-->

RRI MEDAN: Dari Kampung Baru yang Dibakar Sekutu, Hingga Jadi Suara Emas Sumatera Utara

Jauh sebelum ada TV, sebelum ada gadget, satu-satunya yang membuat orang sekampung berhenti bekerja hanyalah suara dari pesawat radio kayu: "Inilah

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                               Ditulis Oleh: Harunsyah Arsyad

Jauh sebelum ada TV, sebelum ada gadget, satu-satunya yang membuat orang sekampung berhenti bekerja hanyalah suara dari pesawat radio kayu: "Inilah Radio Republik Indonesia Stasiun Medan..."

1. Cikal Bakal: Dari Radio Tuan Belanda

Tahun 1930-an, di Medan belum ada RRI. Yang ada radio milik Belanda:

- MOVA (Meyers Omroep Voor Allen) milik tuan Meyers

- AVROM (Algemene Vereniging Radio Omroep Medan)

- NIROM – jaringan radio terbesar Hindia Belanda yang dapat dana dari pajak radio.

Siarannya masih bahasa Belanda, untuk orang Belanda. Rakyat kita hanya bisa curi-curi dengar dari luar jendela.

Ketika Jepang masuk 1942, semua diambil alih jadi Medan Hoso Kyoku. Semua berita harus disensor di kantor propaganda Jepang (BUNKAKA). Tidak boleh ada terdengar kata Merdeka.

2. Masa Paling Kelam: Pindah-Pindah, Dibakar, Mengungsi

1945, Jepang menyerah. Pemuda Medan nekat mendirikan radio perjuangan.

Percobaan 1: Kampung Baru. Dibangun dengan alat seadanya. Belum sempat mengudara, tentara Sekutu tahu, langsung dihancurkan.

Percobaan 2: Jalan Asia. Dibangun lagi. Lagi-lagi gagal, kota Medan mencekam.

Akhirnya pejuang memutuskan: kita ngungsi. RRI Medan untuk pertama kalinya justru berkumandang bukan di Medan, tapi di Pematang Siantar. Diresmikan langsung oleh Gubernur Sumatera pertama, Teuku Muhammad Hasan. Tapi 29 Juli 1947 (masa agresi), Belanda menyerang Siantar, dibakar lagi.

Baru setelah kedaulatan diserahkan, RRI kembali ke Medan:

- 1949-1950: Jalan Serdang No.28 – Studio kecil dengan pemancar 150 watt, gelombang 41,61 meter. Siaran hanya beberapa jam.

- 1 Juli 1947 (efektif 1950): Datang pemancar baru dari Irian, merk Amerika Hallicrafter BC 610 E, 250 watt. Inilah yang jadi kebanggaan, gelombangnya jadi 89,55 meter, suaranya bisa sampai ke seluruh Sumatera Timur.

- 1957: Pindah ke Jalan Bintang / Jalan Letkol Martinus Lubis – Diresmikan Menteri Penerangan Soedibjo. Ini gedung yang paling diingat generasi 60-an. Gedung klasik dekat Gedung Medan Perjuangan.

- Sekarang: Jalan Gatot Subroto KM 3,5 / No.214 Sei Sikambing B, Medan Sunggal. Gedung besar Tipe B yang kita kenal sampai hari ini. Di sini ada Pro 1 (94.3 FM), Pro 2 (92.4 FM), Pro 3 (88.8 FM) dan Pro 4 (88.4 FM).

Empat kali pindah, dua kali dibakar. Itulah harga sebuah suara kemerdekaan.

3. Masa Keemasan: Ketika Semua Orang Punya Jadwal Mendengarkan RRI

Tahun 1950-1985 adalah era emas RRI Medan. Setelah tidak lagi jadi alat propaganda perang, RRI berubah bagai universitas terbuka bagi masyarakat Sumut khususnya Kota Medan. Siarannya mendidik, berbudaya, dan sangat Melayu Deli.

Tugas paling berat tahun 1956: ketika Sumatera bergejolak PRRI/Permesta, RRI Medan berdiri tegak membantu pemerintah pusat menumpas pemberontakan lewat siaran.

Lalu datang era yang paling dirindukan:

a. Bintang Radio & Televisi Nasional (BRTV): Tahun 70-80an, ini adalah Indonesian Idol-nya zaman dulu. RRI mencari penyanyi keroncong dan seriosa terbaik. Dari sinilah lahir Ratu Keroncong Sundari Soekotjo dan nama-nama besar lainnya.

b. Sandiwara Radio: Ini candunya. Jam 7 malam, jalanan sepi. Semua orang menempel di radio.

- Saur Sepuh dengan Brama Kumbara

- Tutur Tinular dengan Arya Kamandanu

- Misteri Gunung Merapi dengan Mak Lampir-nya yang bikin anak kecil nggak berani ke kamar mandi

Anak sekolah bahkan bawa radio saku ke kelas demi tidak ketinggalan episode.

c. Acara Daerah: Musik Melayu Deli, Langkat, puisi-puisi Chairil Anwar yang dibacakan penyiar legendaris, sandiwara berbahasa Karo dan Tapanuli, serta Warta Berita yang jadi satu-satunya sumber berita terpercaya sebelum TVRI masuk tahun 1970.

4. Pasang Surut: Datangnya TVRI dan Radio Swasta

Tahun 1970, TVRI Medan berdiri (diresmikan Presiden Soeharto 28 Desember 1970). Perlahan, orang mulai beralih. Gambar bergerak mengalahkan teater imajinasi.

Tahun 80-90an, radio swasta FM tumbuh seperti jamur di Medan (Kiss FM, Prambors, dll). RRI yang AM mulai dianggap ketinggalan zaman.

Titik terendah tahun 90an-2000an, RRI Medan seperti museum yang sepi.

Tapi RRI bangkit lagi. Ia migrasi ke FM, masuk ke RRI Digital, dan kembali jadi penjaga budaya. Kalau radio swasta jual musik Barat, RRI Medan tetap setia putar lagu Melayu, Keroncong, dan sandiwara berbahasa daerah.

Hari ini, kalau kita lewat Jalan Gatot Subroto, lihat menaranya yang menjulang itu, ingatlah: itulah suara "Merdeka!" pertama kali mencoba dikumandangkan di Medan di alamatnya pertama dahulu, meski harus dibakar dua kali oleh Sekutu dan Belanda.

RRI Medan bukan sekadar stasiun radio. Ia adalah buku harian Kota Medan yang dibacakan lewat gelombang.

Share:
Komentar

Berita Terkini