Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad
Kalau orang bilang Medan adalah jantungnya Sumatera, maka Belawan adalah nadi yang memompakan darahnya ke seluruh dunia.
Banyak yang mengira Belawan adalah pelabuhan dari masa Kesultanan Deli dahulu. Padahal tidak. Labuhan jauh lebih tua dari itu. Perjalanannya adalah perjalanan 4 abad, dari sebuah bandar lada di tepi Sungai Deli, hingga bergeser ke Belawan menjadi gerbang peti kemas internasional yang tak pernah tidur.
Ini linimasa lengkapnya.
FASE 1: Era Kesultanan Deli – Ketika Dunia Mengenal Labuhan Deli (1632-1862)
Jauh sebelum nama Belawan ada di peta dunia, yang ada adalah Labuhan Deli.
Di tepi Sungai Deli yang lebar dan dalam, berdirilah pusat Kesultanan Deli. Dibangun sejak masa Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (1632-1669), Labuhan Deli bukan sekadar pelabuhan, tapi ibukota.
Tahun 1823, John Anderson, utusan Gubernur Penang dari Inggris, datang dan mencatat dalam bukunya: Labuhan Deli sangat ramai. Kapal-kapal dari Penang, Malaka, dan China berjejer. Komoditasnya: lada, beras, dan hasil hutan yang melimpah.
Kemakmuran inilah yang memicu gelombang migrasi besar pertama orang Tionghoa ke Deli. Dari sinilah cikal bakal kota Medan sebagai kota multietnis dimulai. Semua bermula di Labuhan.
FASE 2: Era Kolonial – Pindahnya Pelabuhan dan Lahirnya Raksasa (1863-1942)
Semua berubah tahun 1863. Jacob Nienhuys membuka perkebunan tembakau Deli pertama. Tembakau Deli menjadi emas hijau, diburu di Bremen, Jerman.
Masalahnya: kapal-kapal Belanda semakin besar, tapi Sungai Deli semakin dangkal akibat pembukaan lahan di hulu.
Pemerintah Hindia Belanda harus mengambil keputusan drastis.
Tahun 1915, pelabuhan resmi dipindahkan. Dari Sungai Deli yang sudah mendangkal, ke muara Sungai Belawan yang lebih dalam dan langsung menghadap Selat Malaka. Di sinilah dermaga beton modern pertama dibangun. Inilah cikal bakal Pelabuhan Belawan yang kita kenal sekarang.
Keputusan itu terbukti jenius. Untuk mengangkut tembakau, karet, dan kelapa sawit, Belanda menjadikan Belawan sebagai proyek mercusuar.
Puncaknya: Tahun 1938, Belawan dinobatkan sebagai PELABUHAN TERBESAR di seluruh Hindia Belanda berdasarkan nilai total kargonya. Mengalahkan Tanjung Priok di Batavia dan Tanjung Perak di Surabaya. Saat itu, dunia mengenal kualitas tembakau dari cap: Deli, Belawan.
FASE 3: Era Kemerdekaan – Dari Gabion Hingga Gerbang Logistik Sumatera (1945-1973)
Setelah merdeka, pelabuhan diambil alih negara. Dari jawatan pelabuhan, menjadi Perusahaan Negara, hingga akhirnya PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
Belawan tidak berhenti. Justru ia disiapkan untuk era globalisasi.
Awal 1980, proyek besar dimulai di kawasan Gabion. Pemerintah membangun Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan modern. Jika dulu bongkar muat pakai tenaga kuli, kini pakai crane raksasa. Inilah yang mengunci posisi Belawan sebagai gerbang logistik utama Pulau Sumatera hingga hari ini.
FASE 4: Menjadi Bagian Kota Medan (1973-Sekarang)
Secara administratif, Belawan dulunya bukan bagian Kota Medan, melainkan bagian dari Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang.
Statusnya berubah melalui dua langkah penting:
1. 8 Mei 1973 – PP No.22 Tahun 1973: Belawan secara resmi dilepaskan dari Deli Serdang dan masuk ke dalam wilayah Kotamadya Medan.
2. 19 Oktober 1978 – SK Gubernur Sumut No. 140/4078/K/1978: Belawan resmi ditata menjadi Kecamatan mandiri.
Kini, Kecamatan Medan Belawan berdiri di atas lahan seluas 21,82 Km², dengan ketinggian hanya 3 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya yang didominasi pesisir, rawa, dan hutan bakau, terbagi menjadi 6 kelurahan:
Belawan I, Belawan II, Belawan Bahagia, Belawan Bahari, Belawan Sicanang, dan Bagan Deli.
Dan wajahnya terus modern. 9 November 2015, Terminal Penumpang Bandar Deli selesai dibangun dan diresmikan tahun 2016. Terminal megah ini membuat Belawan kini beroperasi penuh 24 jam, melayani kapal barang dan kapal penumpang domestik maupun internasional.
Dari pusat kerajaan Islam di tepi Sungai Deli, menjadi pelabuhan terbesar se-Nusantara di era Belanda, hingga menjadi kecamatan yang tak pernah tidur di bibir Selat Malaka.
