia masih awas dan tetap waspada. Hal seperti ini sudah biasa dihadapinya dalam menjalani kehidupannya yang keras sebagai seorang bajak laut.

Hidupnya hanya ada dua pilihan, memangsa atau dimangsa. Ditempat lain, di atas kapal lanun sang Raja Rompak tidak habis habisnya menyumpah serapahi para anak buahnya yang belum juga berhasil menemukan keberadaan Simardan bila masih hidup, ataupun mayatnya bila ia telah tewas. 

Sang Raja Rompak  berkeyakinan jikalau Simardan anak angkatnya itu masih hidup karena ia tahu akan kemampuan anak angkatnya itu. Bila jatuh kelaut, ia sangat handal dalam berenang yang tentu saja diyakininya akan mampu mencapai bibir pantai ataupun pulau pulau kecil terdekat darinya. 

Ia tahu akan hal itu karena dahulu sudah pernah diujinya. Simardan waktu itu mampu merenangi dua pulau terpisah, berjarak tempuh bila berperahu dayung saat berangkat dari satu pulau itu ke pulau yg satu lagi sejak matahari terbit baru sampai matahari itu sudah hampir berada tepat di atas kepala.  

Beda pula suasana hati Badogol (Beng Dong Ghuong) saat itu. Dalam hati ia merasa gembira, karena saingannya selama ini untuk menguasai kapal itu kini telah tiada. Hal ini sebenarnya membuat ia sudah tak  takut lagi terhadap sang yg sudah kehilangan salah seorang pelindungnya. 

Sifat asli Badogol mulai tampak yang selama ini rapi ia sembunyikan. Sudah lama ditunggu tingginya kesempatan seperti ini datang.  Secara rahasia dan sembunyi sembunyi tanpa diketahui raja lanun dan Simardan sebenarnya dia telah membangun kekuatannya sendiri selama ini.  

Di kapal itu sejak bergabungnya Badogol sebagai anggota komplotan telah terjadi dua kubu. Ada kubu yang masih loyal dengan sang Raja dan Panglima, tetapi ada juga kubu yg lebih tunduk pada perintah Badogol daripada yg lain karena dibangun dan dibesarkannya secara rahasia. 

Melalui operasi senyapnya sebagian anak buah sang majikan sudah lama dibawah pengaruh Badogol.  Cara cara pendekatan yg dilakukan Badogol adalah melalui kesenangan serta kemewahan yang diberikan Badogol kepada prajurit tak setia. Itu diberikannya sewaktu mereka diberi waktu oleh majikan untuk pelesiran ke darat setelah berhasil merompak sasaran besar hari hari sebelumnya. 

Sudah pasti mereka akan bersenang-senang berfoya-foya ke tempat tempat hiburan.  Disamping itu Badogol kerap memberikan berkeping keping uang perak dan barang-barang berharga lainnya dari hasil rompakan mereka yang sebagian rupanya sudah disembunyikan Badogol tanpa sepengetahuan Raja Rompak maupun Panglima kapal lanun.  

Hal itulah yg membuat Beng Dong Ghuong alias Badogol disenangi oleh prajurit prajurit lanun yang kurang setia pada majikan. Inilah kesempatan itu masa yang ditunggu-tunggu Badogol dengan sabar untuk melakukan makar lalu menguasai kapal lanun bersama barisannya. (Bersambung)  

Share:
Komentar

Berita Terkini