Oleh : Harusnyah Arsyad
Lewat tengah malam itu sebelum malam beranjak dinihari di atas ranjang tua sebelum rebah berbaring untuk memejamkan matanya tampak tangan si nenek meraba raba ke bawah kolong dipan bambunya mengambil sesuatu, sebuah guci tanah bertutup.
Setelah diambilnya kemudian ia membuka penutupnya dan lalu meneguk beberapa teguk isinya dari mulut guci. Isi guci itu sepertinya sebuah minuman herbal (jamu jamuan) yg diolah dan diramu sang nenek dari bermacam dedaunan dicampur temu temuan juga akar akaran dari tanamannya sendiri di halaman belakang gubuk.
Minuman hasil ramuannya itu cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang sedang kedinginan setelah tersiram hujan lebat tadi. Setelah itu seperti kebiasaannya saat hendak memejamkan mata, ia senantiasa berdoa pada "sang debata na bolon" Yang Maha Tinggi sesuai kepercayaannya.
Saat itu ia belum mengenal agama yg ajarannya sampai padanya. Ia hanya penganut suatu kepercayaan turun temurun dari nenek moyang leluhurnya. Ia pemuja arwah para leluhur juga makhluk makhluk dari dimensi alam lain (pelbegu) yg dianggap menguasai mereka dan alam tempat mereka berada.
Dalam pintanya ia selalu memohon kiranya para leluhur dan penguasa alam melindungi puteranya dari mara bahaya dan menjaga puteranya dari hal hal buruk serta memberikan pertolongan bila Simardan sedang ditimpa mara bahaya.
Sementara itu jauh disana di belahan Utara Selat Malaka rupanya badai ribut juga baru saja reda. Perahu yg dikendalikan Simardan bersama isinya tiga penumpang lainnya akhirnya terdampar pada tepian sebuah pulau.
Saat itu lambung perahu sudah hampir dipenuhi air hujan yg bercampur air laut yg masuk kala badai melanda. Sekujur tubuh merekapun sudahlah basah kuyup. Ketiga teman Simardan di perahu itupun sudah pula tergeletak lemas di lantai perahu dengan tangan terjuntai juntai di sisi perahu.
Tubuh mereka bertiga tampak payah seperti sudah kehabisan tenaga. Simardan yang baru saja berjuang melabuhkan perahunya di pulau itu berlindung dari hantaman ombak serta terjangan angin kencang.
Simardan terlihat sudah kelelahan namun tetap tegar penuh semangat. Ketika perahu hampir mencapai bibir pantai ia lalu melompat ke luar lalu mengikatkan perahu pada sebatang pohon bakau yg tumbuh di tepian. Pulau itu tanahnya berpasir berwarna merah kekuning kuningan.
Dari ilmu pertambangan jenis tanah seperti itu biasanya banyak mengandung bauksit bahan baku pembuatan alumunium. Firasat Simardan merasakan adanya sesuatu yang tidak beres disitu. Dengan mengendap-endap ia memasuki lebih ke dalam pulau itu (sekarang dikenal dengan nama Pulau Bintan dengan kota Tanjung Pinang sebagai ibukotanya, Provinsi Kepulauan Riau).
Semakin ke dalam Simardan masuk, kawasan itu terlihat semakin apik dan bersih. Tanaman tanaman ditata rapi dan teratur juga rumput disana tampak terhampar dengan baik. Menunjukkan pulau itu berpenghuni.
Nun jauh ke dalam daratan sana pada subuh buta itu Simardan samar samar melihat adanya bayang bayangan sebuah rumah panggung yg berukuran sedang. Lentera dan pelita penerangan di rumah itu tidak menyala.
Mungkin sengaja dimatikan penghuninya takut dapat menimbulkan kebakaran karena diterbangkan angin kencang yg turut melanda kawasan tersebut tadi malam. Semakin mendekati rumah itu Simardan semakin berhati hati makin meningkatkan kewaspadaannya.
Agar tak mengeluarkan suara yg dapat didengar penghuni rumah, terpaksa ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Mendekati rumah panggung itu Simardan tampak berlari dari balik pohon ke batang pohon lainnya. Kadang ia melompati saja lalu mengendap-endap terus makin mendekat ke rumah panggung itu.
Ketika sudah bersisian dengan rumah panggung itu dengan satu hentakan pada ujung kaki, tubuhnya sudah melenting melayang ke atas bubungan rumah. Di atas bubungan, atap dari sirap yang terbuat dari kulit kayu pilihan itu dibukanya satu lembar.
Dari lobang yg sudah terbuka itu Simardan melihat ke bawah mengamati seisi rumah. Dilihatnya ada enam ruangan di rumah kayu bertiang itu. Satu kamarnya berukuran lumayan besar terletak terpisah dari lima ruangan lainnya.
Kamar-kamar berukuran kecil dua diantaranya terletak di ruang tengah berhadapan dengan kamar besar itu, sedang tiga lagi terdapat di ruang belakang. Masing masing kamar ukuran kecil itu diisi satu orang laki-laki berpakaian yg sama seperti penghuni pada kamar kecil lainnya.
Penghuni rumah itu semua kini sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Kelihatannya mereka baru saja terlelap. Dengan gerakan bayangan yg bagaikan angin saja yg hampir tak bersuara, Simardan sudah melompat ke bawah masuk ke kamar utama rumah itu.
Lalu dengan mengendap endap ia mendekati satu ranjang besar di kamar itu. Tak disadarinya Simardan menyentuh sebuah jebakan. Kakinya mengenai sesuatu yang terhubung ke sebuah guci keramik di atas bufet lalu jatuh pecah berserakan ke lantai.
Sepasang manusia di atas tempat tidur besar itu tersentak bangun. Serempak mereka terkejut ada orang masuk ke kamarnya. Seorang wanita muda berparas cantik berkulit putih mulus dengan seorang lelaki berbadan kekar berkulit agak gelap.
Simardan selama ini sudah mengendus keberadaan pulau yg tidak terlalu besar itu sebagai salah satu pulau tempat penimbunan harta gelap Badogol bersama para gundik simpanannya. Bila Badogol kembali ke kapal lanun meninggalkan wanita wanitanya maka sudah biasa sang gundik kerap melakukan perselingkuhan dengan para kaki tangan Badogol yg lain di pulau itu. (Bersambung)
