-->

MARAH HALIM CUP: Ketika Medan Menjadi Salah Satu Kota Gila Bola Dunia

ika Jakarta punya Ali Sadikin Cup, Surabaya punya Surya Cup, maka Medan pernah punya sesuatu yang jauh lebih melekat di hati masyarakat Sumut. Namanya

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Gambar ilustrasi antusias masyarakat di Stadion Teladan dahulu saat pertandingan sepak bola besar

                                                Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Jika Jakarta punya Ali Sadikin Cup, Surabaya punya Surya Cup, maka Medan pernah punya sesuatu yang jauh lebih melekat di hati masyarakat Sumut. Namanya Marah Halim Cup.

Ini bukan turnamen lokalan. Ini adalah fenomenal. Sebuah pesta bola internasional yang membuat Stadion Teladan masuk kalender resmi FIFA sejak 1974 dan menjadikan Medan, untuk sesaat, sebagai episentrum sepak bola Asia.

Di era ketika siaran langsung luar negeri masih langka, anak-anak Medan justru bisa menyaksikan langsung timnas Jepang, Korea Selatan, Burma, hingga klub-klub Belanda dan Jerman Barat berlaga di tanah mereka sendiri.

Dan semua itu berawal dari seorang Gubernur yang gila bola.

Dari Ide Ulang Tahun Kota Medan, Jadi Kalender FIFA

Namanya Mayor Jenderal Marah Halim Harahap, Gubernur Sumatera Utara periode 1967-1978. Di kantor ia seorang Pejabat, di lapangan ia gibol sejati.

Tahun 1972, ia punya ide "nakal": Bagaimana kalau ulang tahun Kota Medan kita rayakan dengan turnamen sepak bola?

Gagasan itu ia gulirkan. Tidak tanggung-tanggung, ia memanggil pengusaha-pengusaha besar putra daerah seperti T.D. Pardede. Tujuannya bukan cuma bikin pertandingan, tapi mengangkat pariwisata Sumut. Hotel-hotel berkelas di Medan dan Parapat dibangun, dibenahi, untuk menyambut tamu-tamu asing.

Edisi perdana 1972 masih sederhana. Delapan tim terbaik era Perserikatan diadu. Di final, di bawah sorot lampu Teladan yang temaram, PSMS Medan sang kebanggaan, menghajar Persebaya Surabaya 3-1. PSMS menjadi juara pertama. Sejarah tercipta.

Siapa sangka, dari piala untuk memeriahkan HUT Kota, kemudian ia berubah menjadi besar berskala internasional.

Ketika Tim-Tim Dunia Mendarat di Teladan

Memasuki 1974-1980an, Marah Halim Cup meledak.

Kedekatan emosional pengusaha perkebunan Sumut dengan mitra di Eropa memudahkan panitia. Undangan dikirim, dan ajaibnya, mereka mau datang.

Bayangkan papan skor Stadion Teladan di era itu:

PSMS Medan vs Timnas Korea Selatan

Medan Jaya vs FC Wageningen (Belanda)

Indonesia B vs Al-Jaish Baghdad

Tim Nasional Burma yang saat itu raja Asia, Jepang yang mulai bangkit, China, Australia, hingga tim-tim keras dari Jerman Barat dan Yugoslavia bergantian menginjakkan kaki di rumput Teladan.

Medan bukan lagi kota pinggiran. Untuk dua minggu setiap tahunnya, Medan adalah Poros Utama-nya sepak bola di kawasan.

Sihir Teladan: Tiket Habis, Pohon Jadi Tribun

Jika Anda belum pernah merasakan atmosfer Marah Halim Cup, Anda belum merasakan fanatisme sepak bola Sumatera Utara yang sesungguhnya.

Setiap turnamen bergulir, Kota Medan berubah total. Toko-toko tutup lebih cepat. Radio RRI Medan tak henti mengabarkan skor. Dan Stadion Teladan... pecah.

30.000 kursi? Selalu ludes. Yang tak dapat tiket tak pulang. Mereka memanjat pohon asam jawa di sekitar stadion, naik ke atap rumah warga di Jalan Teladan, menyemut di balik pagar besi hanya untuk mendengar gemuruh Rap-Rap...Libas...ribak sude..._maenkan..._ayo Kinantan.

Tekanan psikologis dari tribun itulah yang membuat tim-tim asing sering keder. Mereka datang dengan nama besar, tapi pulang dengan kaki gemetar.

Dan hebatnya, tim lokal tidak jadi bulan-bulanan. PSMS Medan dan Medan Jaya bukan penggembira. Di kandang sendiri, dengan dukungan seantero Sumut, mereka bernyali baja. Beberapa kali, trofi Marah Halim Cup yang diperebutkan klub-klub dunia itu, tetap tinggal di Medan. Di lemari kebanggaan Stadion Teladan.

Marah Halim Cup kini tinggal cerita di kliping koran yang sudah kuning dan ingatan para orang tua kita yang dulu memanjat pohon demi PSMS.

Tapi satu hal yang ia wariskan: Medan pernah membuktikan, ia bisa menggelar pesta bola kelas dunia, bahkan sebelum era sepak bola modern lahir.

Dan selama Stadion Teladan masih berdiri, kenangan itu belum benar-benar padam.

Share:
Komentar

Berita Terkini