Oleh : Harunsyah Arsyad
Singkat cerita, gundik Badogol bersama laki-laki yang menjadi selingkuhannya akhirnya tewas di tangan Simardan. Keduanya mencoba melawan dan hendak membunuh Simardan. Namun, usaha itu gagal.
Sambil berteriak memanggil anak buahnya, Simardan memerintahkan pasukannya menaklukkan para kaki tangan Badogol yang berada di rumah tersebut.
Setelah keadaan berhasil dikendalikan, para komplotan Badogol yang menjaga sejumlah pos tersebar di pulau itu dikumpulkan. Mereka diminta menyerahkan diri secara baik-baik tanpa melakukan perlawanan.
Para anak buah tersebut akhirnya memilih menyerah kepada Simardan. Mereka sebenarnya sudah mengenal sosok Simardan karena dahulu ia juga merupakan pemimpin mereka sebagai panglima kapal bajak laut. Mereka tidak mengetahui bahwa Simardan telah meninggalkan kelompok lanun tersebut.
Sebagian dari mereka sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa Simardan dan Raja Rompak telah dikhianati Badogol. Namun, mereka telah terpedaya oleh berbagai bujuk rayu, hasutan dan kelicikan Badogol.
Selama itu pula, sebagian anak buah kapal lanun telah dipengaruhi untuk bergabung dengan Badogol dan menjadi semacam prajurit bayangan.
Dengan siasat yang rapi, mereka diperintahkan menyembunyikan sebagian hasil rompakan kelompok lanun Lancang Hitam setiap kali melakukan operasi.
Kini semuanya telah berada di bawah kendali Simardan.
Membangun Negeri Baru
Setelah keadaan di pulau itu kondusif, dimulailah era baru.
Simardan bersama prajurit yang tetap setia kepadanya mulai membangun kembali kerajaan kecilnya. Harta yang berhasil dikuasai dari peninggalan Badogol, termasuk harta yang disembunyikan di sejumlah pulau rahasia, kemudian menjadi modal awal untuk membuka kehidupan baru.
Mereka perlahan meninggalkan dunia hitam yang selama ini penuh kejahatan, kekerasan dan kemaksiatan.
Harta gelap milik Badogol yang mereka kuasai dijadikan harta pampasan sekaligus modal untuk merintis usaha perdagangan antarnegeri di kawasan pesisir Selat Malaka.
Dalam membangun kehidupan barunya itu, Simardan mendapat bantuan dari seorang saudagar kecil asal Kampung Tanjung, pemilik sebuah perahu, bersama dua orang rekannya yang dahulu pernah diselamatkan Simardan dari amukan badai Selat Malaka.
Sejak peristiwa tersebut, hubungan mereka semakin erat. Mereka menjadi sahabat karib yang seia sekata, saling membantu dan mendukung.
Sang saudagar memiliki pengalaman dalam urusan perdagangan. Sebelumnya ia telah menjalin hubungan dagang dengan sejumlah negeri di tanah Andalas maupun negeri-negeri di tanah seberang.
Pengalaman itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun sebuah negeri terbuka bagi perdagangan antarnegeri di kawasan Selat Malaka.
Tidak lama kemudian, sang saudagar bersama kedua rekannya membawa seluruh keluarganya dari negeri asal untuk menetap di pulau tersebut.
Mereka berjanji untuk tetap setia dan bersama-sama membantu Simardan membangun serta memajukan negeri baru itu.
Lancang Hitam Kembali Diburu
Beberapa tahun berlalu. Setelah merasa memiliki kekuatan yang cukup, Simardan mulai menyusun rencana untuk menumpas kapal lanun Lancang Hitam yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi para pelaut di kawasan Selat Malaka.
Namun, Simardan belum mengetahui bahwa kapal tersebut kini telah dikuasai Badogol. Ayah angkatnya bahkan telah dibuang ke laut oleh pengkhianat itu dan hingga saat itu tidak diketahui nasibnya.
Pada suatu hari yang telah ditentukan, Simardan bersama pasukan yang setia kepadanya bergerak menyerang sebuah pulau rahasia yang selama ini menjadi tempat persembunyian Badogol dan komplotannya.
Pulau tersebut telah lama diendus dan diketahui keberadaannya oleh Simardan.
Saat diserang, kawanan lanun itu sedang beristirahat setelah melakukan aksi perompakan pada malam sebelumnya.
Kebiasaan mereka, pola penjagaan serta berbagai kelemahan kelompok tersebut sudah sangat dipahami Simardan. Bagaimanapun, ia dahulu pernah memimpin mereka.
Serangan mendadak itu akhirnya membuat para lanun kewalahan.
Dalam pertempuran tersebut, Badogol tewas di tangan Simardan. Sebagian pasukan yang tetap setia kepada Badogol turut dihabisi, sedangkan mereka yang menyerah dan kembali kepada Simardan diberikan pengampunan.
Kapal Bajak Hitam beserta harta rampasan lainnya kemudian disita sebagai harta pampasan.
Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Badogol dan kelompok lanun Lancang Hitam yang selama bertahun-tahun meneror pelayaran di kawasan Selat Malaka.
Munculnya Kekuatan Baru
Hari berganti hari dan waktu terus berputar.
Pada masa itu, di ujung timur tanah Andalas terdapat sebuah kerajaan besar bernama Sriwijaya. Kerajaan bercorak Buddha tersebut pernah memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar terhadap negeri-negeri di kawasan Selat Malaka, bahkan hingga wilayah Nusantara.
Namun, memasuki masa itu, kekuatan Sriwijaya mulai melemah.
Jalur perdagangan yang sebelumnya berada dalam pengaruh kerajaan tersebut perlahan meredup. Perpecahan di lingkungan istana turut menyebabkan kekuasaan kerajaan semakin terurai.
Sejumlah pewaris kekuasaan kemudian membuka kerajaan-kerajaan baru yang dikenal sebagai kerajaan Melayu Tua, di antaranya Dharmasraya dan Pagaruyung di pedalaman Andalas.
Di tengah melemahnya Sriwijaya, muncul pula kekuatan baru dari ujung barat Andalas, yakni kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai dan Perlak di Aceh.
Pengaruh kerajaan Islam tersebut perlahan menyebar ke kawasan pesisir timur Andalas. Hubungan perdagangan semakin berkembang dan banyak saudagar dari berbagai wilayah, termasuk mereka yang memiliki darah Timur Tengah, turut memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan tersebut.
Pengaruhnya bahkan sampai ke negeri-negeri kecil di pulau-pulau luar pantai Andalas yang kini dikenal sebagai Kepulauan Riau.
Armada laut kerajaan-kerajaan besar tersebut mulai memiliki pengaruh dalam jalur pelayaran di kawasan Selat Malaka.
Simardan Menjadi Mitra Kerajaan
Dalam perkembangan selanjutnya, Simardan ternyata telah menjadi salah satu mitra dagang kerajaan besar di Aceh.
Keahliannya sebagai pelaut dan keberhasilannya menumpas kelompok lanun yang selama ini menguasai jalur pelayaran membuat namanya semakin dikenal.
Ia kemudian dipercaya membantu tugas-tugas panglima armada laut kerajaan.
Atas jasanya tersebut, Simardan bahkan diangkat sebagai keluarga kehormatan kerajaan.
Keberhasilannya menumpas kelompok Lancang Hitam yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman bagi para pelaut membuat namanya semakin disegani.
Sebelum ditumpas Simardan, kelompok lanun berpanji tengkorak putih bersilang itu merupakan musuh yang amat ditakuti kapal-kapal dagang dan para saudagar yang melintasi Selat Malaka.
Keganasan kelompok tersebut semakin menjadi-jadi setelah dipimpin Badogol yang terkenal ganas, rakus dan tidak mengenal belas kasihan.
Para raja dari berbagai negeri di kawasan Selat Malaka sebelumnya bahkan telah berkali-kali mengadakan pertemuan untuk membicarakan upaya menumpas kelompok tersebut.
Sayembara juga pernah diumumkan di berbagai negeri.
Siapa saja yang mampu menangkap pemimpin lanun, terlebih lagi jika berhasil menghancurkan kelompok perompak Lancang Hitam, akan mendapatkan hadiah besar dan jabatan penting di kerajaan.
Ada yang dijanjikan gelar bangsawan. Bahkan, pemenang dapat memilih salah seorang putri raja dari kerajaan-kerajaan tersebut untuk dijadikan istri.
Namun, tidak seorang pun berhasil melaksanakan tugas tersebut.
Hingga akhirnya Simardan bersama pasukannya berhasil menumpas kelompok lanun itu.
Dari Teuku dan Hang Menjadi Tekong
Atas keberhasilannya tersebut, kerajaan besar Samudera Pasai memberikan gelar kehormatan kepada Simardan.
Ia diberi gelar Teuku, gelar kebangsawanan yang dikenal di Aceh.
Dalam perkembangan pengucapan masyarakat pesisir timur Andalas yang berbeda dengan logat Aceh, kata Teuku kemudian mengalami perubahan bunyi. Pertemuan vokal e dan u dalam pengucapannya melahirkan bunyi yang berbeda sehingga di sejumlah wilayah penyebutannya berkembang menjadi Tengku.
Sementara di tanah Semenanjung, raja-raja setempat memberikan pula gelar Hang sebagai bentuk penghormatan kepada Simardan.
Maka melekatlah dua gelar pada dirinya: Teuku dan Hang.
Dalam percakapan para pelayar di Selat Malaka, kedua gelar tersebut kemudian disingkat agar lebih mudah diucapkan.
Teuku Hang Simardan lama-kelamaan disebut Tek Hang Simardan.
Dari perubahan pengucapan itulah kemudian berkembang penyebutan Tekong Simardan.
Nama itu semakin dikenal karena Simardan juga memperkenalkan permainan bola keranjang atau sepak takraw di negeri barunya.
Permainan tersebut kemudian berkembang dan digemari pemuda di berbagai negeri sekitar Selat Malaka.
Dalam permainan itu terdapat satu posisi pemain yang biasa ditempati Simardan. Pemain pada posisi tersebut berperan sebagai pemimpin atau kapten tim di lapangan.
Posisi itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan tekong.
Mungkin karena kebiasaan tersebut pula, sebutan tekong kemudian digunakan untuk menyebut nakhoda atau pemimpin kapal-kapal kecil yang berlayar di kawasan Selat Malaka.
Semua itu menjadi bagian dari kisah panjang Simardan, seorang pelaut yang pada akhirnya berubah menjadi tokoh yang tersohor dan disegani di sepanjang Selat Malaka. (Bersambung)
