MEDAN – Sebuah jembatan mungkin hanya berupa konstruksi beton dan besi. Namun bagi warga Jalan Sawit dan Gang Sejuk, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, Jembatan Perintis menjadi jawaban atas persoalan akses yang telah mereka hadapi selama lebih dari dua dekade.
Menariknya, pembangunan jembatan yang kini menjadi akses penting bagi masyarakat tersebut berawal dari informasi seorang wartawan.
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Medan, Irwan Manalu, menjadi pihak yang pertama menyampaikan kondisi akses warga kepada Ketua Umum Yayasan Lansia Merdeka Indonesia (YLMI), Hartono Tjandra.
Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti hingga berujung pada pembangunan Jembatan Perintis yang kini dapat dimanfaatkan masyarakat.
Irwan Manalu bahkan turut diundang dalam peresmian Jembatan Perintis yang digelar Senin (14/9/2026), bersama Ketua Umum YLMI Hartono Tjandra.
Peresmian berlangsung di tengah hujan deras. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan antusiasme warga dan puluhan pelajar sekolah dasar yang selama ini merasakan langsung persoalan akses di kawasan tersebut.
Dalam sambutannya, Hartono Tjandra secara terbuka menyebut Irwan Manalu sebagai pihak yang memberikan informasi awal mengenai kondisi warga.
“Aspirasi warga ini kami dapatkan dari seorang wartawan yaitu Bapak Irwan Manalu selaku Ketua SMSI Kota Medan. Pembangunan jembatan ini berkat informasi awal dari beliau dan rekan-rekannya,” ujar Hartono.
Dua Dekade Menyeberangi Sungai
Sebelum Jembatan Perintis dibangun, warga Jalan Sawit I, Gang Sejuk dan sekitarnya harus menghadapi persoalan akses yang tidak mudah.
Aliran sungai menjadi pemisah antara permukiman warga dengan akses menuju berbagai aktivitas, termasuk sekolah yang setiap hari harus didatangi anak-anak.
Ketika debit air rendah, anak-anak masih dapat menyeberang dengan bantuan orang tua. Namun, situasinya berubah ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Debit air yang meningkat membuat warga harus mengambil risiko saat menyeberangi sungai. Bahkan, menurut keterangan warga setempat, orang tua tidak jarang harus menggendong anak-anak mereka agar dapat melewati aliran sungai.
Jika kondisi sungai tidak memungkinkan untuk diseberangi, warga terpaksa memutar melalui jalur yang lebih jauh.
Persoalan tersebut disebut telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun.
Kondisi inilah yang kemudian diketahui Irwan Manalu bersama rekan-rekannya. Informasi mengenai kesulitan warga itu selanjutnya disampaikan kepada Hartono Tjandra.
Informasi tersebut menjadi awal dari proses yang kemudian melibatkan YLMI dan sejumlah donatur untuk membangun jembatan sebagai akses penghubung bagi warga.
Artinya, pembangunan Jembatan Perintis tidak muncul begitu saja. Ada rangkaian proses yang bermula dari informasi mengenai persoalan masyarakat, kemudian ditindaklanjuti hingga akhirnya diwujudkan dalam bentuk pembangunan fasilitas publik.
Hartono mengatakan pembangunan jembatan tersebut terwujud berkat dukungan sejumlah donatur, pemerintah kecamatan dan kelurahan serta berbagai pihak lainnya.
“Ini juga berkat bantuan dari kawan-kawan lainnya yang tergugah hatinya untuk membantu masyarakat di sini, agar dibangunkan jembatan sebagai penghubung mobilitas warga,” katanya.
Ketika Informasi Menjadi Aksi
Bagi Irwan Manalu, keterlibatannya dalam proses pembangunan Jembatan Perintis bermula dari fungsi sederhana seorang wartawan, yakni melihat persoalan yang terjadi di tengah masyarakat kemudian menyampaikannya kepada pihak yang dapat menindaklanjuti.
Informasi mengenai warga yang kesulitan mengakses sekolah dan menjalankan aktivitas sehari-hari itu akhirnya menemukan jalannya melalui YLMI dan para donatur.
Jejak dari informasi tersebut kini terlihat dalam bentuk sebuah jembatan yang langsung digunakan masyarakat.
Mewakili Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Adlan, menyampaikan apresiasi kepada Hartono Tjandra, para donatur, YLMI, SMSI Kota Medan serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan Jembatan Perintis.
Apresiasi juga disampaikan kepada Sekretaris Umum YLMI, Theresia Riama Marbun, yang turut terlibat dalam proses pembangunan.
Menurut Adlan, keberadaan Jembatan Perintis bukan sekadar menghadirkan konstruksi penghubung secara fisik, tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas.
“Dengan adanya Jembatan Perintis ini, kita berharap mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah dan berbagai aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan lebih baik,” ujarnya saat membacakan sambutan Wali Kota Medan.
“Sebelum jembatan ini ada, mereka harus digendong oleh orang tuanya menyeberangi sungai saat berangkat maupun pulang sekolah. Kini, kita berharap akses mereka menjadi mudah dan aman,” imbuhnya.
Adlan menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, yayasan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan dan berbagai elemen kota merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kini, bagi warga Jalan Sawit dan Gang Sejuk, Jembatan Perintis bukan sekadar bangunan yang membentang di atas sungai. Jembatan itu menjadi penghubung aktivitas, akses menuju sekolah dan bagian dari perubahan kehidupan warga setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan.
