-->

Cerita Bersambung Simardan : Simardan dan Perpisahan yang Mengubah Jalan Hidupnya

Simardan menarik kencang tali tambang dari kapal lanun Lancang Hitam. Sejak tadi, tambang itu dibiarkan menjulur ke bawah hingga berada di sisi perahu

Editor: PoskotaSumut.id author photo

                                                Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad


Simardan menarik kencang tali tambang dari kapal lanun Lancang Hitam. Sejak tadi, tambang itu dibiarkan menjulur ke bawah hingga berada di sisi perahu layar korban yang dirapatkan ke lambung kapal Simardan.

Dengan sekali hentakan, tubuh Simardan melayang ke atas. Ia mengayunkan tali tambang dengan kekuatan penuh. Dalam sekejap, tubuhnya berputar melakukan salto indah di udara sebelum kedua telapak kakinya mendarat dengan lembut di atas geladak kapal Lancang Hitam.

Para prajurit yang berada di atas kapal memperhatikannya. Simardan kemudian melangkah menuju nakhoda yang sejak tadi berdiri di sisi kapal bersama para prajurit. Mereka dalam keadaan siap siaga sambil terus mengawasi perahu layar korban yang berada di bawah.

Simardan mendekati nakhoda, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Setelah itu, ia menyerahkan pakaian para korban yang telah ternoda penuh darah, termasuk sebuah ikat kepala miliknya yang unik dan khas.

Sang nakhoda menerima semua barang itu dengan kedua tangannya. Ia kemudian membungkukkan badan sebagai tanda hormat dan menyatakan kesediaannya untuk melaksanakan perintah Simardan.

Sikapnya begitu khidmat, seolah seorang prajurit tengah menerima sebuah amanah yang sangat penting. Simardan kemudian berbalik dan menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia berjalan perlahan menuju bilik ayah angkatnya.

Dari celah-celah pintu, Simardan mengintip ke dalam. Raja Rompak masih tertidur. Wajah Simardan seketika memerah. Amarah yang selama ini tertahan kembali bergolak di dalam dadanya. Sesaat, keinginan untuk membunuh Raja Rompak muncul begitu kuat.

Namun, langkahnya tiba-tiba tertahan. Di tengah kemarahan itu, terbayang kembali berbagai jasa sang Raja Rompak. Bagaimanapun juga, lelaki tua itulah yang selama ini telah membesarkannya. Ia telah memanjakan Simardan dengan perhatian dan kasih sayang. Di bawah asuhannya pula, Simardan tumbuh menjadi seorang pemuda yang disegani dan ditakuti para pelaut di kawasan selat besar.

Nama Simardan bahkan telah masyhur di kalangan pelayar dan saudagar. Ketenarannya terdengar hingga ke pelosok negeri-negeri di Tanah Semenanjung dan Andalas. Para raja di berbagai kawasan Selat Malaka telah mengenal namanya, meskipun belum pernah bertemu langsung dengannya.

Simardan dikenal sebagai Sang Garuda Selat Malaka. Seorang pemuda yang paling dicari di kawasan itu. Namanya telah lama membuat pusing banyak kerajaan yang berada di pesisir dua pulau besar yang dipisahkan oleh Selat Malaka.

Ia dikenal sebagai seorang pemuda yang tampan, gagah, dan pemberani. Keberaniannya bahkan membuat sejumlah panglima kerajaan merasa iri dan cemburu. anyak kerajaan berusaha menangkap dan membunuh Simardan.

Namun, tidak ada yang berhasil. Sejak memimpin kapal lanun Lancang Hitam, Simardan telah beberapa kali berhadapan dengan armada laut kerajaan-kerajaan di pesisir Selat Malaka. Alih-alih berhasil meringkus sang jawara, justru banyak prajurit kerajaan yang tumbang dalam pertempuran.

Setelah kehilangan banyak prajurit, sejumlah panglima memilih mundur dan menyelamatkan diri. Bahkan, tidak sedikit yang meninggalkan kapal mereka begitu saja. Mereka melarikan diri menggunakan sekoci menuju pantai terdekat.

Kapal-kapal yang ditinggalkan itu kemudian menjadi harta rampasan bagi komplotan lanun Lancang Hitam. Keadaan tersebut justru membuat para raja semakin penasaran. Mereka ingin mengetahui siapakah sebenarnya Simardan, pendekar muda yang namanya telah begitu terkenal di Selat Malaka.

Tidak sedikit pula yang ingin mengajaknya berdamai. Sebagian bahkan berniat merayunya dengan menawarkan jabatan tinggi sebagai Panglima Negeri. Tujuannya tidak lain untuk menguasai Selat Malaka dan menarik upeti dari negeri-negeri yang memanfaatkan jalur tersebut sebagai lintasan perdagangan antarwilayah.

Namun, kembali ke saat itu. Simardan masih berdiri di depan bilik ayah angkatnya. Perlahan, ia menempelkan kedua telapak tangannya pada daun pintu. Kemudian, Simardan menundukkan kepala dan mencium pintu bilik itu.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar, berat dan bergetar karena menahan isak tangis, Simardan mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Selamat tinggal...”

Ia tidak sanggup lagi mengucapkan banyak kata. Di dalam hatinya, Simardan telah mengambil sebuah keputusan besar. Setelah kapal Lancang Hitam tiba di daratan nanti, ia akan meninggalkan kehidupan laut yang selama ini telah membesarkannya.

Ia akan meninggalkan dunia yang keras bagaikan karang, dunia yang penuh pertempuran, perompakan, dan darah. Namun, di balik luasnya lautan tanpa batas, kehidupan itu juga menyimpan kesunyian yang tidak pernah benar-benar mampu ia pahami.

Simardan kini hanya memiliki satu tujuan. Ia harus mencari perempuan tua yang tinggal di sebuah gubuk di tepian Aek Doras. Ia harus menemukan kebenaran. Dan, jika firasatnya selama ini benar, perjalanan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang yang telah lama hilang dari kehidupannya.

Ibunya. Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini