JAKARTA – Sebuah perjalanan iman mulai dirajut dari Nunsiatur Apostolik di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) menyiapkan sekitar 60 anggota kontingen umat Katolik TNI dan Polri untuk mengikuti Pilgrimage Militaire International (PMI) di Lourdes, Prancis, pada 21-24 Mei 2027.
Tak berhenti di Lourdes, OCI juga berharap mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Paus Leo XIV di Vatikan pada 28 Mei 2027.
Harapan tersebut disampaikan OCI dalam audiensi dengan Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì, Jumat (18/9/2026). Pertemuan itu menjadi bagian dari persiapan delegasi Indonesia mengikuti pertemuan internasional umat Katolik militer di Lourdes.
Audiensi dipimpin Wakil Uskup OCI, Romo Yos Bintoro, Pr., didampingi Letjen TNI (Purn.) Ignatius Yogo Triyono dan Marsda TNI (Purn.) Alfonsus Joko Takarianto.
Romo Yos mengatakan rencana mengirim sekitar 60 anggota kontingen OCI merupakan tindak lanjut rekomendasi Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Agung Jakarta sekaligus Ordinaris Militer Indonesia, agar OCI membangun komunikasi dengan Takhta Suci.
“Kami ingin membawa semangat para penjaga negeri dari Indonesia ke Lourdes. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi perjalanan iman, persaudaraan dan pelayanan,” ujar Romo Yos.
Ia juga menyampaikan harapan agar delegasi Indonesia memperoleh kesempatan bertemu Bapa Suci.
“Kami juga berharap dapat memperoleh kesempatan bertemu Bapa Suci untuk memohon berkat dalam menjalankan tugas menjaga keutuhan NKRI,” lanjutnya.
Membawa Doa dari Indonesia ke Lourdes
Bagi OCI, keikutsertaan dalam PMI bukan sekadar agenda perjalanan internasional. Kegiatan tersebut dipandang sebagai kesempatan mempertemukan umat Katolik dari kalangan militer berbagai negara dalam suasana doa dan persaudaraan.
Lourdes sendiri merupakan salah satu pusat ziarah umat Katolik dunia. Di tempat tersebut, para anggota militer dan kepolisian Indonesia nantinya akan berjumpa dengan umat Katolik militer dari berbagai negara.
Mereka tidak hanya membawa identitas institusi, tetapi juga membawa doa dan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Di Lourdes, kita akan hadir bersama para penjaga negeri dari berbagai negara dalam suasana doa. Di sana iman mempertemukan kita, sementara pelayanan menjadi bahasa bersama,” kata Romo Yos.
Tema PMI 2027, “Unis dans la foi, fidèles dans le service” atau “Bersatu dalam iman, setia dalam pelayanan”, menjadi pesan yang akan dibawa kontingen Indonesia.
Melalui keikutsertaan tersebut, delegasi Indonesia juga diharapkan dapat memperkenalkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, kaya budaya dan menempatkan perdamaian sebagai bagian penting dalam kehidupan bersama.
Menyambungkan Sejarah yang Panjang
Perjalanan menuju Lourdes juga memiliki kaitan dengan sejarah panjang pelayanan Gereja Katolik bagi umat di lingkungan militer Indonesia.
Sejarah tersebut bermula ketika Vikariat Militer Indonesia didirikan pada 25 Desember 1949 oleh Paus Pius XII. Saat itu, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, diangkat sebagai uskup militer pertama Indonesia.
Lebih dari tujuh dekade kemudian, OCI berharap kembali menorehkan jejak sejarah melalui keikutsertaan dalam PMI di Lourdes.
Menurut Romo Yos, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk menyambungkan sejarah pelayanan Gereja dengan tugas pengabdian para anggota TNI dan Polri.
“Di Lourdes, kita akan hadir bersama para penjaga negeri dari berbagai negara dalam suasana doa,” ujarnya.
Harapan Bertemu Paus Leo XIV
Sementara itu, rencana audiensi dengan Paus Leo XIV di Vatikan pada 28 Mei 2027 memiliki makna tersendiri bagi OCI.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi delegasi Indonesia untuk memohon berkat dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mereka yang bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan negara juga membutuhkan kekuatan iman. Karena itu, perjumpaan dengan Bapa Suci kami maknai sebagai kesempatan untuk memohon berkat agar pengabdian kepada bangsa dan negara dijalankan dengan keteguhan hati,” kata Romo Yos.
Semangat tersebut ditempatkan dalam cakrawala cita-cita Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya mengenai kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dalam audiensi tersebut, Mgr. Walter Erbì yang didampingi Sekretaris Eksekutif Nunsiatur, Mgr. Michael, menyampaikan kegembiraannya melihat pelayanan Gereja yang hadir di tengah umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.
Dalam dua pekan pertama menjalankan tugas di Indonesia, Mgr. Erbì juga mengungkapkan kesannya terhadap kekayaan Indonesia, mulai dari keberagaman masyarakat, keramahan, keindahan alam hingga budaya.
“Saya sangat gembira melihat pelayanan Gereja yang hadir di tengah umat, termasuk melalui OCI. Indonesia adalah bangsa yang kaya, dengan keberagaman, budaya dan masyarakat yang ramah. Kehadiran OCI merupakan bagian penting dari wajah Gereja di tengah kehidupan bangsa Indonesia,” ungkap Mgr. Erbì.
Ia menyatakan akan turut merekomendasikan kepada Bapa Suci agar delegasi Indonesia memperoleh kesempatan untuk diterima dalam audiensi.
Buku Sejarah dan Sebuah Harapan
Pertemuan di Nunsiatur Apostolik kemudian ditutup dengan penyerahan buku sejarah “75 Tahun Pengabdian OCI bagi Tanah Air” kepada Mgr. Walter Erbì.
Buku tersebut menjadi simbol perjalanan panjang OCI dalam mendampingi umat sekaligus mengabdi kepada tanah air.
Sebuah plakat OCI juga diserahkan kepada Mgr. Erbì sebagai ungkapan selamat atas penunjukannya sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia sekaligus tanda persaudaraan dan penghormatan.
Di balik buku dan plakat tersebut terselip harapan agar pelayanan Mgr. Erbì di Indonesia senantiasa diberkati dan menjadi jembatan persaudaraan antara Takhta Suci dan Gereja Katolik di Indonesia.
Perjalanan menuju Lourdes dan Vatikan memang masih beberapa bulan lagi. Namun, bagi OCI, langkah awalnya telah dimulai dari sebuah perjumpaan di Nunsiatur Apostolik Jakarta.
Dari sana, doa para penjaga negeri akan dibawa menuju Lourdes dan, jika kesempatan audiensi terwujud, dilanjutkan hingga bertemu langsung dengan Bapa Suci di Roma.
