
Aktivitas di dermaga sederhana (tangkahan kayu) Cap Go Can, Tanjungbalai. Di sebelahnya tampak pula Rumah Makan yang menyediakan menu khas pesisir Asahan itu
Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Ketika jembatan belum membentang di atas Sungai Asahan dan Sungai Silau, masyarakat menggantungkan perjalanan mereka pada jalur air. Sungai menjadi jalan raya, perahu menjadi kendaraan, sementara tangkahan menjadi tempat manusia bertemu, berdagang, dan melanjutkan perjalanan.
Dari Sungai Asahan, Sungai Silau hingga Selat Malaka, jalur perairan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Di tengah kota yang wilayahnya dipisahkan oleh sungai-sungai tersebut, terdapat sebuah titik di ujung tanjung yang memiliki peranan penting. Perahu-perahu datang dan pergi. Pedagang membawa hasil bumi, masyarakat datang berbelanja, sementara para pendatang menjadikan kawasan itu sebagai salah satu pintu masuk menuju pusat keramaian.
Tempat itu kini dikenal sebagai Tangkahan Cap Go Can.
Namun, di balik nama yang terdengar unik itu, tersimpan cerita tentang 15 anak tangga, seorang pengusaha keturunan Tionghoa, lahirnya Sampan Kotak, serta perjalanan panjang transportasi air yang menjadi bagian dari sejarah maritim Kota Tanjungbalai.
Ketika 15 Anak Tangga Melahirkan Nama Cap Go Can
Konon, pada masa awal perkembangannya, tangkahan tersebut dibangun oleh seorang pengusaha pendatang keturunan Tionghoa.
Ia melihat potensi besar jalur perairan yang menjadi satu-satunya akses utama masyarakat untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Sebuah dermaga sederhana kemudian dibangun di tepian sungai.
Namun, dermaga itu memiliki ciri khas tersendiri. Sebanyak 15 anak tangga dibuat menjulur ke arah dasar sungai.
Tangga-tangga tersebut memiliki fungsi penting. Ketika permukaan air sungai surut, masyarakat tetap dapat turun dan naik dari perahu menuju daratan.
Dari situlah nama Cap Go Can diyakini berasal.
Dalam dialek Tionghoa, “Cap Go” berarti lima belas, sementara “Can” diartikan sebagai anak tangga.
Lima belas anak tangga itu kemudian tidak hanya menjadi bagian dari konstruksi sebuah dermaga, tetapi juga melahirkan nama yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Masyarakat dari berbagai latar belakang etnis pun mengenal kawasan tersebut dengan sebutan yang sama: Cap Go Can.
Seorang Pengusaha dan Lahirnya Sampan Kotak
Kehadiran tangkahan ternyata tidak hanya membuka akses penyeberangan.
Pengusaha keturunan Tionghoa yang membangun dermaga tersebut juga memperkenalkan jasa transportasi air berbayar yang menjadi salah satu cikal bakal berkembangnya aktivitas penyeberangan di kawasan Kampoeng Tandjoeng.
Moda transportasi itu dikenal dengan nama Sampan Kotak.
Bentuknya berbeda dengan perahu tradisional biasa.
Sampan tersebut memiliki desain yang khas dengan pengaruh gaya perahu Tionghoa. Bagian tubuhnya tampak melebar, sementara kedua ujungnya memiliki bentuk yang meruncing.
Sekilas, bentuknya mengingatkan pada perahu-perahu tradisional yang banyak digunakan di kawasan Asia Tenggara.
Yang membuatnya semakin menarik, Sampan Kotak juga dilengkapi dengan kap atau atap pelindung.
Penumpang tidak hanya menyeberang dari satu tepian ke tepian lainnya, tetapi juga memperoleh perlindungan dari sengatan matahari dan hujan.
Seiring waktu, jasa transportasi tersebut berkembang.
Masyarakat lokal mulai melihat peluang ekonomi dari keberadaan Sampan Kotak.
Warga pun mulai mengoperasikan perahu mereka sendiri dan ikut terlibat dalam usaha transportasi air. Aktivitas tambang Sampan Kotak semakin ramai, sementara Tangkahan Cap Go Can tumbuh menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat.
Ketika Perahu Membawa Denyut Ekonomi Kota
Keramaian di Tangkahan Cap Go Can perlahan menciptakan denyut ekonomi baru.
Perahu-perahu tidak hanya membawa penumpang.
Mereka juga membawa hasil bumi, ikan, barang dagangan, serta berbagai kebutuhan masyarakat.
Aktivitas tersebut semakin berkembang hingga pemerintah kolonial Belanda membangun pasar tradisional di sekitar kawasan tangkahan.
Pasar itu berada berdampingan dengan jalur penyeberangan dan kini dikenal sebagai kawasan Pajak Kawat dan Pajak Ikan.
Sejak saat itu, hubungan antara sungai, tangkahan, perahu, dan pasar semakin erat.
Setiap hari, masyarakat dari berbagai wilayah di seberang sungai datang menuju pusat perdagangan tersebut.
Mereka berasal dari Patembo, Sungai Nangka, Sei Kepayang, Sei Londir, Teluk Nibung hingga Bagan Asahan.
Sebagian membawa hasil pertanian dan hasil bumi untuk dijual.
Sebagian lainnya datang untuk membeli kebutuhan pokok sebelum kembali menyeberangi sungai.
Tangkahan Cap Go Can menjadi tempat bertemunya berbagai kepentingan.
Pedagang, petani, nelayan, pengemudi sampan dan masyarakat biasa sama-sama menggantungkan aktivitas mereka pada jalur perairan.
Pada masa itu, sungai bukan sekadar bentangan air.
Sungai adalah jalan raya.
Dan Tangkahan Cap Go Can adalah salah satu persimpangan terpentingnya.
Bertahan Ketika Zaman Berubah
Waktu kemudian membawa perubahan.
Kota berkembang. Jalan-jalan dibangun. Infrastruktur darat semakin baik. Jembatan mulai menghubungkan wilayah-wilayah yang sebelumnya hanya dapat dijangkau dengan perahu.
Satu per satu tangkahan tradisional mulai kehilangan perannya.
Sebagian beralih fungsi.
Sebagian lainnya perlahan tinggal menjadi cerita.
Namun, Tangkahan Cap Go Can menunjukkan ketahanan yang berbeda.
Keberadaannya tetap dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan setelah Jembatan Tabayang yang menghubungkan Tanjungbalai dan Sei Kepayang berdiri.
Bagi masyarakat yang menuju Sungai Nangka dan daerah sekitarnya, jalur penyeberangan menggunakan Sampan Kotak tetap menjadi pilihan.
Selain biaya perjalanan yang relatif lebih terjangkau dibandingkan menggunakan becak motor dengan rute memutar melalui jembatan, Sampan Kotak juga memiliki keunggulan tersendiri.
Perahu dapat membawa penumpang langsung menuju kawasan pusat pasar.
Bagi pedagang dan ibu rumah tangga yang membawa barang belanjaan dalam jumlah banyak, jalur air menjadi lebih praktis.
Tidak perlu perjalanan memutar.
Tidak perlu mengangkut barang terlalu jauh.
Dari perahu, masyarakat dapat langsung melangkah menuju denyut perdagangan kota.
Lebih dari Sekadar Tempat Penyeberangan
Hari ini, Tangkahan Cap Go Can bukan hanya sebuah tempat untuk naik dan turun dari perahu.
Di kawasan ini tersimpan jejak sejarah perjalanan Kota Tanjungbalai.
Nama yang lahir dari 15 anak tangga menjadi pengingat bahwa sebuah tempat sederhana dapat tumbuh menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah kota.
Sampan Kotak menjadi saksi bagaimana kreativitas dan peluang ekonomi tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan transportasi.
Pasar di sekitarnya mengingatkan bahwa perdagangan dan jalur air pernah menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Lebih dari itu, Tangkahan Cap Go Can juga merekam perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dan etnis yang bersama-sama membangun kehidupan di Kota Tanjungbalai.
Perahu mungkin datang dan pergi.
Penumpangnya terus berganti.
Zaman pun terus berubah.
Namun, Tangkahan Cap Go Can tetap berdiri sebagai salah satu penanda sejarah.
Sebuah monumen hidup yang mengingatkan bahwa jauh sebelum jalan raya dipenuhi kendaraan dan jembatan membelah sungai, kehidupan masyarakat Tanjungbalai pernah sepenuhnya bergantung pada air.
Di tempat inilah, sejarah itu masih terasa.
Di antara riak sungai dan perahu yang terus berlayar, Cap Go Can tetap menyimpan cerita tentang manusia, perdagangan, keberagaman, dan denyut maritim Kota Tanjungbalai yang tak pernah benar-benar padam.