Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Sore itu, air Sungai Barumun sedang surut-surutnya. Boat kayu penyeberangan dari Tanjung Sarang Elang menuju Labuhan Bilik bersandar agak rendah, membuat selembar papan titian pembawa motor miring curam ke bawah.
Wak Atan Sajoja datang membawa sepeda motor bebek lawasnya yang knalpotnya sudah digandeng karet ban dalam. Di pinggir dermaga, para buruh panggul/sorong motor sudah bersiap.
"Wak! Sika kayi tughunkan kagheta nyen. Cugham bonagh papannyen, licin kona lumpogh. Silap sikit, tacampak ko kang ka laut ten baseghak gigi palsu en!" teriak Lek Jamil, kepala buruh tangkahan setempat, lengkap dengan logat pesisirnya yang melengking.
Wak Atan Sajoja, yang pantang dibilang tua apalagi dibilang tak mampu, langsung merengut. "Ehh, Jamil! Ko tengok do ghambutku ka, mamutih bukan kaghona uban, tapi kaghona kona gagham ikan masin! Sojak ko maseh layi badodot minum susu cap junjong, aku ka udah bulak-balek menyaboghang naek sampan badayong dua. Usah ko ajaghi itek beghonang!"
"Bukan bagitu, Wak... Tongkagh bonagh uwak jang. Ika kagheta kap uwak ka ghemnya pun ontah idup ontah indak. Biagh la kayi soghongkan tughon ka boat en, cuma lima ghibu peghak ja!" balas Jamil mulai panas.
"Lima ghibu? Ah, bagusan kubolikkan ghokok tiga batang! Bagesegh ko sikit, bak kutunjokkan macam mana skill pambalap Pane ka!"
Wak Kombang tetap bersikeras menaikkan sendiri motornya ke boat penyeberangan itu. Dia merasa tak perlu bantuan buruh. Dengan gaya angkuh, dia menghidupkan motor—breemmm... prek... prek... bunyi knalpot rombengnya bergema.
Dia mulai mengarahkan ban depan ke papan titian yang lebarnya tak seberapa itu. Para buruh dan penumpang lain di dalam boat kayu sudah menahan napas.
"Rem, Wak! Pegang Rem tangan mu!" teriak penambang boat.
Begitu ban depan menginjak papan yang licin karena sisa lumpur sungai, motor bebek Wak Atan Sajoja langsung meluncur tanpa ampun. Rupanya, rem depan motornya memang blong total! Rem kaki yang diinjaknya sekuat tenaga justru membuat ban belakang selip dan bergoyang ke kanan dan ke kiri mirip penari ronggeng.
"Oii... oii... Omak ko malumpat!!" jerit Wak Atan Sajoja panik.
Sreeeettt... gubraaakkkk!
Motornya tidak jatuh ke sungai, tapi meluncur terlalu cepat menabrak tumpukan karung beras di dalam boat kayu. Wak Atan Sajoja sendiri tercampak maju ke depan, kepalanya mendarat tepat di atas pangkuan Lek Jamil yang kebetulan sudah stand-by di bawah untuk menyambut atau lebih tepatnya, pasrah tertabrak.
Suasana boat hening sejenak, lalu pecah oleh tawa penumpang lain.
Lek Jamil yang tertimpa badan Wak Atan Sajoja cuma bisa mendengus sambil membersihkan debu karung di bajunya. "Haa... kan... camana ja, Wak? Sodap? Baghapa rante tain skill pambalap Pane en?"
Wak Atan Sajoja, dengan muka merah padam tapi gengsi tetap setinggi langit, langsung berdiri tegak dan membetulkan letak kain sarungnya yang sempat melorot. Dia menepuk-nepuk dadanya sambil berkata dengan suara lantang:
"Ko tengok en, Jamil! Enlah teknik mandaghat darurat yang paten! Indak poghlu bayagh lima ghibu, kagheta udah sampek di bawah, aku pun langsung dapat tompat duduk di pangkuan men. Ko nya nan ghugi indak pasang taghip basandagh di badan men!"
Lek Jamil cuma bisa mengelus dada. "Koghas kapala nan betengnya ko, Wak. Untung indak tajughangkang ka laut ten ko basama kagheta mu en."
"Kalo masuk laut en pun indak pala takut aku," sahut Wak Atan Sajoja sambil menghidupkan rokoknya yang agak basah. "Sungai Barumun ka udah macam paghet balakang rumahku ja!", lagaknya tak mau kalah.
