-->

Mariam Puntung Saksi Bisu Transformasi Kerajaan Aru Menjadi Kesultanan Deli

Cerita rakyat Melayu Deli-Karo Putri Hijau, putri Kerajaan Aru (Haru) yang cantiknya memancarkan cahaya hijau zamrud. Dia tinggal di Benteng Putri Hi

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                    Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

1. Asal-usulnya: Perang Aru vs Aceh (1612)

Cerita rakyat Melayu Deli-Karo Putri Hijau,  putri Kerajaan Aru (Haru) yang cantiknya memancarkan cahaya hijau zamrud. Dia tinggal di Benteng Putri Hijau, Deli Tua, bersama dua saudaranya: Mambang Yasid (kakak) dan *Mambang Khayali* (adik).

Sultan Aceh, Iskandar Muda, mendengar kecantikannya dan mau meminangnya. Lamaran ditolak mentah-mentah oleh Mambang Yasid karena dianggap licik. Sultan Aceh marah, kirim pasukan besar di bawah Panglima Gocah Pahlawan untuk menyerang Aru.

Benteng Aru sangat kuat, Aceh tidak bisa tembus. Akhirnya Aceh memakai siasat kotor: menembakkan ribuan uang emas ke dalam benteng. Penjaga benteng berebut emas, meninggalkan pintu gerbang. Pasukan Aceh pun dapat masuk dan membunuh Raja. Seisi istana dihancurkan. 

Saat benteng mau jatuh, Mambang Khayali yang sakti, melakukan pengorbanan terakhir. Dia dengan mantra menyatu dengan sebuah meriam, menjadi senjata pamungkas. 

Meriam itu menembak tanpa henti, menghancurkan barisan Aceh. Tapi karena terlalu panas, meriam itu meledak dan patah menjadi dua (versi lain bilang tiga).

Satu patahan terlempar jauh ke Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe, Tanah Karo, sampai sekarang masih ada di sana, disimpan dalam rumah adat Karo kecil.

Satu patahan lagi tertinggal di medan perang di Deli Tua.

Itulah kenapa disebut Puntung/Buntung,, karena tidak utuh lagi. Panjang aslinya konon 3 meter, daya hancurnya bisa sampai 80 km.

Saudaranya, Mambang Yasid, berubah jadi ular naga besar, melarikan Putri Hijau lewat Sungai Deli ke Selat Malaka, sampai ke Pulau Berhala. Sebagian orang-orang tua Karo percaya Putri Hijau masih hidup di laut.

3. Kenapa sekarang Meriam Puntung ada di Istana Maimun?*

Waktu Aru kalah tahun 1612, Aceh menang tapi *tidak bisa menghapus ingatan orang Karo tentang Aru. Bagi orang Karo dan Melayu Deli, Meriam Puntung itu keramat — jelmaan leluhur mereka.

Berawal ketika Gocah Pahlawan menikahi Putri Balau (adik Raja Aru) dan mendirikan Kesultanan Deli (1632), dan sampai 250 tahun kemudian Sultan Ma'mun Al-Rasyid membangun Istana Maimun (1888), dia butuh simbol bahwa *Deli adalah penerus sah Aru.

Maka patahan meriam yang tertinggal di Deli Tua itu diambil dan dipindahkan ke halaman Istana Maimun pada abad ke-19. Disimpan khusus di dalam bangunan mini awalnya Rumah Adat Karo, dikelilingi kain kuning dan hijau  warna Kesultanan Deli.

Tujuannya:

Menunjukkan bahwa Delikhan, bukan penjajah. "Kami menjaga pusaka nenek moyang kalian. Darah Aru masih ada di sini, di istana kami."

Jadi Meriam Puntung itu adalah jembatan sejarah:

Kerajaan Aru hancur (1612) -> Pusakanya pecah -> Dikumpulkan kembali oleh Kesultanan Deli di Istana Maimun (1888) sebagai bukti legitimasi.

Sampai sekarang orang Medan yang iseng kalau menempelkan telinga ke lubang meriam itu, katanya ada yang dengar suara air mengalir, ada yang dengar suara jeritan perang. Dianggap sangat keramat.

Yang jelas Meriam Puntung itu adalah peninggalan sejarah Kerajaan Aru (Karo) yang bertransformasi menjadi Kesultanan Deli (Melayu, Karo, Aceh, dan India).

Share:
Komentar

Berita Terkini