-->

MERDEKA BELAJAR : KEDILEMATISAN DI TENGAH KEBERMANFAATAN

Telah diketahui bersama bahwa dewasa ini lembaga pendidikan formal yakni sekolah memiliki tuntutan dan tantangan terbaru. Adapun tuntutan dan tantanga

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Oleh : Gadis Anastasia, S.Pd, M.Si.

Telah diketahui bersama bahwa dewasa ini lembaga pendidikan formal yakni sekolah memiliki tuntutan dan tantangan terbaru. Adapun tuntutan dan tantangan yang harus dijalankan, yaitu menjadikan sekolah memiliki daya kreatifitas yang tinggi, inovatif, serta dapat berkolaborasi satu sama lain. 

Tak hanya itu saja, sekolah juga dituntut untuk menciptakan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat melaksanakan tujuan negara dengan cara memanusiakan manusia melalui proses belajar mengajar. 

Untuk itulah dibutuhkannya kebijakan dan regulasi yang mendukung hal tersebut ialah dengan ditetapkannya konsep "Merdeka Belajar".Sebagaimana yang dikatakan oleh Mendikbud Ristek RI Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. bahwa Merdeka Belajar ialah kebebasan yang dimiliki oleh sekolah, siswa, dan guru untuk berinovasi dengan mandiri dan kreatif. 

Namun tak dapat dipungkuri bahwa selama ini terkhusus guru mendapatkan banyak hambatan yang tentu menjadi hal dilematis untuk mencapai kebebasan terebut, terkhusus karena Merdeka Belajar belum diterapkan secara merata di semua tingkatan dan hanya diterapkan untuk peserta didik yang baru masuk di tahun 2022 saja. 

Seperti halnya pengerjaan administrasi yang menyita waktu sementara siswa masih harus banyak dibantu, nilai menjadi satu-satunya tolak ukur untuk mengetahui potensi yang dimiliki siswa, guru tidak diberi kepercayaan berinovasi sementara guru dituntut untuk dapat mengispirasi, ada aturan jam pelajaran uang harus dipenuhi, ditambah lagi prinsip birokrasi yang mengalahkan keberagaman.

Tak hanya sampai di situ saja, penerapan Merdeka Belajar yang dalam konsepnya sangatmenyenangkan dan memudahkan guru ini tentunya juga mendapat banyak keluhan dari para guru. 

Sebab tak dapat dipungkuri konsep tersebut membuat para guru menjadi dilema dan kesulitan dalam menjalankan profesinya. Terkhusus dalam hal ini adalah guru senior (yang sudah mengajar bepuluh tahun dan guru yang masih belum terbiasa dengan kemajuan teknologi).

Kedilematisan Merdeka BelajarPertama, guru yang mengajar beda tingkatan. Seperti yang kita ketahui bahwa penerapan Merdeka Belajar baru dilaksanakan tahun 2022 tentu untuk pemenuhan jam mengajar para guru terkhusus guru yang sudah sertifikasi (harus mengajar sebanyak 24 les mengajar) tak hanya mengajar di satu tingkatan saja bisa juga dua hingga tiga tingkatan. 

Dimana setiap tingkatan pastilah membutuhkan administrasi yang lengkap. Hal ini yang menjadikan para guru dilema, karena harus membuat perangkat pembelajaran yang berbeda konsepnya.

Kedua, bagi guru yang sudah berpuluh tahun mengajar tentunya akan mengalami kesulitan untuk mengikuti perkembangan konsep Merdeka Belajar ini selain karena konsep Merdeka Belajar ini mewajibkan guru harus paham IT ialah karena para guru senior ini sudah terbiasa dengan konsep lama yang tidak membutuhkan dan membuat kegiatan proyek Profil Pelajar Pancasila sebagaimana tuntutan dari Merdeka Belajar. 

Dalam artian masih sangat banyak guruguru yang harus diberikan pelatihan dan pemahaman terkait penguasaan IT.Ketiga, modul yang harus dibuat para guru dianggap hal yang baru dan sulit. Padahal konsep tata cara pembuatan/modifikasi modul yang sudah ada di Aplikasi Merdeka Belajar.Keempat, pergantian nama kurikulum yang secara tidak langsung juga mengganti konsep kurikulum yang sebelumnya tentu membuat para guru kebingungan. 

Dalam artian ketika K13 belum berjalan dengan maksimal maka Kurikulum Merdeka seperti hadir secara tiba-tiba yang dalam konsep para guru kurikulum ini hanya menambahkan beban saja.Kelima, konsep Merdeka Belajar yang diterapkan disekolah hampir sama dengan konsep yang diterapkan di kampus. 

Secara otomatis untuk guru-guru yang sudah mengajar berpuluh tahun kesulitan dalam beradaptasi dan menjalankan tugasnya di Kurikulum Merdeka ini. 

Seperti halnya pengerjaan proyek Profil Pelajar Pancasila ataupun pembuatan modul yang dalam hal ini setiap tingkatan yang diajarkan boleh diajarkan hanya dengan satu materi saja selama satu semester, bisa juga dua materi hingga tiga materi di mana tuntutnnya ialah baik guru maupun peserta didik dapat memahami materi tersebut dan bisa berkolaborasi tanpa adanya paksaan. 

Karena selama ini para guru masih berkutat dengan kurikulum yang terdahulu yang mengharuskan guru dan peserta didik menghabiskan seluruh materi yang ada dalam satu buku.

Hadirnya konsep Merdeka Belajar ini tentu terdorong dari keinginan banyak pihak yang ingin menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, bahagia, dan tidak terbebanani oleh pencapaian nilai tertentu. 

Hal ini dapat terlihat dari konsep Merdeka belajar yang merupakan jawaban atas masalah yang dihadapi oleh guru dalam praktik pendidikan. Oleh karenya perlu ditinjau ulang terkait keunggulan dari Merdeka Belajar ini.

Manfaat Merdeka BelajarPertama, guru menjadi lebih merdeka sebab beban dalam melaksanakan profesinya menjadi berkurang. 

Hal ini dibuktikan dari keluasaan dalam menilai peserta didik dengan berbagai bentuk instrumen penilaian, dengan penyederhanaan pembuat administrasi yang hanya berbentuk modul (misalnya guru diperbolehkan mengajar hanya satu materi saja selama satu semester guna memperdalam materi di setiap tingkatan dalam pengajaran), serta tidak adanya intimidasi hingga politisasi guru.

Kedua, lebih transparan dalam pengungkapan kendala yang dihadapi guru (mulai dari input sampai output) seperti halnya masalah PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), administrasi guru yang sangat banyak (silabus, RPP, prota, prosem, dan sebagainya), proses pembelajaran, hingga masalah USBN-UN.

Ketiga, lebih relevan dan interaktif dalam artian, pembelajaran Merdeka Belajar ini dibuat dengan kegiatan berbasis proyek dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para peserta didik agar dapat mengeksplor secara lengkap terkait isu-isi yang faktual dan kekinian guna terealisasinya pengembangan karakter serta kompetensi Profil Pelajar Pancasila (Beriman, bertakwa kepada TMYE dan berkakhlak mulia ; mandiri ; bergotong-royong ; berkebhinekaan global ; bernalar kritis ; dan kreatif).Dari konsep Merdeka Belajar ini tentu terlihat baik guru dan peserta didik sesungguhnya merupakan subjek di dalam sistem pembelajaran. 

Dalam artian guru bukan hanya dijadikan sebagai satu-satunya objek kebenaran tetapi guru dan peserta didik dapat berkolaborasi dan satu sama lain dapat menjadi role model untuk mencari kebenaran, dan juga tak hanya menyeragamkan apa yang dianggap guru benar namun juga dapat menggali kebenaran daya nalar yang kritis para peserta didik dalam melihat fenomena.

Share:
Komentar

Berita Terkini