-->

Debat Kusir Ala Wak Atan Sajojak

Setelah aman sampai di daratan, sudah hilang nafas satu-satunya tadi, sehabis berjuang di dermaga Tanjung Sarang Elang dan dermaga Labuhan Bilik.

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                  Oleh : Harunsyah Arsyad

Setelah aman sampai di daratan, sudah hilang nafas satu-satunya tadi, sehabis berjuang di dermaga Tanjung Sarang Elang dan dermaga Labuhan Bilik. Wak Atan Sajojak menenangkan diri di sebuah warung kopi. 

"Oii, Koling! Buat do kopi panas en satu! Kasih susu agak banyak, biagh aman do jantungku  ka abis bataghong sama Sungai Barumun en tain!" teriak Wak Atan Sajojak pada pemilik warung.

Di sudut warkop, rupanya Lek Jamil dan beberapa buruh tangkahan tadi sudah duduk manis duluan sambil menikmati pisang goreng. 

Begitu melihat Wak Atan Sajojak masuk, Lek Jamil langsung menyengir lebar.

"Haa... ika lia pambalap kita baghu sampek! Camana ja lutut uwak en, aman kan? Masih bagotagh ja macam mosin jait en?" sindir Lek Jamil, memancing tawa seisi warung.

Wak Atan Sajojak tidak menunjukkan muka malu sedikit pun. Dia justru memesan sebatang rokok, menyulutnya pelan, lalu mengembuskan asapnya ke udara dengan gaya sangat berwibawa.

"Ko ka, Jamel. Pikighan mu cotek kali macam paghet mati," sahut Wak Atan Sajojak tenang. "Kamu pikegh ja tain aku botulan indak sanggup manaekkan kagheta en?"

"Bah iyolah, jolas-jolas ko manjoghit minta tolong sampek matamu en tabondil ondak malumpat kaluagh, Wak! Duit lima ghibu kayi pun maseh basah ika kona poloh katakutan men," balas buruh lain sambil mengibas-ngibaskan selembar uang lima ribu tadi.

Wak Atan Sajojak meminum kopi susunya sekali teguk—sruuuppp—lalu meletakkan gelasnya hingga berdentang.

"Enlah bedanya oghang tua nan banyak makan asam gagham dongan kamu ka nan cuma tau makan pisang gogheng," kata Wak Atan Sajojak sambil menunjuk mereka dengan puntung rokok. "Tain en aku sangaja! Ku tengok kamu batiga di atas tangkahan en macam bughong punggok, losu indak ada koghjaan. Macam mana la kamu mau mangasi makan anak bini kalo indak ada nan mamboghong jasa kamu?"

Lek Jamil mengerutkan kening. "Maksud ko, Wak?"

"Aku sangaja mainkan trik jalan mundur tain supaya kamu punya alasan untuk malempaghkan tali tambang en! Aku ka sangaja basadokah lima ghibu peghak dongan gaya nan tahoghmat, biagh kamu maghasa baguna haghi ka! Kalo aku manaikkan sandighi tain sampek atas indak bahalangan, apa indak makin maghana kamu manengok dompet kosong?" ujar Wak Atan Sajojak tanpa berkedip. Mukanya begitu meyakinkan sampai-sampai dua orang pengunjung kedai kopi di sebelah hampir saja mengangguk setuju.

Lek Jamil menepuk jidatnya. "Ya Tuhan... Koghasnya lidah oghang tua ka! Udah kalah bataghung di papan titian tain, bisa pulak diputaghnya balek jadi aksi amal sosial!"

"Botul en!" timpal Wak Atan Sajojak makin menjadi-jadi. "Lagipulak, lumpogh nan kusombughkan ka muka ko tain en, Jamil... en lumpogh bakhasiat! Lumpogh Sunge Barumun en bagus untok masker muka ko nan mighep ikan tongkol en biagh agak bacahaya sikit!"

Kedai kopi Labuhan Bilik langsung pecah oleh tawa riuh para nelayan dan buruh yang sedang bersantai. Lek Jamil cuma bisa geleng-geleng kepala sambil melemparkan sepotong pisang goreng dingin tepat ke arah piring Wak Kombang.

"Udahlah, Wak! Makan pisang gogheng ka. Biagh konyang ko, jadi makin panjang jalan caghita bongak ko en!" kata Jamil sambil tertawa pasrah.

Wak Atan Sajojak tersenyum puas, menyambar pisang goreng itu dengan cepat. Di warung kopi ini, biarpun rem motornya blong dan tenaganya kalah dari papan titian, ego dan kata-kata Wak Atan Sajojak tetap keluar sebagai pemenang mutlak.

Share:
Komentar

Berita Terkini