![]() |
| Ditulis Oleh : Harunsyah Arsyad |
Berlayarlah Simardan menumpang sebuah perahu kecil milik seorang saudagar bersama dua orang temannya. Ketiganya berasal dari Kampung Tanjung. Malam telah hampir menghujung. Fajar pun perlahan mendekat.
Di ufuk timur, langit mulai diselimuti kabut putih yang memantulkan cahaya temaram ke permukaan laut. Tak lama kemudian, semburat jingga kemerah-merahan muncul perlahan di cakrawala. Sang mentari pagi seakan tersenyum dari balik lapisan awan tipis di ufuk timur. Perahu layar kecil itu terus melaju tenang.
Simardan duduk bersandar pada tiang di bagian haluan, menghadap ke arah buritan. Kedua kakinya diluruskan ke depan, sementara kedua tangannya terlipat bersilang di atas perut.Wajahnya sedikit tertunduk dan tersembunyi di balik topi pandan berdaun lebar. Matanya terpejam. Namun, Simardan tidak sedang tidur.
Seluruh pancainderanya tetap awas mengamati keadaan di sekelilingnya. Pedang miliknya masih tersimpan kaku di dalam sarung dan diletakkan di sisi kirinya, seolah siap dikelebatkan oleh tangan kanannya apabila sewaktu-waktu terjadi serangan.
Belati bermata dua sepanjang kira-kira sejengkal orang dewasa masih terselip di pinggang sebelah kiri. Pendengarannya pun tetap tajam. Seekor ikan kecil yang terlempar ke dalam perahu akibat dihantam haluan bahkan seketika menjadi korban sabetan pedang Simardan. Gerakannya begitu cepat.
Hal itu semakin membuat pemilik perahu dan kedua sahabatnya tidak berani lengah. Secara bergantian, mereka memegang kemudi dan mengendalikan layar agar haluan perahu tidak menyimpang dari arah tujuan. Tak seorang pun berani memejamkan mata, meski perjalanan panjang dan rasa lelah mulai menyergap.
Di dalam hati, mereka masih diliputi ketakutan. Mereka tidak pernah tahu kapan Simardan akan berubah pikiran dan menghabisi nyawa mereka. Barulah ketika cahaya mentari pagi mulai menerpa kulit mereka, suasana di atas perahu perlahan berubah.
Salah seorang sahabat pemilik perahu terlihat bergerak menuju buritan. Ia tampak sibuk menyiapkan sesuatu untuk dimasak selepas fajar.
Sahabat yang lain segera membantunya. Semua gerakan itu sebenarnya tidak luput dari pengawasan Simardan. Dari balik celah-celah anyaman topi pandan yang menutupi wajahnya, matanya terus memperhatikan mereka. Telinganya pun menangkap setiap suara dan percakapan yang terdengar di atas perahu.
Namun, kali ini Simardan tidak bereaksi. Perutnya sendiri sudah kosong sejak malam. Ia membiarkan ketiga orang itu menyiapkan makanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seakan mengizinkan mereka melakukan apa yang diperlukan. Persediaan makanan di dalam perahu ternyata cukup lengkap.
Di sudut kanan buritan terdapat sebuah tempayan tembikar setinggi pinggang orang dewasa yang digunakan sebagai tempat menyimpan air bersih. Perahu tersebut berbentuk seperti tongkang kecil, dengan bagian buritan yang lebar dan bagian depan yang sedikit meruncing.
Air di dalam tempayan itu diambil dari Aek Doras, yang kini dikenal sebagai Sungai Asahan, ketika air sungai sedang pasang penuh. Airnya bening dan jernih. Permukaan air di dalam tempayan masih tampak penuh. Air itu bergoyang perlahan mengikuti gerakan perahu yang melaju tenang ditiup angin dari arah timur.
Pagi itu, permukaan laut relatif tenang. Tidak terlihat gelombang besar yang mengguncang perahu. Saat itu laut sedang mengalami pasang mati, ketika bulan mulai menjauh dari posisi purnamanya. Arus laut pun tidak terlalu kuat.
Kondisi demikian dikenal oleh para nelayan sebagai masa yang kurang baik untuk menangkap ikan. Minimnya arus membuat banyak ikan lebih memilih berdiam di tempat persembunyiannya. Karena itu, hasil tangkapan nelayan pada masa pasang mati sering kali tidak sebanyak hari-hari lainnya.
Di atas perahu itu juga tersedia berbagai peralatan memasak yang sederhana. Ada periuk tanah, gayung dan sudu yang terbuat dari batok kelapa, serta piring dan mangkuk dari anyaman bambu. Meski sederhana, semua kebutuhan memasak tersedia.
Bumbu-bumbu pun cukup lengkap. Cabai, jeruk nipis, garam, gula aren, lada, hingga asam glugur kering atau asam potong disimpan sebagai bekal perjalanan. Mereka juga membawa minyak kelapa hasil olahan sendiri yang disimpan di dalam guci tembikar berukuran kecil.
Beras tersimpan di dalam karung anyaman pandan dan diletakkan di sisi kiri buritan. Di sampingnya terdapat beberapa gandeng kelapa tua yang telah dibersihkan dari sabutnya. Untuk lauk, mereka membawa ikan yang telah dikeringkan, disalai, maupun diasinkan.
Bahkan, ada seekor ayam jantan muda yang telah direbus terlebih dahulu agar dapat bertahan selama perjalanan. Tampaknya, ayam itulah yang akan menjadi lauk utama mereka pagi itu. Mereka rupanya ingin menyajikan hidangan istimewa bagi Simardan.
Ayam gulai lemak.
Tak lama kemudian, Simardan membuka matanya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan perlahan berjalan menuju buritan. Dengan tenang, ia mengambil air bersih untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Simardan mulai menebarkan senyum. Wajahnya yang sebelumnya terlihat keras dan penuh ancaman kini menunjukkan keramahan. Ia bahkan mulai bersiul kecil.
Perubahan sikap itu membuat suasana di atas perahu perlahan mencair. Ketiga saudagar kecil itu yang sejak malam terus diliputi ketakutan mulai merasa sedikit lega. Ketegangan yang sebelumnya menyelimuti perahu perlahan menghilang.
Untuk pertama kalinya sejak Simardan berada di atas perahu mereka, suasana pagi itu terasa lebih tenang dan bersahabat. Namun, ketiganya tentu belum sepenuhnya melupakan siapa sebenarnya pemuda yang kini tersenyum di hadapan mereka.
Seorang pendekar yang namanya ditakuti di lautan. Seorang pemuda yang baru saja meninggalkan kehidupan sebagai bagian dari komplotan lanun Lancang Hitam. Dan kini, di tengah laut yang tenang, perjalanan Simardan menuju sebuah kehidupan baru baru saja dimulai. (Bersambung)
