-->

Rumah Suluk Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah di Marindal Terbuka untuk Masyarakat, Diklaim Bantu Pembinaan Pecandu Narkoba

Di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga berbagai penyakit masyarakat lainnya, pendekata

Editor: PoskotaSumut.id author photo

teks foto : Syekh muda Muhammad Sholeh

DELI SERDANG
– Di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga berbagai penyakit masyarakat lainnya, pendekatan spiritual masih menjadi salah satu alternatif pembinaan yang diminati.

Salah satunya dilakukan melalui Rumah Suluk Thoriqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah yang berada di Jalan Kongsi Gang Leman Harahap, Desa Marindal I, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang.

Rumah suluk tersebut merupakan bagian dari jaringan Tarekat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah yang berpusat di Bandar Rejo, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Syekh Muda Muhammad Sholeh, yang dipercaya oleh mursyid untuk mengelola rumah suluk tersebut, mengatakan Tarekat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah merupakan salah satu cabang tarekat yang berkembang cukup pesat di Indonesia dan telah diikuti puluhan ribu jamaah yang tercatat resmi mengikuti suluk.

"Tarekat ini berpusat di Persulukan atau Pondok Pesantren Thariqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah di Bandar Rejo, Kabupaten Simalungun. Hingga saat ini sudah puluhan ribu orang yang tercatat mengikuti suluk," ujar Muhammad Sholeh saat berbincang dengan Poskota Sumut, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, ajaran yang dikembangkan oleh mursyid tarekat tersebut, Syekh Salman Da'im, menitikberatkan pada penguatan spiritual melalui dzikir, pembinaan akhlak, dan pemurnian rohani.

"Fokus utama ajaran ini adalah dzikrullah atau mengingat Allah, rabithah atau ikatan hati dengan mursyid, serta pembinaan rohani yang berkelanjutan," katanya.

Selain mengajarkan nilai-nilai tasawuf, lanjutnya, Syekh Salman Da'im juga menanamkan prinsip kehidupan yang memadukan spiritualitas dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

"Sejak awal beliau mengajarkan perpaduan antara tasawuf dan modernitas dengan menekankan sifat welas asih, dono weweh atau suka memberi, andhap asor atau rendah hati, serta wicaksana dalam menjalani kehidupan," jelasnya.

Muhammad Sholeh menegaskan bahwa Rumah Suluk Thoriqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah terbuka bagi siapa saja yang ingin memperdalam kehidupan spiritual maupun memperbaiki diri.

Ia juga menyebutkan bahwa metode pembinaan melalui suluk selama ini dinilai efektif membantu proses pemulihan bagi pecandu narkoba maupun individu yang ingin melepaskan diri dari berbagai kebiasaan negatif.

"Rumah suluk ini terbuka untuk siapa saja. Selama ini banyak yang datang untuk memperdalam ibadah, memperbaiki diri, bahkan ada yang mengikuti pembinaan karena ingin lepas dari ketergantungan narkoba dan berbagai penyakit masyarakat lainnya," ujarnya.

Untuk mengikuti program suluk, peserta hanya dikenakan biaya operasional yang relatif terjangkau.

"Biayanya Rp250 ribu per minggu dan itu sudah termasuk tempat penginapan selama mengikuti kegiatan suluk," kata Muhammad Sholeh.

Melalui pembinaan spiritual yang berkesinambungan, Rumah Suluk Thoriqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah berharap dapat menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membangun kehidupan yang lebih baik, damai, dan bermanfaat bagi sesama.

Share:
Komentar

Berita Terkini