-->

Dirut RS Prof. Dr. Muhammad Ildrem: Gangguan Jiwa Bukan Penyakit Keturunan, Pola Asuh dan Lingkungan Jadi Faktor Dominan

Direktur RS Prof. Dr. Muhammad Ildrem Sri Suriani meluruskan anggapan yang masih berkembang di masyarakat bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit ketur

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN
– Direktur RS Prof. Dr. Muhammad Ildrem Sri Suriani meluruskan anggapan yang masih berkembang di masyarakat bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit keturunan. Menurutnya, gangguan jiwa tidak dapat disamakan dengan penyakit genetik seperti hemofilia yang diwariskan secara langsung.

Hal itu disampaikan Sri Suriani saat memberikan penjelasan  dalam konferensi pers bersama Diskominfo Sumut  di Aula Dekranasda Sumut, kantor Gubernur Sumatera Utara, Kamis (16/7/2026), Medan. mengenai layanan dan inovasi RS Prof. Dr. Muhammad Ildrem,

Ia menjelaskan, seseorang tidak terlahir dengan gangguan jiwa, melainkan terdapat berbagai faktor yang dapat memicu munculnya gangguan kesehatan mental sepanjang perjalanan hidupnya.

"Kalau kita berbicara mengenai gangguan jiwa, seseorang tidak lahir begitu saja dengan gangguan jiwa. Ada berbagai faktor yang menjadi pemicu, di antaranya pola asuh, lingkungan, dan tekanan hidup yang dialami," ujarnya.

Menurut Sri Suriani, pola asuh memiliki peran besar dalam membentuk kondisi psikologis seseorang. Orang tua yang hidup dalam tekanan atau memiliki pola pengasuhan yang kurang sehat berpotensi mewariskan pola asuh yang sama kepada anak-anaknya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan mental.

"Sering kali orang tua yang mengalami tekanan tanpa sadar menerapkan pola asuh yang sama kepada anaknya. Lingkungan dan pola asuh seperti inilah yang dapat membentuk kondisi psikologis seseorang," jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa gangguan jiwa tidak bisa disebut sebagai penyakit keturunan secara langsung.

"Kalau hemofilia memang penyakit keturunan. Tetapi gangguan jiwa tidak bisa kita katakan seperti itu. Yang lebih berpengaruh adalah lingkungan, pola asuh, dan berbagai tekanan yang dialami seseorang," tegasnya.

Sri Suriani mengajak masyarakat untuk tidak lagi memberikan stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa maupun keluarganya. Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai kesehatan mental akan mendorong masyarakat lebih berani mencari pertolongan sejak dini ketika mengalami masalah psikologis.

Ia juga menekankan bahwa gangguan kesehatan mental dapat ditangani melalui layanan medis, terapi, rehabilitasi, serta dukungan keluarga dan lingkungan yang baik. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila mulai merasakan gejala gangguan kesehatan mental.

"Edukasi kepada masyarakat sangat penting agar stigma terhadap gangguan jiwa semakin berkurang. Semakin cepat seseorang mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk pulih dan kembali produktif," pungkasnya

Share:
Komentar

Berita Terkini