-->

Cerita Bersambung Simardan : Simardan Meninggalkan Lancang Hitam dan Berpisah dengan Anak Buahnya

Dengan suara pelan dan emosi yang tertahan, Simardan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada ayah angkatnya yang masih terlelap dalam tidur. Raja Romp

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Dengan suara pelan dan emosi yang tertahan, Simardan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada ayah angkatnya yang masih terlelap dalam tidur. Raja Rompak tidak mengetahui bahwa malam itu menjadi salah satu malam terakhir kebersamaan mereka.

Setelah beberapa saat berdiri di depan bilik ayah angkatnya, Simardan berbalik dan kembali menuju geladak kapal. Di sana, sang nakhoda masih setia berdiri di tempat semula dalam keadaan siaga. Simardan kemudian meminta nakhoda memutar haluan kapal kembali ke arah Timur, sesuai rencana awal mereka untuk mengincar kapal dagang milik Sikantan.

Beberapa hari sebelumnya, Raja Rompak dan anak buahnya telah menerima informasi dari kaki tangan mereka. Informasi tersebut diperoleh dalam sebuah pertemuan rahasia di sebuah pulau terpencil. Menurut kabar yang diterima, kapal besar Sikantan akan bertolak dari Pelabuhan Malaka sekitar seminggu setelah bulan purnama.

Sikantan dan para pengawalnya sengaja memilih waktu tersebut untuk menghindari perjalanan di bawah cahaya bulan yang terang. Mereka berharap kapal dagang itu dapat berlayar dalam suasana malam yang lebih gelap sehingga tidak mudah terpantau oleh kapal lanun Lancang Hitam.

Maklum, kapal Lancang Hitam telah lama menjadi momok bagi kapal-kapal dagang besar yang melintasi perairan tersebut. Menurut perhitungan Raja Rompak dan Simardan, malam itu kapal Sikantan diperkirakan telah memasuki jalur perairan yang berada di luar kekuasaan dan pengawasan langsung armada laut Kerajaan Malaka.

Kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Siak, dua negeri yang memiliki hubungan persahabatan. Namun, keadaan Simardan telah berubah. Kabar bahwa ibunya ternyata masih hidup serta kenyataan bahwa dirinya selama ini dibohongi oleh ayah angkatnya membuat Simardan mengambil keputusan besar.

Malam itu, ia memilih menarik diri secara diam-diam dari kehidupan yang selama ini dijalaninya. Ia tidak lagi ingin menjadi bagian dari komplotan lanun Lancang Hitam. Setelah menyampaikan pesan kepada sang nakhoda, Simardan memandang seluruh anak buahnya yang berada di atas kapal.

Kemudian, ia mengucapkan salam perpisahan. Tak ada penjelasan panjang.Tak ada pula kata-kata yang berlebihan. Namun, semua orang yang mengenalnya memahami bahwa malam itu sesuatu telah berubah.

Simardan kemudian berjalan menuju sisi kapal. Tanpa ragu, ia melompat ke arah perahu layar kecil yang berada di bawah. Perahu itu terombang-ambing di atas permukaan laut, diayun gelombang malam yang tidak pernah berhenti bergerak.

Ketiga penumpangnya masih duduk terpaku. Mereka tidak berani melarikan diri. Mereka juga tidak berani membantah perintah Simardan. Sejak awal, mereka hanya menunggu kedatangan pemuda itu. Dengan gerakan ringan, Simardan mendarat di atas perahu layar.


Ia kemudian menengadah ke atas. Di geladak kapal Lancang Hitam, sang nakhoda masih berdiri terpana. Air mata tampak mengalir dari wajahnya. Ia seolah tidak rela meninggalkan panglimanya seorang diri di atas perahu kecil.

Simardan memberikan isyarat. Ia meminta sang nakhoda segera memerintahkan para kelasi mengangkat jangkar. Tak lama kemudian, perintah itu dijalankan. Jangkar diangkat. Layar-layar kembali dikembangkan.

Kapal Lancang Hitam perlahan berputar haluan menuju Timur. Dengan gagah, kapal besar itu kembali membelah ombak dan melanjutkan perjalanan di tengah gelapnya malam. Simardan tetap berdiri di atas perahu kecil.

Sementara sang nakhoda berdiri di atas geladak Lancang Hitam. Keduanya saling memandang. Tak banyak kata. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Sampai kapal itu perlahan menjauh dan akhirnya hampir hilang dari pandangan, Simardan dan sang nakhoda masih saling melambaikan tangan.

Itulah tanda perpisahan mereka. Berat hati sang nakhoda meninggalkan Simardan. Keputusan itu bukan perkara mudah baginya. Kesedihan dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang tidak dapat ia jawab.

Apa yang akan terjadi jika Raja Rompak mengetahui bahwa Simardan sudah tidak bersama mereka?

Selama bertahun-tahun, jiwa dan raga mereka telah ditempa oleh kehidupan keras di lautan. Mereka terbiasa menghadapi badai. Terbiasa bertempur. Terbiasa melihat kematian. Namun, malam itu, mereka kembali menyadari bahwa sekeras apa pun kehidupan seorang lanun, mereka tetap manusia yang memiliki hati dan perasaan.

Air mata mengalir di pipi Simardan. Begitu pula di wajah sang nakhoda dan beberapa prajurit lanun yang berdiri di atas geladak. Tatapan mereka mengikuti perahu layar kecil yang perlahan bergerak menuju Utara.

Perahu itu semakin menjauh. Sedikit demi sedikit, bentuknya mulai samar. Kemudian menghilang, ditelan kegelapan malam. Kenangan pun bermunculan. Masa-masa sulit ketika mereka mulai membangun kelompok.

Pertempuran-pertempuran yang pernah mereka lalui. Hari-hari penuh bahaya. Juga kebersamaan dalam suka dan duka. Semua kenangan itu kini terasa jauh lebih indah ketika mereka menyadari bahwa Simardan tidak lagi bersama mereka. Di tengah lautan luas, mereka akhirnya berpisah.

Simardan Berganti Pakaian

Setelah kapal Lancang Hitam menghilang dari pandangan, suasana di atas perahu layar kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, Simardan berganti pakaian. Ia mengenakan pakaian biasa yang sering digunakan para pelaut.

Pakaian tersebut telah ia ambil dari kapal Lancang Hitam sebelum kembali ke perahu kecil. Sementara pakaian yang sebelumnya dikenakannya dilepas. Satu per satu, pakaian itu kemudian dibuang ke laut. Sang pemilik perahu bersama dua sahabatnya hanya dapat membisu melihat tingkah Simardan.

Seorang di antara mereka yang sebelumnya sempat pingsan kini telah kembali sadar. Namun, ketiganya tetap tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Simardan. Mereka bertiga mengetahui siapa pemuda yang berada di hadapan mereka.

Terlebih lagi, Simardan kini membawa sebilah pedang. Sebuah belati juga masih terselip di pinggangnya. Tidak seorang pun berani bergerak. Tidak seorang pun berani membantah. Simardan kemudian memandang sang pemilik perahu.

Dengan suara sedikit membentak, ia memberikan perintah. “Segera teruskan perjalanan!” Sang pemilik perahu hanya terdiam. Simardan kembali menegaskan perintahnya. “Bawa perahu ini ke arah Utara, sesuai tujuan kalian semula!”

Perahu layar itu pun kembali bergerak. Layar mulai menangkap hembusan angin. Di hadapan mereka terbentang laut luas dan gelap. Sementara bagi Simardan, perjalanan ke arah Utara bukan sekadar perjalanan biasa.

Ia telah meninggalkan kehidupan lamanya. Ia telah meninggalkan Lancang Hitam. Dan kini, sebuah perjalanan baru telah dimulai. Perjalanan untuk menemukan masa lalu. Perjalanan untuk mencari seorang perempuan tua yang mungkin selama ini masih menunggunya. 

Ibunya. Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini