-->

Cerita Bersambung Simardan : Lelaki Misterius Tergeletak di Bawah Tangga Gubuk Sang Nenek

Lewat tengah malam, ketiga makhluk berbeda itu akhirnya kembali ke gubuk. Tubuh mereka sudah basah kuyup diguyur hujan lebat. Mereka bergegas

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Lewat tengah malam, ketiga makhluk berbeda itu akhirnya kembali ke gubuk. Tubuh mereka sudah basah kuyup diguyur hujan lebat. Mereka bergegas mencari tempat berlindung, sekaligus beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.

Sang nenek sendiri masih diliputi rasa penasaran.

Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tempat yang jauh di sebelah sana. Suara petir yang sejak tadi menggelegar seolah-olah mengarah ke gubuknya membuat hatinya tak tenang.

Namun, perlahan hujan mulai mereda.

Langit di sebelah Utara hingga ke Timur, yang terlihat dari teluk kecil di balik Kampung Tanjung, mulai kembali tenang. Tak ada lagi sambaran kilat seperti sebelumnya.

Sang nenek memperhatikan langit cukup lama.

Dalam hati ia menduga, badai dan angin ribut di belahan sana mungkin juga telah reda. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju tangga gubuk. Namun, ketika kakinya hampir menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba sang nenek terkejut.

Matanya membelalak.

Di bawah tangga, tepat di hadapannya, tampak seonggok tubuh manusia tergeletak. Hampir saja tubuh itu terinjak kakinya.

“Ya Allah...” gumam sang nenek tertahan.

Simardong yang masih basah kuyup segera mendekat. Sambil mengibas-ngibaskan tubuhnya untuk membuang air hujan, anjing hitam itu mengendus-endus tubuh yang tergeletak di bawah tangga.

Simerdeng pun ikut mendekat.

Monyet putih itu menaikkan kulit tipis di atas bibirnya hingga keempat taringnya terlihat. Ia melompat-lompat kecil di sisi tubuh tersebut, seolah mencium sesuatu yang tidak biasa.

Sang nenek segera berjongkok.

Dengan hati-hati ia memeriksa tubuh lelaki yang tidak sadarkan diri itu. Ternyata lelaki tersebut adalah orang yang sebelumnya ia rawat.

Balutan luka di bagian perutnya masih menempel. Sang nenek kemudian perlahan membuka pembalut yang terbuat dari daun bakung. Pada bagian dalam daun itu masih tersisa ramuan obat yang diraciknya dari berbagai jenis temu-temuan dan akar pepohonan tertentu.

Ramuan itulah yang sebelumnya digunakan untuk menutup luka lelaki paruh baya tersebut yang semula menganga cukup parah.

Namun kali ini, sang nenek dibuat tercengang. Ia tersenyum. Luka itu telah sembuh. Tidak ada lagi bekas luka yang terlihat pada perut lelaki tersebut. Suhu tubuhnya pun telah kembali normal.

Tangan dan kakinya mulai bergerak-gerak. Meski kedua matanya masih terpejam, kelopak matanya sesekali tampak bergerak seperti seseorang yang sedang berusaha keluar dari tidur panjang.

Sang nenek menghela napas lega.

“Syukurlah...” bisiknya.

Namun, sebelum lelaki itu benar-benar sadar, sang nenek teringat sesuatu. Ia mengambil sebuah mangkuk kecil berwarna hitam mengilap yang terbuat dari batok kelapa. Di dalamnya masih tersisa darah segar dari sepasang ayam sesajian yang berbeda warna bulunya.

Darah tersebut merupakan bagian dari sesajen dalam ritual jamuan sungai yang sebelumnya dipersembahkan kepada jembalang Aek Doras dan dilarungkan bersama sesajian lainnya. Dengan hati-hati, sang nenek kemudian meminumkan sisa darah tersebut kepada lelaki yang masih dalam keadaan tidak sadar.

Beberapa saat kemudian, terjadi sesuatu. Kelopak mata lelaki itu bergerak. Perlahan matanya terbuka. Tatapannya masih nanar. Ia mencoba memahami tempat di mana dirinya berada. Pandangan matanya berkeliling.

Kemudian matanya berhenti tepat pada sosok sang nenek. Seketika wajahnya berubah. Lelaki itu tampak sangat ketakutan.

Seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang amat mengerikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia tiba-tiba melompat bangun. Kemudian berlari. Lintang-pukang. Ia bahkan tidak tahu ke mana arah yang ditujunya.

“Simardong!” seru sang nenek ketika anjing hitam itu bangkit hendak mengejar. Simardong sudah bersiap berlari. Namun sang nenek segera mencegahnya. “Jangan dikejar.” Simardong berhenti. Simerdeng pun ikut memperhatikan lelaki itu yang semakin menjauh dalam kegelapan. 

“Biarkan dia pergi,” ujar sang nenek pelan. “Dia sudah sembuh.”

Kedua anak asuhnya itu akhirnya menurut. Mereka bertiga kemudian kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam gubuk.

Di dalam gubuk, sang nenek segera melepaskan pakaian basah yang dikenakannya sejak tadi. Ia kemudian berjalan ke bagian belakang gubuk untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari sisa air hujan dan berbagai aroma yang terbawa dari ritual malam itu.

Setelah selesai, ia berganti pakaian. Tak ada kegelisahan yang terlihat di wajahnya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa malam itu. Sang nenek kemudian berjalan menuju dipan di sudut gubuk.Ia membaringkan tubuhnya. Kedua matanya perlahan terpejam.

Di luar, suara hujan tinggal menyisakan rintik-rintik kecil yang jatuh di atas atap. Malam yang penuh kejadian aneh itu perlahan berlalu. Tak lama kemudian, gelap malam mulai berubah. Di ufuk Timur, warna langit perlahan memucat. Hari hampir menjelang subuh.

Namun, di balik ketenangan itu, masih tersimpan begitu banyak pertanyaan. 

Siapakah sebenarnya lelaki yang terlempar hingga ke bawah tangga gubuk sang nenek?

Mengapa ia begitu ketakutan ketika melihat sang nenek?

Dan dari mana sebenarnya lelaki itu datang?

Sementara jauh di luar sana, di tengah lautan yang masih menyimpan amarah badai, perjalanan Simardan juga belum menemukan ujungnya.

Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini