MEDAN – Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark menyiapkan berbagai program pengembangan hingga tahun 2029 sebagai bagian dari komitmen mempertahankan status geopark dunia yang nantinya akan kembali dinilai oleh UNESCO.
Hal tersebut disampaikan General Manajer Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark Dr. Azizul Kholis, SE, M.Si, M.Pd, CMA, CSRS didampingi Divisi Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Dra. Debbie Riauni Panjaitan, M.Th, Divisi Kerja Sama, Promosi, dan Publikasi Tikwan Raya Siregar, SS, M.Si, Divisi Pendidikan, Konservasi, dan Pemberdayaan Masyarakat Ovi Vensus Hamubaon Samosir, S.Sos, M.Si, dan Kabid pengembangan Destinasi Kreatif, Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara Adry Ginting, pada insan media, Selasa (24/6/2026). Di Lobby Dekranasda Sumut kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan itu disampaikan berbagai capaian dan strategi pengembangan kawasan Danau Toba ke depan. Ia menjelaskan, salah satu capaian penting yang diraih adalah pengembangan konsep smart tourism melalui dukungan proposal yang disetujui oleh Asian Development Bank (ADB). Dalam program tersebut, Indonesia melalui Toba Caldera mendapatkan pengakuan sebagai salah satu kawasan dengan perkembangan geopark tingkat kedua di Asia dengan predikat Silver World.
Selain itu, secara nasional Toba Caldera UNESCO Global Geopark juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas atas capaian kinerja pengelolaan geopark. Penghargaan tersebut diserahkan langsung pada kegiatan Geopark Indonesia International Forum pada 4 Desember 2025 lalu.
Pengakuan internasional kembali diperoleh setelah sertifikat UNESCO disahkan dalam sidang UNESCO di Paris pada 27 April 2026.
“Mulai sekarang sampai 2029 kita akan menjalankan berbagai program, karena nantinya akan ada penilaian kembali dari UNESCO terkait keberlanjutan pengelolaan geopark,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan GEOPARK 2026, Toba Caldera menjadi salah satu tuan rumah bersama tiga geopark global lainnya. Kegiatan diawali melalui free event yang berlangsung pada 8–11 Juni 2026 di Raja Ampat, kemudian kegiatan utama atau main event dilaksanakan di kawasan Danau Toba.
Rangkaian kegiatan utama akan menghadirkan dua agenda besar, yakni festival budaya dan seminar internasional geopark yang melibatkan para ahli serta perwakilan geopark dari berbagai negara.
Kegiatan tersebut juga akan dihadiri Presiden Asia Pacific Geoparks Network (APGN), Profesor Chisawa Gini dari Jepang, serta perwakilan UNESCO Jakarta.
Menurutnya, pelaksanaan GEOPARK 2026 tidak hanya bertujuan memperkenalkan kawasan Toba Caldera, tetapi juga membangun jejaring kerja sama antar geopark di kawasan Asia Pasifik.
Salah satu program yang akan dikembangkan adalah pembentukan jejaring sahabat geopark antarnegara untuk meningkatkan literasi internasional sekaligus mendorong pariwisata berkelanjutan yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat.
Kerja sama juga akan dilakukan dengan sejumlah geopark dunia, termasuk Geopark Nenggong dan Geopark Malang, Malaysia. Kerja sama tersebut akan diarahkan pada pengembangan pola perjalanan wisata bersama.
“Geopark Nenggong memiliki keterkaitan dengan sejarah letusan Gunung Toba. Abu letusan tersebut menjadi bagian dari kekayaan geologi yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata bersama,” jelasnya.
Selain itu, kerja sama juga akan dijalin dengan kawasan geopark di Thailand, Korea Selatan, Filipina melalui Geopark Bohol, serta wilayah Sarawak dan Sabah di Malaysia.
Melalui jaringan kerja sama tersebut, Toba Caldera UNESCO Global Geopark menargetkan menjadi salah satu pusat pengembangan model geopark berkelanjutan di kawasan Asia.
Dari sisi pengembangan kawasan, pengelola juga berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan infrastruktur geosite. Saat ini terdapat 16 titik geosite yang menjadi daya tarik utama, dan dalam revisi master plan akan dikembangkan menjadi 40 geosite.
Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperluas potensi wisata berbasis konservasi, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat melalui kekayaan geologi, biologi, dan budaya yang dimiliki kawasan Danau Toba.
