MEDAN – Paviliun Kabupaten Labuhanbatu pada ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026 sukses menarik perhatian pengunjung melalui beragam produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di antara puluhan produk yang dipamerkan, keripik pare menjadi primadona karena menawarkan sensasi berbeda dari sayuran yang selama ini identik dengan rasa pahit.
Staf Paviliun Kabupaten Labuhanbatu, Melati, mengatakan seluruh produk yang dipasarkan merupakan hasil karya pelaku UMKM lokal binaan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu.
Berbagai produk yang dipamerkan antara lain keripik pare, banana roll, keripik pisang, keripik bayam, kue bawang, ikan asin, wedang sehat, hingga aneka kerajinan tangan khas daerah.
"Semua produk yang ada di stan ini merupakan produk lokal asli Labuhanbatu. Yang paling banyak dicari pengunjung adalah keripik pare karena produk ini unik dan belum banyak ditemukan di paviliun daerah lain," ujar Melati saat ditemui di Paviliun Kabupaten Labuhanbatu, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Melati, keistimewaan keripik pare terletak pada proses pengolahannya. Pare yang digunakan tetap merupakan pare asli tanpa perlakuan khusus untuk menghilangkan rasa pahit.
"Pare yang digunakan benar-benar pare asli. Hanya diiris tipis, dibalur tepung, kemudian digoreng hingga renyah. Hasil akhirnya justru tidak pahit sama sekali. Itu yang membuat banyak pengunjung penasaran lalu membelinya," jelasnya.
Keripik pare tersebut dipasarkan dengan harga Rp18.000 per kemasan isi 100 gram dan tersedia dalam tiga pilihan rasa, yakni original, pedas, dan campuran, dengan harga yang sama.
Selain produk makanan, Paviliun Labuhanbatu juga menghadirkan beragam hasil kerajinan tangan karya masyarakat setempat yang sebagian besar merupakan binaan Tim Penggerak PKK Kabupaten Labuhanbatu.
Produk kerajinan tersebut meliputi tas berbahan manik-manik, rotan, plastik daur ulang, hingga lidi kelapa sawit yang diolah menjadi berbagai perlengkapan rumah tangga.
Salah satu produk yang cukup menarik perhatian pengunjung adalah keranjang cuci beras dengan desain berwarna-warni.
"Banyak pengunjung yang bertanya karena bentuknya unik. Ada yang mengira untuk pot tanaman atau tempat penyimpanan, padahal fungsi utamanya memang sebagai keranjang untuk mencuci beras," kata Melati sambil tersenyum.
Tak hanya mengangkat produk UMKM, Paviliun Labuhanbatu juga memamerkan batik printing khas daerah dengan harga mulai sekitar Rp200 ribu hingga lebih dari Rp600 ribu, bergantung pada motif, ukuran, dan kualitas bahan.
Yang tak kalah menarik perhatian adalah tiga karya seni lukis milik seniman asal Labuhanbatu, Ucok Bangun Gultom. Keunikan lukisan tersebut terletak pada teknik pembuatannya yang menggunakan tinta pulpen sebagai satu-satunya media pewarna, tanpa tambahan cat.
"Lukisan ini dibuat murni menggunakan tinta pulpen. Kalau ada pengunjung yang berminat, kami bisa mempertemukan langsung dengan pelukisnya untuk berdiskusi dan melakukan negosiasi harga," ujar Melati.
Setiap lukisan dipasarkan dengan harga berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaannya.
Melati berharap keikutsertaan Kabupaten Labuhanbatu pada PRSU ke-50 dapat menjadi ajang promosi efektif bagi produk-produk UMKM daerah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha lokal.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat yang berkunjung ke PRSU untuk menyempatkan diri mengunjungi Paviliun Labuhanbatu.
"Keripik pare menjadi produk yang paling kami rekomendasikan karena stoknya mulai menipis. Selain itu, masih banyak kerajinan tangan yang unik serta lukisan berbahan tinta pulpen yang hanya dapat ditemukan di Paviliun Kabupaten Labuhanbatu," pungkasnya.
