-->

Cerita Bersambung Simardan : Kemarahan Sang Raja Rompak

Sementara itu, puluhan mil dari perahu layar yang ditumpangi Simardan, sebuah kapal bajak laut pada pagi hari tengah bersembunyi di balik sebuah pulau

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Sementara itu, puluhan mil dari perahu layar yang ditumpangi Simardan, sebuah kapal bajak laut pada pagi hari tengah bersembunyi di balik sebuah pulau kecil yang dipenuhi batuan karang.

Pulau karang tersebut merupakan salah satu tempat persembunyian Lancang Hitam ketika berada di perairan sebelah timur. Biasanya, setelah semalaman berpatroli dan mengintai kapal-kapal yang menjadi sasaran, mereka akan bersembunyi di kawasan itu ketika matahari mulai meninggi.

Pulau tersebut sangat jarang didekati, apalagi disinggahi oleh para pelayar. Perairannya dipenuhi batu-batu karang yang dapat mengancam keselamatan kapal. Sedikit saja kesalahan dalam mengendalikan haluan, kapal dapat pecah setelah dihantam ombak dan dibenturkan ke karang.

Bagi nakhoda yang belum mengenal keadaan perairan itu, memasuki kawasan tersebut sama saja dengan mempertaruhkan nyawa.

Pagi itu, Sang Raja Rompak telah terbangun dari tidurnya yang lelap.

Apabila pada malam sebelumnya mereka tidak melakukan operasi pengejaran atau penyergapan terhadap kapal sasaran, Sang Raja Rompak biasanya akan bangun lebih siang. Setelah terjaga, ia akan bersiap menuju bilik mandi.

Di sana, ia memiliki kebiasaan berendam cukup lama.

Bak mandi yang telah disiapkan khusus untuk sang penguasa kapal lanun itu berbentuk oval, berdiameter kira-kira sehasta dan setinggi lutut orang dewasa. Bak tersebut dibuat dari kayu cendana berkualitas tinggi yang senantiasa mengeluarkan aroma harum alami.

Wangi kayu cendana yang memenuhi udara menjadi semacam terapi yang menenangkan tubuh dan pikirannya.

Bak mandi itu ditempatkan di bagian belakang kapal, tepatnya di atas dek buritan.

Namun, sebelum menuju bilik mandi, Sang Raja Rompak selalu memiliki kebiasaan menemui nakhoda terlebih dahulu. Ia ingin memastikan posisi kapal serta keadaan di sekitar mereka benar-benar aman.

Kapal Lancang Hitam memang layaknya binatang malam.

Ketika siang hari, kapal itu memilih diam dan bersembunyi. Namun, begitu malam tiba dan kegelapan menyelimuti laut, kapal tersebut mulai bergerak keluar untuk melakukan pengintaian dan perompakan di laut lepas.

Untuk memperoleh informasi mengenai kapal sasaran, mereka terkadang membutuhkan waktu berhari-hari.

Informasi dapat diperoleh dari kaki tangan yang tersebar di berbagai pelabuhan. Terkadang mereka juga mendapatkannya dari para pelaut yang diinterogasi di bawah ancaman.

Bila diperlukan, anak buah Lancang Hitam bahkan turun langsung ke daratan dengan menyamar untuk mencari informasi.

Kali ini, target mereka adalah kapal dagang milik Sikantan.

Sikantan merupakan seorang pemuda kaya yang baru saja menikahi putri seorang saudagar kaya dari Kerajaan Malaka.

Sudah berminggu-minggu anak buah Lancang Hitam menyebar mencari informasi yang benar-benar akurat mengenai perjalanan kapal tersebut. Mereka mengawasi dua pelabuhan, yakni pelabuhan keberangkatan dan pelabuhan tujuan.

Dari Negeri Malaka, kapal Sikantan direncanakan berlayar menuju Negeri Siak.

Dua negeri pesisir itu berada di kawasan yang saling berhadapan di sepanjang selat besar.

Pagi itu, seperti biasa, sang nakhoda telah menunggu Sang Raja Rompak di ruang kemudi.

Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu akhirnya muncul.

Nakhoda segera menjalankan sandiwara yang telah dipersiapkannya.

Begitu Sang Raja Rompak memasuki ruangan, nakhoda langsung menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya gemetar. Ia terisak-isak sambil memegang sehelai ikat kepala milik Simardan.

Di tangannya juga terdapat beberapa helai pakaian yang dipenuhi bercak darah.

Nakhoda kemudian menjatuhkan dirinya dan menyungkur di hadapan Sang Raja Rompak.

“Tuanku...” katanya dengan suara terbata-bata.

Tangisnya semakin keras.

Ia lalu menceritakan bahwa Simardan telah hilang dalam sebuah pertempuran melawan sekelompok pelayar yang mereka cegat pada malam sebelumnya.

Menurut cerita sang nakhoda, kelompok pelayar tersebut hendak mereka interogasi untuk memperoleh informasi tambahan mengenai keberadaan kapal dagang Sikantan.

Namun, pertempuran tiba-tiba terjadi.

Beberapa orang dari kelompok pelayar itu disebut telah tewas.

Nakhoda kemudian memperlihatkan beberapa potong pakaian asing sebagai bukti terjadinya pertempuran.

Tangisnya kembali pecah.

Dengan suara yang seolah dipenuhi kesedihan, ia mengatakan bahwa Simardan hilang setelah terjatuh ke laut di tengah kekacauan.

“Kami sudah mencarinya sepanjang malam, Tuanku...” katanya.

Ia mengaku, anak buah kapal telah berputar-putar beberapa kali di sekitar lokasi kejadian untuk mencari Simardan.

Namun, hingga menjelang pagi, mereka tidak menemukan tubuh maupun tanda-tanda keberadaan Simardan.

Yang tersisa hanyalah ikat kepalanya.

Karena hari mulai terang dan mereka khawatir keberadaan kapal Lancang Hitam diketahui oleh armada laut kerajaan di sekitar perairan tersebut, pencarian akhirnya dihentikan.

Mereka kemudian memilih berlindung di pulau karang yang menjadi tempat persembunyian.

Mendengar cerita itu, wajah Sang Raja Rompak berubah.

Mula-mula ia hanya diam.

Namun, perlahan sorot matanya berubah tajam.

Kemudian, kemarahan mulai membakar dirinya.

Tiba-tiba Sang Raja Rompak bangkit.

Dengan kemarahan yang tak lagi dapat ditahan, ia menendang drum-drum kayu yang berada di dekatnya. 

Brakkk!

Drum pertama terpental dan menghantam geladak kapal.

Brakkk!

Drum lainnya ikut beterbangan.

Beberapa di antaranya pecah berkeping-keping. Isi drum berhamburan ke mana-mana dan mengotori geladak kapal.

Anak buah yang berada di sekitar tempat itu langsung terdiam.

Tak seorang pun berani bersuara.

Mereka tahu, kemarahan Sang Raja Rompak bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh.

Ia berdiri dengan dada yang naik turun.

Tangannya mengepal.

Matanya memandang tajam ke arah sang nakhoda yang masih bersimpuh di hadapannya.

Namun, di balik amarah yang ditunjukkannya, satu pertanyaan mulai muncul di dalam pikirannya.

Apakah Simardan benar-benar telah mati di laut?

Ataukah...

Ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya?

(Bersambung)


Share:
Komentar

Berita Terkini