-->

Cerita Bersambung Simardan: Ongah Gombung Kembali ke Kampung Tanjung

Kita tinggalkan dahulu perairan Selat Malaka yang penuh kepentingan dan dinamikanya. Kembali sejenak ke daratan, ke Kampung Tanjung.

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Kita tinggalkan dahulu perairan Selat Malaka yang penuh kepentingan dan dinamikanya. Kembali sejenak ke daratan, ke Kampung Tanjung.

Sebuah kampung yang berada di pertemuan dua buah sungai. Pada masa itu, Kampung Tanjung mulai ramai didatangi dan disinggahi penduduk dari berbagai negeri. Ada yang datang sekadar berdagang, ada pula yang memilih menetap untuk mencari penghidupan baru.

Namun, beberapa hari belakangan, ketenteraman penduduk kampung mulai terusik. Mereka diliputi rasa gelisah setelah muncul kembali seorang pergajul, sebutan bagi bandit atau penjahat kambuhan yang pernah membuat resah masyarakat.

Yang membuat penduduk semakin cemas, orang itu sebenarnya sudah lama dikabarkan tewas akibat diramai-ramaikan penduduk beberapa tahun sebelumnya. Kini, tiba-tiba saja ia muncul kembali. No

Namanya Ongah Gombung.

Ia terlihat duduk santai di sebuah kedai kopi yang letaknya tidak jauh dari tangkahan umum, tempat perahu-perahu masyarakat setempat maupun para pedagang dari luar kampung bertambat.

Tangkahan itu berada bersebelahan dengan pasar. Setiap hari tempat tersebut ramai dikunjungi orang. Mereka datang untuk menjual maupun membeli berbagai kebutuhan hidup. Penduduk setempat menyebut pasar itu dengan sebutan pajak.

Pada masa itu, transaksi jual beli tidak selalu menggunakan uang. Koin-koin dari tembaga, perak, dan emas telah digunakan sebagai alat pembayaran dengan nilai yang ditentukan berdasarkan beratnya dan berlaku di berbagai negeri. Namun, barter juga masih lazim dilakukan. Barang ditukar dengan barang lainnya berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Di tengah keramaian itulah Ongah Gombung kembali menampakkan diri. Sebutan "Ongah" diberikan berdasarkan urutan kelahiran dalam keluarganya. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya yang sulung dipanggil Ulong, sedangkan adiknya yang paling bungsu disebut Uncu.

Karena tubuhnya gemuk dengan perut yang membuncit seperti gembung, masyarakat kemudian menambahkan sebutan Gombung di belakang namanya. Jadilah ia dikenal sebagai Ongah Gombung. Namun, Ongah Gombung bukan satu-satunya anggota keluarganya yang memiliki perangai buruk.

Abangnya, yang dikenal dengan nama Ulong Incit, telah meninggal dua tahun sebelumnya dengan cara tragis.

Ulong Incit tertangkap basah oleh penduduk ketika masuk ke sebuah rumah dan hendak memperkosa seorang anak gadis. Penduduk sebenarnya sudah lama mengintainya karena ia disebut telah beberapa kali melakukan perbuatan serupa di tempat lain.

Kemarahan warga pun tak terbendung. Ulong Incit ditangkap dan diramai-ramaikan penduduk hingga sekarat. Dalam keadaan tangan dan kaki terikat, tubuhnya kemudian dibenamkan dan dihanyutkan ke Sungai Silau sampai akhirnya tewas.

Setelah kematiannya, barulah masyarakat mengetahui bahwa Ulong Incit ternyata memiliki istri di beberapa tempat.

Selama ini orang hanya mengetahui ada sekitar empat orang perempuan yang menjadi istrinya. Mereka tinggal tersebar di sejumlah tempat yang masih berada di sekitar Kampung Tanjung.

Dari para istrinya itu, Ulong Incit meninggalkan keturunan yang sangat banyak. Diperkirakan ada sekitar 23 orang anak, laki-laki dan perempuan. Bahkan sebelum dirinya tewas, sebagian anaknya telah berkeluarga dan beberapa di antaranya sudah memiliki keturunan.

Dengan demikian, Ulong Incit telah meninggalkan cukup banyak cucu. Sementara itu, adik bungsu Ulong Incit dan Ongah Gombung adalah seorang perempuan.

Perempuan itu telah lama menjanda setelah suaminya pergi merantau dan tidak pernah kembali. Selama hidupnya, ia beberapa kali mengalami perkawinan dan perceraian, baik karena suaminya meninggal maupun karena berpisah dan ditinggalkan.

Belakangan perempuan tersebut juga disebut-sebut mengganggu rumah tangga orang lain. Perilakunya membuat masyarakat Kampung Tanjung muak hingga akhirnya ia diusir dari kampung.

Setelah beberapa waktu hidup di tempat lain, perempuan itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal di sebuah kampung di seberang Kampung Tanjung, yang kini diperkirakan berada di sekitar wilayah Sei Kepayang.

Semasa hidupnya, ia dikenal memiliki banyak perangai yang tidak disukai masyarakat. Ia gemar menyebarkan kabar yang belum tentu benar, membumbui cerita ketika menyampaikannya kepada orang lain, serta suka mengakali orang.

Di pasar ataupun ketika bertandang ke rumah tetangga, ia dikenal suka membual dan menceritakan sesuatu secara berlebihan. Ia juga disebut gemar mengambil barang milik orang lain.

Namun, di balik sifat-sifat buruk tersebut, ada satu hal yang membuatnya masih diterima sebagian masyarakat. Ia dikenal ringan tangan dan suka membantu tetangga yang sedang mempunyai hajatan. Bila ada pekerjaan dapur, ia hampir selalu muncul membantu, selama mengetahui ada kegiatan di kampung.

Perangai tiga bersaudara itu seolah tidak muncul begitu saja. Masyarakat mengenang kedua orang tua mereka juga memiliki tabiat yang kurang baik.

Ayah mereka dikenal dengan panggilan Incek Tansil, kependekan dari "Incek Pantang Silap". Ia bersama istrinya, yang dipanggil Unde Kombur, disebut sering mengambil hasil tanaman milik penduduk dan mengutil barang dagangan orang di pasar.

Unde Kombur sendiri mendapat julukan yang kurang menyenangkan. "Kombur" disamakan dengan baskom buruk, yakni wadah air dari tanah liat yang sudah usang. Pasangan suami istri itu juga dikenal memiliki banyak kebiasaan yang membuat masyarakat tidak senang.

Jika berutang, mereka sulit membayar. Jika berjanji, sulit menepati. Bila dipuji, mudah lupa diri. Bila disanggah, mereka kerap berulah. Ketika diingatkan, berpura-pura tidak ingat. Ketika disalahkan, tidak mau menerima.

Di tengah orang banyak, mereka ingin selalu tampil di depan dan tidak mau ditempatkan di belakang. Namun, ketika persoalan muncul, mereka justru memilih bersembunyi. Masyarakat mengenal perilaku semacam itu dengan ungkapan: lempar batu, sembunyi tangan.

Siang itu, kedai kopi milik Wak Bagan tiba-tiba ramai. Rupanya Ongah Gombung sedang mentraktir semua orang yang makan dan minum di kedai tersebut.

Wajahnya terlihat datar. Ia duduk di tengah keramaian seolah tidak pernah memiliki masa lalu yang membuat resah masyarakat. Tidak tampak sedikit pun beban di wajahnya. Tak lama kemudian, ia mulai bercerita tentang dirinya.

Pengunjung yang awalnya hanya beberapa orang perlahan bertambah. Kedai kopi yang tidak terlalu luas itu akhirnya penuh sesak. Bangku-bangku kayu yang panjang sudah dipenuhi orang. Mereka duduk berdesakan, penasaran mendengar cerita lelaki yang baru kembali ke kampung itu.

Ongah Gombung mulai mangulok—bercerita bohong dan membual tentang kehebatan dirinya. Ia mengaku bahwa kehidupannya sekarang sudah jauh berubah.

Dahulu, katanya, ketika meninggalkan Kampung Tanjung untuk merantau ke sebuah negeri yang jauh, kehidupannya masih serba kekurangan. Ia kemudian berkelana dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya menetap cukup lama di sebuah negeri.

Di sana, ia mengaku banyak belajar ilmu pengobatan. Kini, katanya, hampir segala macam penyakit mampu diobatinya. Bukan hanya itu. Ia juga mengaku memiliki ilmu kebal.

Rahasia kekebalannya, menurut ceritanya, berasal dari sebuah jimat yang disebut rantai babi. Jimat itu, katanya, ditemukan ketika ia sedang mengembara di sebuah hutan belantara.

Dan jimat itu kini dibawanya. Ongah Gombung lalu mengeluarkan cerita yang semakin membuat orang-orang di kedai penasaran.

Jika ada yang berminat, ia mengaku bersedia melepaskan jimat tersebut. Namun, harganya tidak murah. Ia menginginkan sebuah perahu berukuran sedang lengkap dengan isinya.

Isi perahu itu boleh berupa hasil ladang, hasil kebun, hasil laut, maupun hasil hutan. Yang penting, menurutnya, barang-barang tersebut bisa dijual. Kalau tidak memiliki barang, pembayaran juga dapat dilakukan dengan emas atau perak dengan nilai yang setara. Ongah Gombung semakin pandai memainkan kata-kata.

Ia mengatakan bahwa siapa pun yang memiliki jimat itu akan mendapatkan keberuntungan. Jika dibawa berdagang, pemiliknya akan selalu mendapat kemujuran. Jika dibawa melaut, hasil tangkapan akan berlimpah. Jika dibawa ke ladang, hasil tanaman pun akan melimpah ruah.

Cerita itu rupanya bukan sekadar bualan tanpa tujuan. Diam-diam, Ongah Gombung telah menentukan sasaran.

Orang yang hendak dijadikannya korban adalah Wak Bagan, pemilik kedai kopi tempat ia sedang duduk. Kemampuan bicaranya memang luar biasa. Ia mampu meyakinkan orang-orang yang mendengarnya, layaknya pedagang obat keliling yang piawai memikat pembeli.

Wak Bagan pun mulai tergoda.

Terlebih ketika Ongah Gombung terus meyakinkannya bahwa jimat tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dan mengubah kehidupan pemiliknya menjadi lebih makmur.

Lambat laun, rasa penasaran Wak Bagan berubah menjadi keinginan untuk memiliki jimat itu. Akhirnya, ia menyatakan kesanggupannya memenuhi permintaan Ongah Gombung. Pembayaran akan dilakukan dalam beberapa kali pasang, yakni hitungan waktu berdasarkan naiknya air laut.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Ongah Gombung bahkan diperbolehkan tinggal sementara di kedai kopi milik Wak Bagan. Ia boleh menginapMakan dan minum pun ditanggung. Sejak hari itu, Ongah Gombung resmi menjadi tamu istimewa di kedai Wak Bagan.

Namun, Wak Bagan belum mengetahui satu hal. Jimat rantai babi yang diceritakan Ongah Gombung hanyalah bagian dari permainan yang sedang disusunnya. Dan permainan itu baru saja dimulai.


(Bersambung)

Share:
Komentar

Berita Terkini