-->

Kaitan Penamaan Petisah dengan Legenda Putri Hijau

Ada banyak nama wilayah di Kota Medan yang setiap hari disebut, tetapi tidak semua orang mengetahui kisah yang berada di balik

Editor: PoskotaSumut.id author photo

K

isah yang Menyambung Legenda Putri Hijau, Sungai Deli dan Jejak Kesultanan Deli

Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Ada banyak nama wilayah di Kota Medan yang setiap hari disebut, tetapi tidak semua orang mengetahui kisah yang berada di baliknya.

Salah satunya adalah Petisah.

Nama Petisah tidak hanya melekat sebagai nama kawasan di jantung Kota Medan. Dalam sebuah versi cerita rakyat, penamaannya dikaitkan dengan perjalanan pelarian keluarga kerajaan Deli Tua ketika menghadapi serangan pasukan Aceh.

Kisah tersebut membawa kita menyusuri satu jalur penting: Sungai Deli.

Dari kawasan Deli Tua di bagian hulu, bergerak ke arah hilir melewati kawasan yang kini dikenal sebagai Petisah, hingga menuju Labuhan Deli dan akhirnya bermuara ke Selat Malaka.

Di sepanjang aliran sungai itulah legenda dan sejarah Kesultanan Deli kemudian saling bersinggungan.

Berawal dari Kerajaan Deli Tua

Jauh sebelum Kota Medan berkembang seperti sekarang, pusat kekuasaan di kawasan ini berada di bagian hulu Sungai Deli, di wilayah yang kini dikenal sebagai Deli Tua, kawasan di sebelah selatan Kota Medan.

Deli Tua dikenal dalam berbagai sumber sejarah sebagai kawasan yang berkaitan dengan Kerajaan Aru atau Deli Tua, yang berkembang pada masa sebelum berdirinya Kesultanan Deli.

Jejak pertahanan kerajaan tersebut antara lain dikaitkan dengan keberadaan benteng tanah yang sangat luas, dilengkapi parit dan pertahanan alam berupa rumpun bambu.

Di kawasan inilah legenda Putri Hijau berkembang.

Putri Hijau digambarkan sebagai seorang perempuan cantik berdarah Karo yang menjadi tokoh sentral dalam cerita rakyat tentang Kerajaan Deli Tua.

Salah satu lokasi yang hingga kini dikaitkan dengan legenda tersebut adalah Pancur Gading, sebuah mata air yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat mandi sang Putri.

Airnya dikenal jernih dan sejuk serta dipercaya tidak pernah kering.

Perang Besar Deli Tua dan Aceh

Dalam legenda yang berkembang di tengah masyarakat, kecantikan Putri Hijau akhirnya terdengar hingga ke Aceh.

Sultan Aceh kemudian disebut datang untuk meminangnya.

Namun, lamaran itu ditolak.

Penolakan tersebut dikisahkan memicu peperangan besar. Pasukan Aceh mengepung benteng Kerajaan Deli Tua.

Dalam salah satu versi cerita rakyat, pasukan Aceh menggunakan siasat dengan menembakkan uang emas ke dalam benteng.

Prajurit Deli yang melihat emas tersebut kemudian berebut mengambilnya. Keadaan itu membuat pertahanan benteng menjadi kacau dan akhirnya dapat ditembus.

Di tengah situasi genting tersebut, legenda menyebut dua saudara Putri Hijau melakukan perubahan wujud.

Mambang Khayali dikisahkan menjelma menjadi sebuah meriam.

Meriam tersebut terus ditembakkan untuk menghadang pasukan musuh hingga larasnya menjadi panas dan akhirnya pecah menjadi dua.

Bagian ujung meriam itu dipercaya terlempar jauh ke kawasan pegunungan Tanah Karo.

Sementara bagian utamanya kemudian dikenal sebagai Meriam Puntung, yang kini menjadi salah satu benda yang sangat lekat dengan legenda Putri Hijau dan dirawat di kompleks Istana Maimun.

Sementara itu, saudara lainnya, Mambang Yazid, dikisahkan menjelma menjadi naga.

Dalam legenda tersebut, sang naga membawa Putri Hijau melarikan diri menyusuri Sungai Deli menuju hilir.

Dan dari sinilah kisah tentang Petisah mulai muncul.

Petisah, Tempat Peti-Peti Kerajaan Disahkan

Ketika melarikan diri, rombongan Putri Hijau tidak hanya membawa sang putri.

Harta kerajaan, termasuk benda-benda berharga, pusaka dan berbagai perlengkapan kerajaan, dikisahkan dimasukkan ke dalam sejumlah peti besar agar tidak dirampas oleh pasukan Aceh.

Rombongan kemudian menyusuri Sungai Deli ke arah hilir.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, di sebuah dataran yang berada agak ke utara dari Deli Tua, rombongan tersebut berhenti sejenak.

Wilayah itu dalam kisah tersebut dikaitkan dengan kawasan yang sekarang dikenal sebagai Medan Petisah, di sekitar aliran Sungai Deli.

Di tempat itulah Mambang Yazid disebut memeriksa sekaligus memberikan pengesahan terhadap isi peti-peti kerajaan sebelum semuanya kembali dihanyutkan mengikuti arus Sungai Deli menuju hilir dan akhirnya ke Selat Malaka.

Dari cerita lisan masyarakat itulah kemudian muncul ungkapan yang dikaitkan dengan "peti yang disahkan".

Dalam perkembangan bahasa secara lisan, ungkapan tersebut kemudian dipercaya mengalami perubahan menjadi Petisah.

Dengan demikian, dalam versi legenda tersebut, Petisah merupakan semacam titik pemeriksaan terakhir rombongan Kerajaan Deli Tua sebelum perjalanan dilanjutkan menuju hilir.

Tentu saja, kisah etimologis tersebut berada dalam ranah cerita rakyat dan perlu dibedakan dari penjelasan administratif maupun kajian sejarah-linguistik mengenai asal-usul nama Petisah.

Dari Deli Tua ke Labuhan Deli

Kerajaan Deli Tua kemudian memasuki masa keruntuhan.

Namun, cerita tentang Deli tidak berhenti di sana.

Beberapa abad kemudian, muncul Kesultanan Deli yang pusat kekuasaannya berkembang di wilayah hilir Sungai Deli.

Dalam historiografi Kesultanan Deli, Tuanku Panglima Gocah Pahlawan dikenal sebagai tokoh awal yang berkaitan dengan berdirinya Kesultanan Deli pada abad ke-17.

Pusat kekuasaan kemudian berkembang di kawasan Labuhan Deli, yang berada di hilir Sungai Deli.

Letaknya strategis karena berhubungan langsung dengan jalur perdagangan menuju Selat Malaka.

Pada masa awalnya, pusat pemerintahan kesultanan tentu belum berbentuk kompleks istana megah seperti yang dikenal masyarakat sekarang.

Kawasan tersebut berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan hubungan dengan berbagai wilayah di sekitar Selat Malaka.

Sungai Deli menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan pusat perdagangan di pesisir.

Kesultanan Deli Bergerak ke Pedalaman

Memasuki abad ke-19, perkembangan perkebunan tembakau Deli membawa perubahan besar.

Wilayah Medan dan sekitarnya berkembang pesat sebagai pusat ekonomi baru.

Kesultanan Deli pun semakin berkaitan dengan perkembangan kawasan perkotaan yang kemudian menjadi Kota Medan.

Pada masa transisi tersebut, kawasan Kota Matsum menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan pusat kekuasaan Kesultanan Deli.

Kawasan ini berada tidak jauh dari pusat kota Medan sekarang.

Jejak masa lalu tersebut masih tersisa dalam nama kawasan dan toponimi yang bertahan hingga kini, meskipun bentuk bangunan dan lingkungan aslinya telah banyak berubah akibat perkembangan kota.

Puncak Kejayaan dan Berdirinya Istana Maimun

Perkembangan ekonomi Kesultanan Deli mencapai masa penting ketika perkebunan tembakau Deli berkembang pesat.

Kemakmuran yang diperoleh dari hubungan ekonomi dan konsesi perkebunan kemudian ikut mendorong pembangunan berbagai fasilitas kesultanan.

Salah satu peninggalan paling terkenal adalah Istana Maimun.

Istana tersebut mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan kemudian diresmikan pada 18 Mei 1891 pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah.

Bangunannya memperlihatkan perpaduan berbagai pengaruh arsitektur, mulai dari Melayu dan Islam hingga unsur Eropa.

Istana Maimun kemudian menjadi salah satu ikon utama Kota Medan.

Di kompleks inilah legenda Putri Hijau kembali menemukan jejak visualnya melalui keberadaan Meriam Puntung, yang dalam tradisi masyarakat dikaitkan dengan Mambang Khayali.

Dengan demikian, sebuah legenda dari masa Kerajaan Deli Tua seolah kembali hadir di tengah simbol kejayaan Kesultanan Deli pada masa berikutnya.

Petisah dan Versi "Peti Basah"

Selain kisah tentang peti kerajaan, terdapat pula cerita lain mengenai asal-usul nama Petisah.

Dalam versi yang lebih dekat dengan perkembangan Kota Medan pada masa modern, kawasan Petisah dikaitkan dengan aktivitas perdagangan dan industri yang berkembang di sekitarnya.

Salah satu cerita lisan masyarakat menyebut keberadaan pabrik es Sari Petojo Es di sekitar Jalan S. Parman.

Pada masa itu, es balok berukuran besar diangkut menggunakan peti kayu. Ketika proses bongkar muat berlangsung, es yang mencair membuat kawasan sekitar menjadi basah.

Dari kondisi tersebut berkembang sebutan "Peti Basah", yang dalam cerita lisan kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi Petisah.

Versi ini pun lebih tepat ditempatkan sebagai cerita yang berkembang di masyarakat, bukan langsung dianggap sebagai satu-satunya asal-usul resmi nama Petisah.

Sungai Deli sebagai Benang Merah

Dari berbagai kisah tersebut, ada satu unsur yang selalu muncul: Sungai Deli.

Sungai ini menjadi jalur yang menghubungkan kawasan hulu dan hilir.

Dalam legenda Putri Hijau, Sungai Deli menjadi jalur pelarian dari Deli Tua menuju Selat Malaka.

Dalam perkembangan Kesultanan Deli, kawasan hilir sungai menjadi bagian penting dari pusat kekuasaan dan perdagangan.

Kemudian, seiring pertumbuhan kota, kawasan di sekitar aliran sungai berkembang menjadi bagian dari Kota Medan modern.

Karena itu, kisah tentang Petisah tidak sekadar berbicara tentang sebuah nama kawasan.

Ia membuka jendela untuk melihat bagaimana sebuah wilayah tumbuh melalui pertemuan antara legenda, sejarah, perdagangan, sungai dan perkembangan kota.

Dari benteng tanah Deli Tua, kisah Putri Hijau dan Meriam Puntung, perjalanan menuju hilir, berkembangnya Labuhan Deli, masa kejayaan Kesultanan Deli hingga berdirinya Istana Maimun, semuanya memiliki satu benang merah: Sungai Deli.

Legenda mungkin tidak selalu dapat dibuktikan sebagai fakta sejarah.

Namun, legenda tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat.

Di sanalah cerita diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan di sepanjang Sungai Deli, antara fakta sejarah dan cerita rakyat, nama Petisah terus hidup sebagai bagian dari perjalanan panjang Kota Medan.


Share:
Komentar

Berita Terkini