-->

Cerita Bersambung Si Mardan Episode 5 : Jejak Kepercayaan Lama dan Kemunculan Simardan di Lancang Hitam

Pada masa Simardan hidup, ajaran agama Islam maupun agama-agama lainnya belum sampai kepada kedua orang tuanya ketika mereka masih tinggal di daerah

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad

Pada masa Simardan hidup, ajaran agama Islam maupun agama-agama lainnya belum sampai kepada kedua orang tuanya ketika mereka masih tinggal di daerah hulu. Mereka hidup dalam lingkungan masyarakat yang sejak turun-temurun menganut kepercayaan lama yang diwariskan oleh nenek moyang.

Ketika kemudian mereka bermigrasi dari hulu dan menetap di kawasan hilir Aek Doras, daerah pesisir pantai Timur Pulau Andalas, kehidupan kepercayaan lama itu masih melekat kuat dalam keseharian mereka.

Masyarakat pada masa itu masih menganut kepercayaan parmalim atau pelbegu, sebagaimana istilah yang berkembang dalam masyarakat untuk menyebut kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib dan roh leluhur. Mereka meyakini bahwa alam di sekitar kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang kosong tanpa penghuni.

Gunung, sungai, laut, hutan, batu-batu besar, pepohonan tua, hingga berbagai makhluk yang kasatmata maupun tidak kasatmata dipercaya memiliki kekuatan tertentu yang dapat memengaruhi kehidupan manusia.

Arwah para leluhur juga mendapat tempat penting dalam kepercayaan mereka. Ada keyakinan bahwa roh orang-orang yang telah meninggal masih memiliki hubungan dengan kehidupan orang yang masih hidup. Karena itu, penghormatan kepada leluhur menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika Islam Mulai Menyentuh Pesisir Andalas

Keadaan berbeda terjadi di sejumlah negeri pesisir.

Wilayah-wilayah pesisir yang sejak lama memiliki hubungan perdagangan dengan negeri-negeri luar secara perlahan mulai bersentuhan dengan ajaran Islam. Pada awalnya, pengaruh tersebut lebih banyak masuk melalui lingkungan para bangsawan dan pusat-pusat kekuasaan.

Para saudagar dari jazirah Arab datang bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga membawa kebudayaan, bahasa, pengetahuan, dan keyakinan yang mereka anut.


Hubungan perdagangan yang berlangsung berulang kali kemudian berkembang menjadi hubungan sosial dan persahabatan. Tidak sedikit pula hubungan tersebut terjalin dengan para bangsawan dari negeri-negeri yang sebelumnya telah menerima Islam.

Dari pusat-pusat kekuasaan di pesisir, ajaran baru itu perlahan menyebar ke tengah masyarakat.

Pada masa-masa awal, kedatangan para saudagar dari jazirah Arab ke wilayah Pulau Andalas terutama didorong kepentingan perdagangan. Mereka mencari berbagai komoditas yang bernilai tinggi untuk dibawa kembali dan diperdagangkan di negeri asal mereka.

Jauh sebelum masa Simardan, para pelayar dan saudagar dari berbagai negeri telah mengenal Pulau Andalas.

Pulau ini dalam berbagai catatan dan tradisi lama pernah dikenal dengan sejumlah nama, antara lain Swarnadwipa, yang sering dimaknai sebagai Pulau Emas, serta Swarnabhumi, atau Tanah Emas. Nama Percha juga dikenal dalam penyebutan lama.

Dalam sumber-sumber klasik, pulau besar ini juga dikaitkan dengan nama Taprobana, sebuah nama yang digunakan dalam tradisi geografis kuno untuk menyebut wilayah kepulauan di timur India.

Barus dan Jejak Perdagangan Dunia

Salah satu wilayah yang sejak masa lampau dikenal dalam jaringan perdagangan internasional adalah Barus, di pantai Barat Pulau Andalas.

Barus terkenal karena menghasilkan komoditas yang sangat berharga, terutama kapur barus. Bahan tersebut sejak masa kuno telah menjadi barang dagangan bernilai tinggi dan dikenal hingga wilayah yang sangat jauh.

Kapur barus berasal dari hasil olahan getah atau bagian tertentu dari pohon penghasil kamper yang tumbuh di kawasan tersebut. Komoditas ini digunakan dalam berbagai keperluan, termasuk pengobatan, wewangian, dan dalam tradisi pengawetan jenazah di sejumlah kebudayaan kuno.

Jaringan perdagangan yang panjang inilah yang membuat wilayah pesisir Pulau Andalas sejak berabad-abad lalu menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa.

Pedagang dari Arab, Persia, India, dan berbagai kawasan lainnya datang silih berganti.

Hubungan perdagangan tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu jalur masuknya berbagai pengaruh budaya dan agama ke Nusantara.

Dalam perkembangan berikutnya, Islam semakin kuat di sejumlah kerajaan pesisir. Salah satu yang kemudian tampil sebagai kerajaan Islam penting di ujung Barat Pulau Andalas adalah Samudera Pasai.

Kerajaan ini berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan sekaligus penyebaran Islam di kawasan tersebut.

Dari Samudera Pasai hingga Nama Sumatera

Dalam kisah perjalanan sejarah berikutnya, nama Samudera Pasai juga dikenal oleh dunia melalui catatan para penjelajah.

Salah seorang yang paling terkenal adalah Ibnu Battutah, pengembara asal Maroko yang melakukan perjalanan panjang ke berbagai wilayah dunia.

Ia mengunjungi kawasan Samudera Pasai dan kemudian mencatat pengalamannya dalam kisah perjalanan.

Dari berbagai cerita dan penulisan mengenai kawasan tersebut, nama Samudera kemudian memiliki berbagai bentuk penyebutan dalam catatan asing. Dalam perkembangan yang panjang, nama yang kemudian dikenal luas adalah Sumatera.

Namun, asal-usul nama Sumatera sendiri memiliki sejumlah versi dan perdebatan dalam kajian sejarah. Karena itu, kisah mengenai perubahan penyebutan Samudera menjadi Sumatera lebih tepat dipandang sebagai salah satu versi dalam tradisi sejarah nama pulau tersebut.

Pesisir Timur dan Warisan Kepercayaan Lama

Sementara Islam berkembang pesat di sejumlah wilayah pesisir, kawasan lain di Pulau Andalas masih kuat dipengaruhi tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal yang telah ada jauh sebelumnya.

Kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya pernah memberikan pengaruh luas terhadap kehidupan masyarakat di kawasan Sumatera.

Perubahan agama dan kekuasaan tidak serta-merta menghapus seluruh tradisi lama.

Kepercayaan terhadap roh leluhur, kekuatan alam, tempat-tempat keramat, serta pemberian sesaji kepada makhluk gaib dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat selama beberapa generasi.

Tradisi lama sering kali tidak hilang begitu saja. Ia bercampur dengan kebiasaan baru dan kemudian membentuk budaya masyarakat yang khas.

Terlebih ketika pemahaman terhadap agama baru belum merata hingga ke pelosok pedalaman dan pesisir.

Karena itu, dalam kisah kehidupan masyarakat pada masa Simardan, praktik pemberian sesaji, penghormatan kepada tempat-tempat tertentu, serta kepercayaan terhadap makhluk gaib masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.

Namun, kita tinggalkan dahulu dinamika kehidupan masyarakat di pesisir Timur dan Barat Pulau Andalas.

Kisah kita kini beralih jauh ke tengah lautan.

Lancang Hitam dan Raja Rompak

Jauh di tengah Selat Malaka, di sebuah pulau karang kecil yang terpencil, bersemayam seorang penguasa laut yang sangat ditakuti para pelaut.

Namanya Raja Rompak.

Ia adalah seorang raja lanun, penguasa bajak laut yang mengendalikan sebuah kapal layar berukuran sedang bernama Lancang Hitam.

Kapal itu memiliki tiang layar tinggi dengan badan kapal yang didominasi warna hitam. Di puncaknya berkibar panji hitam bergambar tengkorak putih bersilang.

Bagi para saudagar dan pelayar yang melintasi Selat Malaka, kemunculan panji itu adalah pertanda buruk.

Lancang Hitam bukan kapal yang ingin mereka jumpai.

Ketika malam mulai turun, sebagian pelaut memilih menepi dan melempar jangkar. Mereka rela menunda perjalanan hingga matahari kembali terbit.

Bagi yang tetap memaksakan perjalanan pada malam hari, mereka berusaha sebisa mungkin menghindari perairan terbuka yang menjadi wilayah pengintaian para lanun.

Lampu-lampu kapal dipadamkan. Layar diturunkan. Kapal diarahkan menjauh dari jalur yang biasa digunakan kelompok Raja Rompak. Sebab, sekali Lancang Hitam mengejar, tidak banyak kapal dagang yang mampu meloloskan diri. 

Di atas kapal itu terdapat lebih dari 25 orang anak buah Raja Rompak.

Tubuh mereka kekar dan terlatih. Sebagian besar telah bertahun-tahun hidup di laut. Mereka mahir menggunakan berbagai senjata tajam dan terampil bertarung, baik di atas kapal maupun di daratan.

Kelompok kecil itu telah berkali-kali melewati pertempuran. Bahkan pernah suatu ketika lebih dari seratus prajurit kerajaan mengepung dan menyerang mereka secara tiba-tiba. Namun serangan tersebut gagal.

Pasukan kerajaan justru dipukul mundur. Sejak saat itu, nama Lancang Hitam semakin ditakuti. Kerajaan-kerajaan besar yang menguasai jalur pelayaran Selat Malaka pun dibuat sibuk.

Mereka sebenarnya memiliki kewajiban menjaga keamanan jalur perdagangan dan pelayaran. Negeri-negeri kecil di sepanjang kawasan tersebut membayar upeti sebagai imbalan perlindungan.

Tetapi kemunculan kelompok Raja Rompak membuat semuanya menjadi kacau. Armada kerajaan berkali-kali mencoba memburu mereka. Namun Lancang Hitam selalu berhasil menghilang. Seperti bayangan di tengah kabut laut.

Panglima Muda Lancang Hitam

Raja Rompak memang pemimpin tertinggi. Namun dalam setiap pertempuran, ia lebih sering mempercayakan urusan lapangan kepada seorang panglima muda yang sangat dihormati anak buahnya. Pemuda itu masih belia, tetapi keberaniannya telah teruji.

Tubuhnya tegap. Wajahnya tampan. Pembawaannya tenang dan penuh wibawa. Ia bukan tipe orang yang banyak berbicara. Namun ketika memberikan perintah, seluruh anak buah Lancang Hitam segera bergerak tanpa banyak bertanya. Matanya tajam seperti mata elang. Alisnya hitam dan tebal.

Tatapannya mampu membuat seorang lawan merasa sedang dibidik sebelum pedang bahkan terhunus dari sarungnya. Pemuda itu adalah anak angkat Raja Rompak. Dialah Simardan. Putra dari Selatan Kampung Tanjung.

Kampung yang berdiri di sebuah tanjung, di tempat dua aliran sungai besar bertemu sebelum mengalir menuju kawasan pesisir. Bertahun-tahun sebelumnya, Simardan masih seorang anak remaja ketika takdir membawanya jauh meninggalkan kampung halaman.

Ia kemudian diasuh oleh Raja Rompak. Di atas Lancang Hitam itulah Simardan tumbuh. Laut menjadi sekolahnya. Pertarungan menjadi gurunya. Raja Rompak menjadi ayah angkatnya. Dan para lanun menjadi saudara seperguruannya.

Kini Simardan bukan lagi anak kampung yang dahulu berlari-lari di tepian sungai. Ia telah menjelma menjadi seorang pemuda gagah, panglima yang disegani, sekaligus salah satu orang paling berbahaya di sepanjang jalur pelayaran Selat Malaka.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu tempat yang tidak pernah benar-benar hilang. Sebuah kampung di tepian sungai. Seorang ibu yang pernah menunggunya. Dan sebuah masa lalu yang kelak akan kembali mengejarnya. (Bersambung)

Share:
Komentar

Berita Terkini